Menangani Man United Tidak Semudah Itu, Ferguso(n)

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menangani Man United Tidak Semudah Itu, Ferguso(n)

Fans Manchester United mungkin lega atas berita yang diumumkan kesebelasan kesayangannya pada Selasa (18/12). United mengumumkan bahwa José Mourinho resmi tak lagi menukangi kesebelasan. Namun Mourinho boleh jadi bukan pangkal permasalahan United sebenarnya.

Sebagai sebuah kesebelasan, pergantian pelatih bisa menghembuskan angin perubahan. United saat ini tengah duduk di peringkat keenam Liga Primer Inggris dengan terpaut 19 poin dari pemuncak klasemen, Liverpool, serta berselisih 11 poin dengan Chelsea, yang berada di peringkat keempat —batas zona Liga Champions.

Di Liga Champions musim ini, United berhasil melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi Paris Saint-Germain. Mendepak Mou diharapkan bisa meroketkan United ke empat besar di akhir musim dan melangkah sejauh-jauhnya di Liga Champions, plus meraih trofi Piala FA karena di Piala Liga sudah tersingkir (oleh Derby County).

Sebenarnya Mourinho meninggalkan United dengan menjadi pelatih terbaik dalam lima tahun terakhir. Mourinho membawa United kembali ke Liga Champions, juga finis di peringkat kedua musim lalu (terbaik sejak 2014). Belum lagi trofi juara Liga Europa dengan komposisi pemain yang tidak ideal.

Akan tetapi buat manajemen United, buruk tetap buruk. Manchester Evening News, misalnya, mengabarkan bahwa keputusan Ed Woodward memecat Mourinho adalah karena selain hasil buruk, para pemain muda United juga kurang berkembang di bawah asuhan Mou. Selain itu, permainan United yang tidak "indah" juga dianggap tak pantas dipertontonkan kesebelasan sebesar United. United saat ini dilabeli kesebelasan yang defensif.

Nyatanya United tetap banyak kebobolan dan tetap sulit meraih kemenangan. Memfokuskan pertahanan yang dilakukan Mourinho tidak sejurus dengan kutipan Sir Alex Ferguson yang mengatakan bahwa menyerang memberimu kemenangan, pertahanan memberimu piala. Tapi buat Mourinho, menangani United saat ini tidak semudah itu, Ferguso(n).

Mourinho memang punya siklus buruk pada musim ketiga. Namun melihat apa yang dialami Mourinho bersama United saat ini, bukan tak mungkin manajemen United sendiri yang membuat Mourinho menjalani musim yang sulit. Simak apa yang dikatakannya usai United dikalahkan Liverpool akhir pekan lalu:

"Kami punya banyak masalah yang berkaitan dengan fisikal. Kami punya banyak pemain yang aku bilang rawan cedera, karena beberapa pemain kami selalu cedera. Itu bukan salahku, itu sudah terjadi sebelum aku [jadi manajer United]. Kalau kamu lihat statistik [United] bersama Tuan [Louis] van Gaal dan bersama David [Moyes], di periode mereka pun sudah ada pemain-pemain yang punya cedera permanen. Ketika kamu sudah cedera permanen, secara fisik kamu akan sulit mendapatkannya."

"Aku beri contoh: [Andrew] Robertson, [Sadio] Mané, [Mohamed] Salah, [Georginio] Wijnaldum, [Naby] Keïta, Fabinho, mereka pemain fisik. Belum lagi, mereka pemain yang secara teknis bagus. Aku punya banyak pemain yang secara teknis bagus, tapi kami tak punya banyak pemain yang bisa bermain dengan intensitas seperti itu, dengan fisik seperti itu. Jadi ketika pertandingan mencapai intensitas dengan level tinggi, itu akan sulit buat kami."

Mourinho pernah bilang kalau dia bukan pelatih yang suka mengeluh akan keadaan. Bahkan Arsène Wenger dan Pep Guardiola pernah kena sindir soal ini. Mou tentu bukannya tidak pernah mengeluh, tapi yang dikatakannya kali ini cukup masuk di akal.

Jelang musim 2018/19 dimulai, pemain-pemain seperti Ander Herrera, Eric Bailly, Marcos Rojo, Sergio Romero, Antonio Valencia, Phil Jones, Nemanja Matic, Alexis Sánchez, Luke Shaw, sampai pemain yang baru didatangkan, Diogo Dalot, mengalami cedera. Belum lagi para pemain yang terlambat bergabung dengan tim usai liburan Piala Dunia seperti Paul Pogba dan Jesse Lingard. Praktis Mourinho tidak bisa menyiapkan timnya selama pra-musim karena mengandalkan pemain-pemain akademi.

"Kami di sini bermain bukan untuk meningkatkan kualitas, dinamika, atau kebiasaan kami. Kami bermain hanya berusaha bertahan dan tidak mendapatkan hasil yang buruk. Alexis jadi satu-satunya pemain depan yang kami miliki. Kami tidak punya pemain sayap, tidak punya penyerang. Ini bukan tim kami, ini bukan skuat kami, bahkan tidak ada 30% skuat kami musim depan (2018/19)," ujar Mourinho yang ketika itu juga baru dikalahkan Liverpool di ajang Internation Champions Cup (ICC).

Sejauh 17 pekan Liga Primer 2018/19, cedera pemain bukannya menjauh, tapi malah semakin akrab. Para pemain yang baru pulih cedera seperti Herrera, Bailly, Sanchez, Valencia dan Jones, kembali cedera. Ditambah Marouane Fellaini, Victor Lindelöf, Scott McTominay, dan Matteo Darmian yang juga harus menepi karena cedera, maka Mou benar-benar punya pemilihan pemain yang terbatas hampir di sepanjang musim ini.

Mourinho bukannya tanpa upaya memperbaiki tim. Menyadari timnya dirundung banyak pemain cedera dan kondisi fisik yang tak prima, setelah mengantarkan United finis di posisi kedua musim lalu, dia menyodorkan sejumlah nama untuk direkrut musim ini, jauh sebelum dirinya menjalani musim yang buruk. Tapi yang terjadi dia "hanya" mendapatkan Fred, Dalot, dan Lee Grant.

Sebelum dipecat, Mourinho sudah membela diri, khususnya usai dikalahkan Liverpool. Dengan pemain yang ada di skuat United saat ini Mou mengaku tidak bisa memainkan filosofi permainan yang ia inginkan yakni pertahanan rapat yang dikombinasikan dengan skema serangan balik cepat. Mourinho membandingkan skuat United saat ini dengan skuat-skuat yang pernah ditanganinya.

"Ada kualitas pemain yang dimiliki dan tidak dimiliki. Kamu tidak bisa meningkatkannya, kamu tidak bisa membuat mereka memilikinya. Kami berusaha menguasai bola dan membawanya ke dalam permainan, ke dalam sisi permainan kami, dalam konteks itu sekarang kami bermain sebisa kami. Itulah kualitas kami saat ini."

"Mungkin kamu bilang itu tergantung pilihan manajer. Tapi kamu bisa bandingkan tim Porto-ku dengan Liverpool. Kamu bisa bandingkan lewat kualitas pemain yang ada di sana. Itu tim terbaikku dalam transisi bertahan: kami kehilangan bola, kami menggigit, kami menggigit seperti anjing marah dan kami bisa merebut bola dalam dua detik."

"Di Real Madrid, aku punya tim terbaik soal serangan balik langsung, karena aku punya Di Maria muda, Ronaldo muda, Higuain muda, dan Benzema muda. Kami membunuh semua orang lewat transisi menyerang. Sedangkan di Inter aku punya tim terbaik soal defensif blok rendah karena ada pemain seperti Materazzi, Samuel, Lucio, Cordoba, di blok rendah yang dalam lima jam kamu tidak akan kebobolan satu gol pun. Jadi pemain menentukan cara bermain."

Dari pernyataan itu Mourinho tampaknya ingin mengatakan bahwa permainan United yang dikritik banyak orang saat ini memang karena pemain United saat ini bukan pemain yang ideal diinginkannya. Jika seperti itu, bagaimana dengan biaya 419 juta paun lebih yang telah dikeluarkan United selama dilatihnya?

Angka tersebut merupakan tertinggi ketiga di antara enam kesebelasan besar Liga Primer. Dua teratas ditempati Manchester City (541,97 juta paun) dan Chelsea (477,32 juta paun), dua kesebelasan yang menjuarai Liga Primer dua musim terakhir. Dengan "hanya" satu trofi Community Shield, EFL, dan Liga Europa, Mourinho dianggap kurang berhasil, terlebih United belum juga juara Liga Primer sejak 2013.

Namun soal negosiasi harga pemain tentu Mourinho tidak terlibat. Yang patut diketahui, dengan biaya transfer 419 juta paun, Mourinho hanya mendapatkan 11 pemain baru. Bandingkan dengan City yang merekrut 26 pemain baru dan Chelsea 19 pemain baru dalam tiga musim terakhir.

Dibanding lima kesebelasan besar lain, United (bersama Tottenham Hotspur) jadi kesebelasan yang paling sedikit merekrut pemain baru dalam tiga musim terakhir.

Perlu diketahui juga dari 11 pemain baru yang didatangkan di era Mourinho, dua pemain sudah hengkang: Zlatan Ibrahimovic dan Henrikh Mkhitaryan. Dengan Grant yang bukan proyeksi pemain utama dan Dalot yang cedera, Mou masih tetap harus mengandalkan pemain-pemain lama. Belum lagi Bailly, Sanchez, dan Lukaku mulai sering menepi karena cedera.

Ini artinya Mourinho memang tidak bisa memainkan pemain-pemain pilihannya, apalagi Pogba yang menghabiskan seperempat biaya transfer United era Mourinho tampil di bawah ekspektasi, yang sialnya Mourinho malah berkonflik dengan pemain termahalnya ini. Berbeda dengan, misalnya, Pep Guardiola atau Jürgen Klopp yang bisa memainkan pemain-pemain pilihannya di susunan pemain.

Baca juga: Jangan Pecat Mou; Pecat Ed Woodward

Mourinho awalnya percaya diri situasi ini bukan salahnya. Bahkan dia yakin posisinya aman karena jika United memecatnya, kesebelasan harus membayar kompensasi sekitar 34 juta paun (620 miliar rupiah). Mourinho yang merasa United pelit dalam membeli pemain ragu United berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk memecatnya. Sebaliknya, kekalahan dari Liverpool ternyata membuat Mourinho kehilangan pekerjaan di United.

Sementara pendukung kesebelasan-kesebelasan Liga Inggris lain kecewa, sekarang cukup banyak fans United yang lega dan optimis bahwa pemecatan Mourinho tidak akan seperti pemecatan David Moyes dan Louis van Gaal, yang tetap tidak mengembalikan derajat United sebagai kesebelasan terbaik Inggris.

Karenanya jangan sampai United menyesal telah memecat pelatih yang mencatatkan prestasi terbaik dalam lima tahun terakhir. Jika apa yang dikatakan Mourinho selama ini benar, ini hanya akan jadi kelegaan sesaat; United tetap akan mengecewakan pendukungnya dengan atau tanpa dirinya.

Komentar