Atletico yang "Dipaksa" Menyerang Lewat Sayap

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Atletico yang "Dipaksa" Menyerang Lewat Sayap

Real Madrid berhasil mengakhiri mimpi buruk mereka ketika berhadapan dengan Atletico Madrid dalam ajang La Liga. Bertandang ke Stadion Vicente Calderon pada Minggu (20/11/2016) dini hari waktu Indonesia, mereka berhasil menang dengan skor 3-0 dari Los Rojiblancos. Trigol Cristiano Ronaldo pada menit ke-23, 71, dan 77 mengantarkan kemenangan tersebut ke kubu El Real.

Hasil positif ini juga membuat Los Blancos tetap bertahan di puncak klasemen sementara La Liga Spanyol 2016/2017 dengan poin 30 hasil dari sembilan kemenangan dan tiga kali hasil seri. Mereka juga berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka dalam ajang La Liga Spanyol 2016/2017 menjadi 12 kali.

Ada banyak faktor yang membuat Atleti kalah dalam pertandingan kali ini. Salah satu dari faktor kalahnya Atletico atas Real dalam pertandingan ini adalah "dipaksa"nya mereka untuk terus menggunakan sayap dalam menyerang.

Atletico memang kerap menggunakan kedua sayapnya ketika menyerang. Dalam pertandingan ini, Saul Niguez dan Yannick Carrasco tetap menjadi tumpuan tim Atletico Madrid ketika menyerang, terutama Yannick Carrasco yang begitu dominan dengan catatan enam kali tembakan dengan empat tembakan mengarah ke gawang, serta sembilan kali melakukan percobaan dribel.

Tapi dalam pertandingan ini, dominannya Atletico menyerang menggunakan sayap (Whoscored mencatat bahwa Atleti menyerang dari sayap kiri dan kanan sama aktifnya, dengan rataan masing-masing sayap 32%) terkesan seperti "dipaksa". Mereka dipaksa oleh Madrid untuk menyerang dari sayap karena lini tengah Madrid begitu penuh dan banyak pemain berdiam di situ.

Grafis umpan Atleti. Mereka dipaksa mengalihkan bola ke sayap. Sumber: Stats Zone FourFourTwo

Salah satu kejadian dipaksanya Atletico menyerang ke sayap terlihat ketika menit ke-53. Saat itu pemain Los Colchoneros yang sedang menguasai bola seolah "terpaksa" untuk memberikan umpan kepada Felipe Luis di sisi kiri. Jika dilihat situasinya, sulit untuk mengumpan ke tengah karena para pemain Madrid sudah menumpuk di area tersebut.

Ketika Atletico mencoba menyerang lewat tengah, sekitar dua sampai tiga pemain Madrid langsung menyergap pemain yang membawa bola tersebut. Inilah yang terjadi pada Antoine Griezmann, salah satu poros serangan Atletico yang tidak banyak terlibat dalam pertandingan ini. Ia mencoba menerobos lewat tengah namun pada akhirnya ia malah membawa dirinya sendiri kepada situasi sulit, dikepung oleh dua sampai tiga pemain Madrid.

Pemain Atletico yang memegang bola (antara Gabi/Koke) tidak memiliki opsi lain selain mengumpan ke samping, karena ada sekitar enam pemain Madrid yang menumpuk di tengah (gambar atas). Griezmann yang dikerubungi dua sampai tiga pemain saat sedang membawa bola (gambar bawah)

Dengan “dipaksa”nya Atletico menyerang dari sayap, maka ada dua hal yang terjadi dalam pertandingan tersebut. Pertama, jumlah umpan silang Los Colchoneros dalam pertandingan ini menjadi lebih banyak daripada Madrid, yaitu 29 kali berbanding 19 kali. Banyaknya umpan silang dari sayap ini membuat serangan Atleti lebih mudah untuk dipatahkan.

Serangan juga jadi hanya bertumpu kepada Yannick Carrasco (yang sembilan kali mencoba melakukan dribel) dan Antoine Griezmann yang diandalkan sebagai pembuka ruang bagi Fernando Torres.

Kedua, ada ruang di kedua sayap Atletico yang bisa dimanfaatkan oleh Real Madrid untuk melakukan serangan balik ketika Juanfran dan Felipe Luis membantu serangan. Serangan balik Madrid memang begitu tajam dalam pertandingan ini. Terlepas dari dua gol yang berasal dari set-piece (satu tendangan penalti dan satu tendangan bebas), gol kedua (tendangan penalti) berawal dari situasi serangan balik sebelum Ronaldo dilanggar.

Tapi proses gol ketiga-lah yang begitu mencerminkan tajamnya serangan balik Madrid. Berawal dari umpan panjang Isco dari tengah ke sayap kanan pertahanan Atletico, Gareth Bale lalu beradu lari dengan Diego Godin. Ia memenangkan adu lari itu sebelum akhirnya melepaskan umpan kepada Cristiano Ronaldo dan berujung menjadi gol ketiga, sekaligus hattrick bagi CR7.

Proses sebelum gol terjadinya Ronaldo. Bale dapat berlari dengan bebas di sisi kanan pertahanan Madrid, memanfaatkan ruang kosong di sayap. Ronaldo mampu mengelabui Stefan Savic

Sungguh serangan balik yang menakutkan dari Madrid, mengingatkan kepada era Ancelotti saat semifinal Liga Champions 2013/2014, ketika serangan balik dari sayap (ketika itu sayap Madrid dikuasai oleh Angel Di Maria) membuat Bayern München kalah. Hal itu kembali diulangi oleh Zidane dalam pertandingan kali ini.

Atletico Madrid kerap mengalahkan Real Madrid lewat serangan balik dalam beberapa pertemuan terakhir. Namun dalam pertandingan ini, hal yang berbeda justru terjadi ketika Atletico Madrid kalah oleh Real Madrid yang memperagakan serangan balik yang mematikan. Setidaknya, ini menjadi cermin bahwa Zidane, dengan materi pemain yang lebih mentereng daripada yang dimiliki oleh Simeone, juga cukup cerdas secara taktikal.

foto: @Atleti

Komentar