Skema Tiga Bek Monaco Gagal Ladeni Juventus

Analisis

by redaksi 35746

Skema Tiga Bek Monaco Gagal Ladeni Juventus

Membutuhkan kemenangan dengan selisih dua gol, membuat pelatih AS Monaco, Leonardo Jardim, memutar otaknya dengan keras saat menjalani leg kedua semifinal Liga Champions 2016/2017 menghadapi tuan rumah Juventus. Jardim harus memiliki cara untuk membalas kekalahan 0-2 di leg pertama.

Namun persiapan Jardim untuk leg kedua yang digelar di Juventus Stadium, Rabu (10/5) dini hari WIB, kacau ketika tim melakukan pemanasan jelang pertandingan. Salah satu pemain andalannya, Nabil Dirar, mengalami cedera dan dipastikan tidak bisa bermain pada laga ini. Padahal awalnya ia disiapkan bermain sejak menit pertama. Mungkin ini yang menjadi penyebab Monaco tampil tak maksimal sehingga kalah 2-1 (agregat 4-1).

Dalam rilis susunan pemain satu jam sebelum laga, Jardim memang akan kembali menerapkan skema 4-4-2 andalannya. Ia menempatkan Joao Moutinho di tengah untuk menjadi duet Tiemoue Bakayoko. Dirar didorong lebih ke depan, Bernardo Silva di sayap kiri. Sementara posisi bek kanan diisi oleh Djibril Sidibe atau Andrea Raggi, dua full-back yang sudah disiapkan untuk laga ini.

Namun cederanya Dirar membuat Jardim harus mengubah skemanya. Yang paling ekstrim adalah pola dasar 4-4-2 diubah menjadi 3-4-1-2. Pengganti Dirar adalah Benjamin Mendy, yang pada konferensi pers dikatakan belum pulih 100%. Namun menghadapi Juventus yang menggunakan pola 3-4-2-1 seperti pada leg pertama, saat bertahan Monaco membentuk pola 4-2-3-1.

Awalnya Juventus tampak tidak siap menghadapi Monaco yang bermain berbeda pada laga ini. Apalagi Kylian Mbappe terus bermain di sisi kanan pertahanan, mengeksploitasi area Andrea Barzagli. Hingga 15 menit pertama, Monaco langsung mencetak dua peluang melalui Radamel Falcao dan Moutinho, Juve belum sekalipun menciptakan peluang.

Serangan cepat Monaco melalui sisi kanan pertahanan Juventus juga langsung menelan korban di kubu Juventus. Sami Khedira yang absen pada leg pertama karena akumulasi kartu, mengalami cedera hamstring pada menit ke-9. Namun pelatih Juventus, Massimilliano Allegri, tak mengubah skema saat memasukkan Claudio Marchisio untuk gantikan Khedira.

Monaco pun melakukan pressing dengan garis pertahanan tinggi untuk mengganggu build-up serangan Juventus. Hal ini memang memaksa Juventus lebih sering memberikan umpan panjang, khususnya Gianluigi Buffon yang sering melakukan tendangan gawang langsung ke tengah.

Namun Juventus memiliki Mario Mandzukic. Bola panjang terus diarahkan pada penyerang asal Kroasia ini. Dan secara luar biasa, mantan penyerang Bayern Muenchen dan Atletico Madrid ini begitu handal dalam duel udara. Dari 24 duel udara Juventus, 12 di antaranya dilakukan oleh Mandzukic. Dan dari 12 duel tersebut, Mandzukic memenangkan 10 duel.

Grafis duel udara Mandzukic (via: squawka.com)

Juventus melancarkan serangan balik cepat memang melalui umpan-umpan panjang cepat. Hanya saja ketika sampai depan kotak penalti Monaco, Juve lebih berhati-hati dalam menciptakan peluang. Juve hanya akan menyerang ketika lini pertahanan Monaco tidak stabil. Transisi dari menyerang ke bertahan Monaco memang begitu kacau pada laga ini.

Gol pertama Juventus menunjukkan betapa kacaunya organisiasi pertahanan Monaco setelah gagal menyerang, sekaligus sempurnanya transisi bertahan ke menyerang Juventus. Lewat serangan balik, Juve menyerang lewat sisi kiri, Dybala bisa dengan leluasa mengontrol bola di depan kotak penalti lalu memindahkan serangan ke kanan. Dari situ Mandzukic yang awalnya tak terlibat dalam serangan balik, muncul dari belakang memanfaatkan umpan silang Daniel Alves.

Skema seperti ini berulang, khususnya pada babak pertama. Peluang demi peluang diciptakan oleh Juventus. Namun kiper Monaco, Danijel Subasic, bermain cemerlang pada laga ini. Setidaknya kiper asal Kroasia ini mencatatkan empat penyelamatan gemilang. Juventus sendiri pada laga ini mencatatkan 15 tembakan, sementara Monaco 11 kali.

Subasic ditaklukkan dua kali oleh Juventus seperti pada leg pertama. Namun untuk gol kedua, kredit khusus patut diberikan pada pencetak gol Juventus, Dani Alves. Tendangan voli dari luar kotak penaltinya memang spektakuler dan tampaknya akan sulit kiper mana pun untuk membendung tembakannya.

Skema tiga bek Monaco, yang berubah menjadi empat bek saat menghadapi serangan, memang tak berjalan efisien pada laga ini. Hal ini berbeda dengan lini pertahanan Juventus yang kokoh sepanjang pertandingan. Meski Monaco juga bukan tanpa perlawanan, penampilan dari Giorgo Chiellini, Andrea Barzagli dan Leonardo Bonucci di lini pertahanan cukup apik. Begitu juga Buffon yang melakukan beberapa penyelamatan gemilang.

Gol Monaco sendiri tercipta dari sepak pojok. Berawal dari kecerdikan Moutinho, diakhiri oleh kejelian Mbappe mencari ruang untuk menyambut bola. Selebihnya, Monaco kesulitan mendapatkan peluang terbuka lewat skema open play. Secara keseluruhan, Monaco memang kalah kelas dari Juventus, tidak hanya pada leg kedua, tapi juga pada leg pertama.

foto: @ChampionsLeague/Twitter

Komentar