Ketika VAR Tidak Membantu Peru

Berita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Ketika VAR Tidak Membantu Peru

Video Assistant Referee sejauh ini sudah “memberikan” dua penalti di Piala Dunia: kepada Perancis dan Peru. Sementara Antonine Griezmann mampu mengonversi penalti untuk Perancis menjadi gol, Christian Cueva gagal memaksimalkan keuntungan yang diberikan teknologi. Kegagalan Cueva dalam pertandingan melawan Denmark (Grup C) itu semakin terasa menyakitkan karena Peru pada akhirnya kalah.

Momen VAR terjadi ketika kaki Christian Cueva yang sedang berusaha mengontrol bola, dijegal oleh Yussuf Yurary Poulsen pada menit ke-43. Cueva jatuh tetapi wasit Bakary Gassama berada cukup jauh dari insiden. Bola yang berhasil direbut oleh Yurary dan segera dibuang jauh-jauh dari kotak penalti Denmark.

Ketika bola berada di luar lapangan, wasit asal Gambia itu menghentikan pertandingan sejenak untuk melihat insiden antara Cueva dan Yurary melalui rekaman video. Sang pengadil lalu balik ke lapangan dan menunjuk ke arah kotak penalti Denmark. Penalti untuk Peru.

Cueva sendiri yang maju sebagai algojo. Alih-alih menyarangkan bola ke gawang, pemain bernomor punggung 8 itu malah melambungkan si kulit bundar ke tribun penonton. Skor tidak berubah, masih 0-0.

Sebelumnya, Cueva selalu berhasil mengeksekusi penalti. Sudah tiga gol yang dicetaknya untuk Peru melalui titik putih. Namun pada pertandingan kontra Denmark, dirinya gagal untuk pertama kali.

Kendati demikian, para pemain Peru tidak mengendurkan serangan. Tercatat ada 17 kali tendangan dan tujuh di antaranya mengarah ke gawang. Peru pun unggul dalam hal penguasaan bola dengan 51 persen. Namun Andreas Christensen dan kawan-kawan sangat baik dalam bertahan. Sekalinya para bek kecolongan, toh masih ada Kasper Schmeichel selaku penjaga gawang yang selalu mementahkan upaya anak-anak asuh Ricardo Gareca.

Tentang pertahanan ini rupanya yang menjadi pembeda antara dua kesebelasan. Lewat skema serangan balik yang dikomandoi Christian Eriksen, Denmark akhirnya memecah kebuntuan di menit ke-59—lewat Yurary Poulsen yang kaki kirinya begitu tenang dalam menendang meski dalam sudut yang relatif sempit.

Sebelum gol itu tercipta, Eriksen punya ruang yang sangat luas untuk mengkreasikan bola. Tidak hanya itu, Eriksen juga punya waktu yang cukup untuk berpikir karena memang tiada satu pun pemain lawan yang mengganggu pergerakan pemain Tottenham itu. Peru dihadapkan pada situasi sulit ketika tiga orang pemain Denmark datang dan salah satunya mengendalikan bola. Sialnya, Peru hanya menyisakan tiga orang pemain di belakang, sehingga terjadilah situasi tiga melawan tiga.

Dalam situasi yang menegangkan itu, Eriksen dengan tenang mengalirkan bola ke sisi kirinya. Bola lantas diterima dengan baik oleh Yurary yang beberapa detik kemudian mengonversinya menjadi gol kemenangan. Sang pencetak gol melakukan selebrasi di hadapan para pendukung Denmark yang hadir langsung di Mordovia Arena. Yurary kemudian dipeluk dan dicium oleh rekan-rekannya dengan penuh sukacita.

Peru boleh unggul secara statistik, Peru juga boleh mendapat hadiah penalti dari VAR, tapi faktanya Peru tetap berduka. Denmark mungkin lebih sering diserang, Denmark mungkin jadi korban VAR, tapi faktanya malah Denmark keluar sebagai pemenang. Partai antara Peru kontra Denmark adalah bukti bahwa nasib suatu kesebelasan tetap bergantung kepada para pemain masing-masing, bukan VAR.

Komentar