Rahasia Ole Gunnar Solskjaer

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Rahasia Ole Gunnar Solskjaer

Menang 5-1 melawan Cardiff City (Tandang), menang 3-1 melawan Huddersfield Town (Kandang), menang 4-1 melawan Bournemouth (K), menang 2-0 melawan Newcastle United (T), dan menang 2-0 melawan Reading (K). Melihat urutan kemenangan di atas, seharusnya nama Manchester United yang keluar sebagai pemenang tak mengagetkan.

Bahkan level tak mengagetkannya mungkin serupa jika kita mengganti “Manchester United” dengan, misalnya, “Manchester City”, “Liverpool”, “Tottenham Hotspur”, “Arsenal”, “Chelsea”, sampai “Everton”.

Kalimat pertama pada paragraf pertama di atas sebetulnya tak perlu dijelaskan lagi. Manchester United adalah kesebelasan dengan pemain-pemain top. Masak sih menang melawan Cardiff, Huddersfield, Bournemouth, Newcastle, dan Reading saja kaget?

Tidak, tidak, tidak. Ini tetap saja anomali. Sejak José Mourinho dipecat ketika Man United habis kalah 1-3 di kandang Liverpool (yang seharusnya wajar mengingat itu di Anfield, Liverpool sedang bagus-bagusnya, dan juga saat itu The Reds belum terkalahkan), Setan Merah seolah berubah di tangan Ole Gunnar Solskjær.

Ketika masih berstatus sebagai pemain Man United, Solskjær bermain dalam 366 pertandingan selama 11 tahun (1996 sampai 2007), 150 di antaranya sebagai pemain pengganti. Selama itu dia mencetak 126 gol; 29 sebagai pemain pengganti, plus 33 golnya di 15 menit terakhir pertandingan. Tak heran julukan Super Sub melekat pada diri Solskjær.

Maka ketika dia menggantikan Mourinho, bahkan dampak super sub-nya langsung terasa. Lima kemenangan di pertandingan pertama Solskjær sebagai manajer adalah rekor yang sama dengan Sir Matt Busby pada 1946.

Saat itu United-nya Busby menang 2-1 melawan Grimsby Town (K), 3-0 melawan Chelsea (T), 3-1 melawan Charlton Athletic (T), 5-0 melawan Liverpool (K), dan 1-0 melawan Middlesbrough (K), namun akhirnya imbang 1-1 melawan Chelsea (K) serta kalah 2-3 melawan Stoke City (T).

Jika Solskjær mampu menang melawan Spurs di laga berikutnya, maka dia resmi mengangkangi sang legenda Setan Merah tersebut.

Membandingkan Angka-angka Antara Mourinho dan Solskjær

Menghakimi Mourinho atau Solskjær (atau siapa saja) dengan hanya melihat rentetan hasil pertandingan adalah cara yang kurang elegan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada lima kesebelasan di atas, mereka hanya kesebelasan yang berada tidak lebih dari peringkat ke-12 Liga Primer Inggris (Reading bahkan berada dua strip dari juru kunci Divisi Championship). Apa sulitnya menang melawan mereka?

Hal yang perlu diperjelas, lima kemenangan United-nya Solskjær menghadapi lawan-lawan di atas bukan sekadar catatan skor dan para pencetaknya yang tertera di LiveScore.

Sepakbola lebih dari sekadar skor akhir. Permainan United di bawah asuhan Solskjær jelas lebih baik dibandingkan dengan saat Mourinho masih menjadi manajer. “Lebih baik” di sini bukan hanya soal selera, tapi bisa dibuktikan dengan statistik.

Baca juga: Super Sub, Baby-Face, Pahlawan Tanpa Pamrih

Di bawah asuhan Mourinho, United menguasai bola 53,2% dengan 47,4% di final third. Sementara di bawah Ole, United menguasai 67,9% (terbaik kedua setelah Chelsea dalam jangka waktu serupa) dengan 68,4% di final third.

Bukan hanya penguasaan bola, persentase kesuksesan operan United juga naik dari 81,9% menjadi 86,8%, apalagi kesuksesan operan di final third (78,1% banding 83,5%). Penguasaan bola dan operan sukses ini tertular kepada penciptaan peluang: Setan Merah di bawah Mourinho menciptakan peluang setiap 7,5 menit sekali, di bawah Solskjær setiap 6,3 menit sekali (terbaik di antara semua kesebelasan).

Secara umum, sepakbola menghibur juga adalah yang banyak peluang dan tembakannya. United di bawah José mencatatkan 12,7 tembakan per laga, di bawah Ole 15 (terbaik). Begitu juga yang on target dengan 5,8 per laga (terbaik kedua saat masih bersama Mourinho) banding 8,5 (terbaik).

Hal ini pastinya direfleksikan oleh jumlah gol. United bersama Mourinho musim ini berhasil menciptakan 1,7 gol per laga. Sementara bersama Solskjær, Setan Merah menciptakan 3,5 gol per laga (terbaik kedua di bawah Spurs, di atas Liverpool).

Sepakbola menyerang adalah salah satu hiburan yang paling umum bisa kita terima —meski sepakbola bertahan juga bukan dosa besar. Tidak heran para pendukung Setan Merah lebih terhibur saat ini dibandingkan saat United masih ditangani Mourinho.

Di sisi lain, soal bertahan, United-nya Mourinho ditembak 14 kali per laga, sementara Solskjær ditembak 10 per laga (terlihat banyak, tapi ternyata itu statsitik terbaik keempat dari semua kesebelasan).

Setan Merah bersama José juga kebobolan 1,7 per laga (terburuk kelima), Ole kebobolan 0,75 per laga (terbaik keempat). Mereka juga melakukan 13 kali defensive error (2 menjadi gol) bersama José. Sejauh ini belum ada error bersama Ole.

Apa artinya angka-angka di atas? Secara tidak langsung itu mencerminkan cara bermain United. Namun kembali, kita harus melihat lawannya.

Faktor Non-Teknis dan Dukungan Para Staf Pelatih

Secara menyerang maupun bertahan, statistik menunjukkan United di bawah Solskjær mengalami kemajuan jika dibandingkan dengan Mourinho. Dengan kemenangan 5-1 di pertandingan perdananya bahkan Solskjær langsung mendapatkan sorotan.

Terakhir kali Man United berhasil mencetak lima gol di liga adalah ketika mereka bermain imbang 5-5 melawan West Bromwich Albion (T) di laga terakhir Sir Alex Ferguson pada 19 Mei 2013. Kemudian dalam 2,5 tahun bersama Mourinho, United juga belum pernah mencetak lebih dari 10 gol dalam tiga laga berturut-turut. Jadi ini memang start bagus bagi Solskjær.

Apa yang Solskjær lakukan sebenarnya sederhana. Dia membebaskan para pemainnya, seperti yang dia ucapkan pada konferensi pers pertamanya: “[agar para pemain] menjadi anak-anak lagi, yang cinta bermain sepakbola.”

Solskjær sejauh ini berhasil mendapatkan yang terbaik dari anak-anak asuhnya, terutama Paul Pogba yang “disetrap” Mourinho.

Ketika ditanya apakah Ole akan membangun permainan United di sekitar Pogba, dia menjawab formalitas: “Paul adalah salah satu pemain top dunia.” Pogba menunjukkan demikian dengan mencetak 4 gol dan 4 asis.

Bukan hanya Pogba, para pemain bertanding dengan lebih banyak kebebasan. Itu membuat mereka lebih bahagia. Menurut laporan The Telegraph, Solskjær berbicara individual dengan sebanyak mungkin pemain untuk “menyuntikkan positivisme” dan menaikkan moral mereka.

Lalu apa dampak hal-hal non-teknis ini bagi taktik di atas lapangan? Sulit dijelaskan, namun itu bisa terlihat dari ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan pada akhirnya permainan anak-anak asuh Solskjær di atas lapangan.

Man United bersama Solskjær bermain lebih terbuka. Semua pemain dipersilakan naik ke depan membantu serangan. Kemudian sadar jika mereka tak begitu baik dalam bertahan (terlihat dari angka-angka sejak era Mourinho musim ini), mereka bermain menekan ketika kehilangan bola, kadang hanya menyisakan dua sampai tiga pemain di belakang.

Lubang ini, sejauh ini, jarang tereksploitasi, mungkin karena faktor kualitas lawan. Salah satu kelemahan United mungkin ketika menghadapi situasi set piece. Mereka kebobolan tiga kali hasil dari situsi bola mati, baik langsung atau tak langsung.

Namun secara prinsip, Solskjær sudah mengatur United untuk bermain “sesuai kodratnya”, yaitu menyerang. Alasannya: karena mereka tak terlalu baik jika memainkan sepakbola bertahan.

Baca juga: Menangani Man United Tidak Semudah Itu, Ferguso(n)

Selain faktor di atas, kebiasaan Solskjær juga terus dia lakukan dari pinggir lapangan. Sedari menjadi pemain, jika sedang di bench, Solskjær senang menganalisis lawannya secara mendetail, memerhatikan pergerakan lawan, dan melihat celah di pertahanan lawan: “Aku menganalisis full-back dan bek [tengah], melihat apa yang salah dari mereka.” Makanya Solskjær bisa menjadi super sub.

Kembalinya Mike Phelan —yang dianggap otak taktis di balik kesuksesan Ferguson dahulu— sebagai first-team coach, serta peran Michael Carrick, Keran McKenna, Mark Dempsey (ketiganya sebagai asisten pelatih), Nicky Butt (direktur akademi), dan Paul Brand (head of first-team analysis) juga banyak membantu United dan Solskjær dari belakang layar.

Kredit tak hanya diberikan untuk Solskjær. Semua pemain dan staf pelatih berperan.

Bukan Solskjær yang Bagus, Tapi Mourinho yang Jelek

Intinya lima kemenangan beruntun Manchester United mereka capai dengan hanya menghadapi kesebelasan papan tengah dan papan bawah. Seharusnya itu tak mengagetkan untuk kesebelasan sekelas Man United.

Ole Gunnar Solskjær bisa dibilang beruntung dan banyak terbantu karena mengawali karier kepelatihannya di United dengan jadwal relatif ringan, sehingga dia bisa banyak bereksperimen dan membebaskan para pemainnya.

United dianggap bermain baik pada semua pertandingan, kecuali ketika menang 2-0 melawan Reading di Piala FA. Tantangan sesungguhnya bagi mereka baru akan hadir di Liga Primer Inggris pekan ke-22 ketika bertandang ke Wembley untuk menghadapi Tottenham Hotspur (13/01 malam WIB).

Setelah ini United dijadwalkan menjalani (sedikit) liburan dan latihan di Dubai, Uni Emirat Arab, berbarengan dengan penyelenggaraan Piala Asia 2019 di sana. “Kami akan memiliki beberapa hari untuk pemulihan [di Dubai] dan berlatih keras,” kata Solskjær kepada BT Sport.

“Jika penampilan seperti itu (melawan Reading) diulangi di Wembley (melawan Spurs), kami tak akan mendapatkan nirbobol,” lanjutnya.

Kalau United berhasil mengatasi Spurs, ujian sesungguhnya bagi Solskjær mungkin baru akan datang setelah pertengahan Februari: Paris Saint-Germain (K), Liverpool (K), Crystal Palace (T), Southampton (K), PSG (T), Arsenal (T), dan Manchester City (K).

Di situ baru kita bisa melihat seperti apa kualitas Solskjær sesungguhnya. Sejauh ini —tanpa bermaksud mengecilkan Solskjær, United maupun lima lawan mereka sejak José Mourinho dipecat— Solskjær belum bisa dikatakan bagus; yang bagus itu Manchester United-nya, para pemainnya.

Jadi, apa rahasia kesuksesan Solskjær sejauh ini? Tidak ada. Rahasianya hanya ada di Manchester United itu sendiri sebagai kesebelasan.

Menyebut Solskjær bagus memang terlalu dini. Sebaliknya, hasil lima laga di atas sejauh ini justru menunjukkan kalau Mourinho itu jelek, atau setidaknya tak bisa memaksimalkan kualitas Man United yang sebenarnya bagus ini. Kita pun diingatkan kembali kalau para pemain (kecuali mungkin bek) Man United itu kelas dunia semua.

Komentar