Messi, Abidal, dan Dapur Barcelona yang Berantakan

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Messi, Abidal, dan Dapur Barcelona yang Berantakan

Apabila musim 2019/20 menjadi kampanye terakhir Lionel Messi bersama FC Barcelona, hanya ada satu nama yang bisa disalahkan: Eric Abidal. Lewat Instagarm, Messi melempar kritik pada mantan rekan satu timnya yang ditunjuk sebagai Direktur Olahraga Barcelona sejak Juli 2018. “Saya sebenarnya tidak suka melakukan hal seperti ini. Tiap orang punya tugas masing-masing dan bertanggungjawab atas keputusan yang mereka ambil. Termasuk para pemain di dalam ataupun luar lapangan. Kami [para pemain] merupakan orang pertama yang sadar bahwa permainan di lapangan berjalan tidak dengan baik”.

“Mereka yang telah diberikan kepercayaan untuk mengurus hal-hal teknis juga seharusnya menjalankan tugas dan bertanggungjawab atas keputusan yang telah diambil. Andai Anda ingin menyalahkan pemain, sebut namanya. Jika tidak, itu sama saja mencoreng semua pemain,” tulis Messi di Instastory merespon ucapan Abidal yang menyalahkan pemain atas pemecatan Ernesto Valverde.

Messi mengunggah jepretan wawancara media Katalunya, Sport, dengan Abidal bersama dengan respon yang ia berikan. Dalam wawancara itu, Abidal menjelaskan proses pemecatan Valverde. Bagaimana para petinggi klub sebenarnya sudah mencari pengganti sebelum musim 2019/20 dimulai. Bagaimana partai El Clasico di Desember 2019 akhirnya jadi akhir dari masa kepelatihan Valverde. Juga bagaimana dirinya melihat ada yang salah dengan gaya permainan tim dan cara komunikasi Valverde dengan pemainnya.

“Banyak pemain tak senang dengan Valverde. Kondisi di ruang ganti memang terlihat tentram, namun sebagai mantan pemain saya tahu bahwa ada yang salah. Akhirnya keputusan diambil, Valverde harus pergi,” kata Abidal. Poin terakhir di mana Abidal menjadikan hubungan pemain dengan Valverde sebagai alasan adalah hal yang dipermasalahkan oleh Messi.

Pasalnya meskipun bermain di bawah standard mereka, ruang ganti Barcelona terlihat tentram. Sama seperti yang dikatakan Abidal. Ia hanya melihat ada sesuatu yang salah menggunakan insting sebagai mantan pemain. Padahal menurut pemain Barcelona seperti Ivan Rakitic, satu-satunya pihak yang tak memiliki hubungan baik dengan Valverde adalah direksi klub. Secara terbuka gelandang asal Kroasia itu mengatakan bahwa perlakuan direksi kepada Valverde dan pegawai tim lainnya adalah alasan utama ia ingin hengkang dari Camp Nou.

Rakitic yang beberapa kali diisukan ingin pergi mengeluarkan pengakuan yang berlawanan dengan Abidal. Sementara Abidal tidak menyebut siapa pemain yang ia lihat tidak senang dengan Valverde. Wajar jika Messi melihat ucapan Abidal itu sebagai cara direksi klub untuk cuci tangan dan melepas tanggung jawab atas kemunduran Barcelona.

Mungkin berlebihan mengatakan Barcelona mengalami kemunduran. Musim 2018/2019 merupakan tahun ke-tujuh mereka tanpa Pep Guardiola. Tidak ada yang bisa membantah bahwa Pep memberikan masa-masa terbaik Barcelona dengan memberikan 14 piala untuk Blaugrana. Termasuk tiga gelar La Liga dan dua Liga Champions UEFA. Tapi setelah ditinggal Pep, Barcelona masih bisa mengangkat lima gelar liga dan kembali menjadi tim terbaik Eropa di 2014/15. Mengangkat total 15 piala dalam tujuh tahun, jelas bukan sesuatu yang buruk. Tapi, kondisi dapur Barcelona setelah Pep pergi memang berantakan.

Sandro Rosell yang terpilih sebagai pengganti Juan Laporta –sosok yang menunjuk Pep sebagai Kepala Pelatih Barcelona- di kursi kepresidenan Blaugrana terjerat kasus penyalahgunaan dana dalam transfer Neymar dan juga masalah cuci uang. Josep Maria Bartomeu yang naik menggantikan Rosell mendepak direktur olahraga klub, Andoni Zubizarreta, salah satu kunci sukses Barcelona di masa transisi dari Pep, Tito Vilanova, Tata Martino, hingga Luis Enrique. Sementara Robert Fernandez yang menempati posisi Zubizarreta menjadi biang dari pemborosan Barcelona. Sekalipun nama-nama yang didatangkan sekelas Philippe Coutinho dan Ousmane Dembele, sedikit pemain pilihan Fernandez bisa sesuai ekspektasi

Tanpa memiliki pengalaman, Fernandez terlihat menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah petinggi klub. Fokus ke nama-nama besar yang memiliki nilai jual. Ia seperti kurang memperhatikan kebutuhan tim, tidak bisa jadi penghubung antara direksi, pelatih, dan pemain seperti direktur olahraga seharusnya. Abidal juga sama, tak memiliki pengalaman, dan lebih mengutamakan kepentingan direksi daripada tim.

VIDEO: Cult Hero - Eric Abidal



Kehadiran Antoine Griezmann adalah contoh paling nyata bagaimana Abidal menutup telinga kepada tim dan lebih mengutamakan keinginan para petinggi klub. Griezmann sebenarnya sudah lama diincar Barcelona, sejak Fernandez masih menjabat sebagai direktur olahraga juga ada nama pemain Prancis itu dalam daftar belanja klub. Namun, Messi dan Luis Suarez sebenarnya kurang setuju dengan pembelian Griezmann. Mereka lebih menginginkan Neymar untuk kembali ke Barcelona. Akan tetapi, Griezmann tetap dikejar dan akhirnya berhasil mereka datangkan.

Menurut laporan Guardian, Messi juga sempat meminta klub untuk mendekati Xavi Hernandez apabila ingin mendepak Valverde. Akan tetapi Abidal mengelak dan mengatakan pengalaman Xavi belum cukup untuk menangani Barcelona. Seseorang yang tidak memiliki jam terbang sebagai direktur olahraga dan menjabat di Barcelona, menolak mendekati legenda klub karena masalah pengalaman. Sekalipun Xavi secara terbuka merasa dirinya belum layak untuk kembali ke Barcelona, alasan Abidal jelas merupakan sebuah blunder.

Nama Eric Abidal selalu meninggalkan memori manis untuk suporter Barcelona. Ia adalah salah satu dari kunci kesuksesan klub di era Pep Guardiola. Barcelona selalu ada bagi dirinya saat ia berjuang melawan kanker. Bahkan begitu cintanya Barcelona kepada Abidal, Joan Laporta menggunakan nama mantan bek Prancis itu sebagai alat kampanye di 2015. Mengatakan bahwa ia akan memulangkan salah satu pemain idola Camp Nou jika kembali diangkat jadi presiden klub.

Laporta gagal naik, tapi Abidal tetap mendapat tempat yang dijanjikan sebagai direktur olahraga karena pihak klub gagal meyakinkan mantan kapten Barcelona, Carles Puyol, untuk mengisi posisi itu. Salah satu tugas Abidal adalah menjaga komunikasi dan keharmonisan tim. Pep Segura, mantan General Manajer Barcelona, menjelaskan bahwa Abidal ditunjuk sebagai direktur olahraga klub karena punya kedekatan dengan para pemain seperti Messi dan Gerard Pique. Tapi kemudian dia justru berselisih dengan Messi.

Messi bukan tidak berdosa dalam kasus ini. Keputusan Sang Mesias untuk membalas ucapan Abidal di ranah publik adalah alasan utama mengapa pertikaian mereka jadi pembicaraan. Mungkin ini adalah puncak dari rasa gerah Messi kepada Barcelona.

https://twitter.com/panditfootball/status/1225056761956184066">

Sebelumnya ia sempat menolak kontrak seumur hidup yang ditawarkan oleh pihak klub. Pihak klub juga gagal untuk membentuk tim sesuai dengan keinginan Messi. Mereka tidak mengejar Neymar tapi tetap memaksakan kehadiran Griezmann. Tidak mendekati Xavi tapi tetap memecat Valverde. Pada akhirnya setelah mendengar Abidal menyalahkan pemain atas keputusan direksi, Messi meledak.

Membawa masalah yang seharusnya bisa diselesaikan secara internal menjadi konsumsi publik seakan menjadi senjata terakhir Messi untuk memastikan komitmen klub kepada dirinya. Dalam kontrak Messi, Barcelona mengizinkan La Pulga untuk pergi di akhir musim 2019/20 atau setahun sebelum perjanjian itu berakhir, gratis! Pihak klub tentu tak mau pemain terbaik mereka, sosok yang dihargai dinilai CIES Observatory memiliki harga sekitar 120 hingga 150 juta Euro, pergi secara cuma-cuma. Bartomeu pun langsung mengadakan pertemuan dengan Abidal setelah masalah ini diketahui publik.

Menurut rumor yang beredar, Abidal berpeluang ditendang dari jabatannya, demi mempertahankan Messi. Jika Abidal pergi, masalah di dapur Barcelona mungkin tidak langsung berhenti. Seperti kata Rakitic, masalah utama yang muncul saat masa kepelatihan Valverde adalah perlakuan direksi. Abidal hanya satu bagian kecil dari direksi tersebut. Bagian yang sudah beberapa kali mengalami pergantian personil. Ia hanya anggota dari bagian teknikal, bukan manajemen. Jadi masalah akan tetap ada. Tapi setidaknya, akan ada sosok yang bisa disalahkan apabila pihak klub gagal mempertahankan Messi: Eric Abidal!

Komentar