Dua Babak Manchester United

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Dua Babak Manchester United

Melihat Manchester United musim ini, kita bisa membaginya ke dalam tiga babak: Babak José Mourinho sebagai manajer, babak Ole Gunnar Solskjær sebagai kerteker, dan babak Solskjær sebagai manajer permanen. Namun khusus babak Solskjær sebagai manajer permanen, ternyata kita bisa membaginya lagi kepada dua babak yang sangat kentara perbedaan kualitasnya: babak pertama dan babak kedua.

Solskjær sudah menghabiskan tujuh pertandingan liga (ditambah dua lagi di Liga Champions UEFA) sebagai manajer permanen. Dari tujuh pertandingan liga itu, United menang dua kali, kalah tiga kali, dan imbang dua kali. Mereka mencetak tujuh gol dan kebobolan 12 kali. Mereka memiliki masalah serius di lini belakang dan lini depan.

Dengan hanya bisa mencetak tujuh gol dari tujuh pertandingan, United berada di peringkat kelima dari bawah soal jumlah gol (angkanya sama dengan Arsenal, Newcastle United, dan West Ham United) dalam tujuh pertandingan terakhir. Mereka hanya lebih baik dari Fulham, Cardiff City, Huddersfield Town, dan Brighton & Hove Albion.

Mencetak rata-rata satu gol di satu pertandingan adalah masalah serius bagi kesebelasan sekelas Manchester United. Dari tujuh gol itu, sebenarnya mereka memiliki expected goals (xG) sebesar 9,56 (peringkat ke-10 dari semua kesebelasan Premier League di rentang waktu serupa).

Eh, expected goals (xG)? Apaan, tuh?

Singkatnya xG adalah statistik turunan yang mencoba menunjukkan kualitas sebuah tembakan. Semakin sulit atau jauh tembakan tersebut, nilai xG-nya akan semakin kecil. Begitu juga sebaliknya.

Gol kemenangan Manchester City yang dicetak Vincent Kompany dari jarak jauh saat melawan Leicester City (07/05) misalnya, hanya memiliki xG sebesar 0,02; artinya kualitas tembakannya kecil sekali untuk menghasilkan gol.

Sulit Menembus Kotak Penalti Lawan

Dari tujuh gol tersebut, United hanya mencetak satu gol yang dihasilkan dari tendangan luar kotak penalti. Padahal United berhasil mencatatkan 19 clear cut chances (peluang yang benar-benar bersih, artinya tembakan tersebut tidak terblok atau tidak melenceng sangat jauh) dari luar kotak penalti, dengan enam di antaranya saat melawan Huddersfield (05/05). Paul Pogba juga berkontribusi dengan sembilan di antaranya.

Ini adalah angka kontribusi terbesar dari seluruh peluang United. Lebih besar daripada umpan silang (10), sepakan sudut (tujuh), dan counter-attack (tujuh).

Banyaknya usaha menembak dari luar kotak penalti menandakan United mengalami kebuntuan dalam menembus lini pertahanan lawan. Padahal dari tujuh pertandingan tersebut, United mampu mendominasi empat di antaranya.

Namun ini tak lantas menunjukkan jika United sulit melakukan progres sampai kotak penalti lawan, karena kenyataannya mereka mencatatkan 165 sentuhan di dalam kotak penalti lawan (angka terbanyak kedelapan dari semua kesebelasan di liga) dalam rentang waktu tersebut.

Sayangnya jumlah sentuhan itu tak sebanding dengan angka tembakan. United hanya mampu mencatatkan 45 tembakan dari dalam kotak penalti lawan (terburuk kedelapan). Bournemouth, Crystal Palace, Southampton, dan Watford saja mampu mencatatkan angka lebih baik daripada United.

Pada akhirnya United hanya mampu mencatatkan 26 shots on target dari total 89 tembakan. Dengan akurasi hanya 29,2%, United menjadi yang terburuk kelima di liga dalam tujuh pertandingan terakhir.

Apalagi banyak tembakan mereka juga berasal dari luar kotak penalti, maka wajar kalau angka xG mereka (yang sebenarnya lebih besar daripada gol mereka) benar-benar mencerminkan buruknya kualitas penyerangan mereka.


Simak prediksi dan penerawangan "Mbah" Rochi Putiray soal Liga 1 Indonesia 2019:


United Selalu Mengalami Penurunan Performa di Babak Kedua

Selain kesulitan menembus kotak penalti lawan, United juga memiliki masalah sistematis yang bisa dipetakan menjadi dua bagian yang cukup bisa menjelaskan penyebabnya, yaitu babak pertama dan babak kedua.

Dari tujuh pertandingan terakhir mereka di liga, United kebobolan 12 kali, dengan delapan di antaranya adalah mereka kebobolan di babak kedua. Mayoritas (18) shots on target yang mereka terima (33) juga terjadi di babak kedua.

Bukan hanya soal pertahanan, statistik menunjukkan bahwa United menyerang lebih baik di babak pertama daripada di babak kedua, terutama jika kita mengesampingkan anomali pada pertandingan United melawan Huddersfield (di mana United bermain lebih ofensif di babak kedua).

Selain gol (lima gol di babak pertama banding dua gol di babak kedua), United mengalami penurunan dalam hal tembakan per pertandingan (5,67 banding 4,83) dan operan per menit (17,55 banding 16,82) dari babak pertama ke babak kedua.

Semua statistik di atas membuat kami mengasumsikan jika United bermain lebih buruk di babak kedua, terutama selama Solskjær bertindak sebagai manajer permanen. Mereka kebobolan dan ditembak tepat sasaran lebih banyak di babak kedua. Mereka menembak dan mengoper lebih sedikit di babak kedua.

Para pemain United sepertinya tak ada dalam kondisi fisik prima. Mereka lebih mudah lelah sehingga tidak bisa tampil garang di babak kedua. Hal ini ditunjukkan juga dari distance covered United dari awal musim sampai akhir Maret 2019 yang hanya 3.240,6 km – hanya Brighton dan Cardiff yang lari lebih sedikit.

Itu lah kenapa anggapan banyak orang jika selama ini United bermain lebih baik di babak pertama daripada di babak kedua, ternyata benar demikian (setidaknya dari statistik). Itu juga yang menjadi alasan kenapa Mourinho lebih senang bermain dengan tempo lambat, karena Mourinho sadar kesebelasannya tidak mumpuni secara fisik; dan para pendukung malah membencinya karena ini.

Kesebelasan Papan Atas Lainnya Tak Memiliki Masalah Ini

Pertanyaannya, apakah itu wajar? Yah, namanya juga bermain dua babak; babak kedua pasti lebih lelah, dong?

Ternyata jika dibandingkan dengan Manchester City dan Liverpool, permainan United memang mencerminkan jika mereka kelelahan. Mayoritas statistik City dan Liverpool mengalami peningkatan dari babak pertama ke babak kedua.

City mencatatkan 0,99 xG per pertandingan pada babak pertama. Di babak kedua angkanya meningkat jadi 1,16. Begitu juga dengan tembakan per pertandingan (dari 7,64 ke 9,09) dan operan per menit (18,03 ke 18,82).

Sementara untuk Liverpool, mereka mengalami peningkatan pada xG per pertandingan (0,86 di babak pertama menuju 1,09 di babak kedua) dan tembakan per pertandingan (6,63 ke 8,16).

Jika Man City dan Liverpool dianggap terlalu superior musim ini, maka mari kita lihat ke Arsenal yang dalam tujuh pertandingan terakhir tampil hampir identik dengan Man United, yaitu mencetak 7 gol (sama dengan United) dan kebobolan 11 kali (lebih sedikit satu daripada United).

Kecuali jumlah operan per menit (17,65 di babak pertama menuju 17,30 di babak kedua), The Gunners mengalami peningkatan—meski minor—dalam hal xG per pertandingan (0,72 ke 0,79) dan tembakan per pertandingan (5,67 ke 5,72).

Menantikan Pra-Musim

Mudah bagi para pandit mengambil kesimpulan penurunan performa United ini dengan mengambinghitamkan beberapa pemain.

Untuk pertahanan, pemain yang menjadi sasaran kambing hitam biasanya adalah David De Gea, Ashley Young, atau Chris Smalling. Sementara dari aspek penyerangan, Paul Pogba—yang digosipkan ingin pindah ke Real Madrid—menjadi korbannya.

Padahal jika melihat statistik selama Solskjær menjadi manajer permanen, Pogba adalah pemain terbaik di antara pemain-pemain United lainnya dengan 15 tembakan yang enam di antaranya dari dalam kotak penalti lawan, 14 chances created (angka terbaik ketujuh di antara semua pemain di liga dalam rentang waktu serupa), dan dua gol (meski keduanya dari sepakan penalti).

Semua analisis di atas menunjukkan jika secara skuat keseluruhan (bukan hanya individual), United memang tidak berada pada kualitas (setidaknya fisik) yang seharusnya. Mereka mudah kelelahan sehingga banyak statistik mereka yang mengalami penurunan dari babak pertama ke babak kedua.

Masalah kebugaran ini tak bisa hanya diselesaikan dalam satu-dua pekan, melainkan melalui proses pra-musim yang panjang. Maka Solskjær mungkin bersyukur karena ini sudah di akhir musim.

Jika Solskjær mampu menyelesaikan masalah ini, bukan tidak mungkin performa United akan mengalami peningkatan pada musim depan, dengan atau tanpa bongkar-pasang pemain dan jajaran direksi pada jendela transfer berikutnya. Tidak bermain di Liga Champions musim depan juga mungkin akan membantu United mengatasi masalah serius ini.


Baca analisis selengkapnya di sini.

Komentar