N`Golo Kante Melengkapi Chelsea, Melemahkan Leicester

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

N`Golo Kante Melengkapi Chelsea, Melemahkan Leicester

Pertemuan antara Chelsea dan Leicester City pada Sabtu (15/10/2016) malam di Stamford Bridge akan menjadi sesuatu yang emosional bagi N`Golo Kante. Musim 2015/2016, tepat di tempat yang sama yang akan ia injak pada Sabtu malam, adalah tempatnya terakhir kali berseragam Leicester City. Ketika itu Chelsea menjamu Leicester City (yang sudah berstatus juara). Pertandingan berakhir imbang 1-1.

"Saya berharap semua pemain saya akan bertahan di Leicester untuk musim ini [2016/2017]. Ternyata saya salah, seorang pemain memutuskan untuk pergi. Ini benar-benar di luar dugaan saya," ujar Claudio Ranieri, manajer Leicester, seperti dilansir Irish Times.

Kante memutuskan pergi dari Leicester City pada akhir musim 2016/2017. Mahar sebesar 32 juta paun dikeluarkan oleh The Blues untuk mendaratkan pemain ini dari Stadion King Power. Kepindahan dari Kante ini, seperti yang ditakutkan oleh Ranieri, ternyata menimbulkan efek tersendiri bagi kedua tim, baik itu Chelsea maupun Leicester pada musim 2016/2017.

Leicester yang Sulit Menemukan Pengganti Kante

Sosok Kante begitu spesial di lini tengah Leicester City. Staminanya yang begitu kuat, kemampuannya yang begitu baik dalam memberikan perlindungan bagi empat bek The Foxes serta keahliannya dalam mengatur sirkulasi bola di lini tengah Leicester membuat musim 2016/2017 ini, sang juara bertahan tampak kehilangan sesuatu di lini tengah.

Hal ini terlihat dari statistik tim Leicester. Dalam aspek bertahan, tampak ada perbedaan dalam masa pasca Kante pergi dan ketika Kante masih berseragam Leicester. Total tekel dan intersep Leicester menurun, dari 22 menjadi 16 (tekel), dan dari 19 menjadi 14 (intersep). Ini tak lepas dari pengaruh rataan tekel dan intersep yang Kante catatkan di The Foxes, yaitu 4,7 per pertandingan (tekel) dan 4,2 per pertandingan (intersep), tertinggi di Liga Primer Inggris 2015/2016.

Daniel Amartey, pemain yang pada musim ini diserahi tugas oleh Ranieri untuk mengisi pos yang ditinggalkan Kante, belum mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sejauh ini ia baru mencatatkan rataan tekel 1,5 per pertandingan dan rataan intersep 1,2 per pertandingan. Namun, melihat usia Amartey yang masih menginjak 21 tahun, sulit baginya untuk bermain di bawah bayang-bayang kedigdayaan Kante di lini tengah The Foxes.

Daniel Amartey, sosok yang didaulat sebagai pengganti Kante. Sumber: ghanalive.tv

Sebenarnya ada nama Nampalys Mendy yang didatangkan dari Nice. Tapi pemain berusia 24 tahun ini baru bermain selama 53 menit dalam ajang Liga Primer Inggris, dan ia malah menderita cedera ketika Leicester berhadapan dengan Arsenal. Sulit untuk menilai apakah ia cocok menggantikan Kante di lini tengah Leicester atau tidak.

Intinya, Leicester masih kehilangan sosok yang begitu menonjol di lini tengah pada musim 2015/2016 dengan segala catatan impresifnya.

Kante Melengkapi Chelsea yang Lemah di Lini Tengah

Jika Leicester begitu kehilangan sosok Kante, lain hal dengan klub yang membelinya, Chelsea. Musim 2015/2016, The Blues mengalami ompong di lini tengah ketika Francesc Fabregas dan Nemanja Matic tidak mampu tampil sesuai ekspektasi. Lini tengah mereka acap menjadi sasaran empuk lawan.

Dengan kedatangan Kante, lubang di lini tengah Chelsea pun menjadi tertutupi. Kemampuannya yang baik dalam melakukan tekel dan intersep memberikan perlindungan yang lebih bagi lini pertahanan The Blues yang begitu carut marut pada musim 2015/2016. Meski begitu, ada sedikit perbedaan antara sosok Kante di Chelsea dengan sosok Kante di Leicester.

Jika di Leicester ia menjadi pemutus serangan lawan, di Chelsea ia lebih banyak memegang bola. Tercatat sampai saat ini ia sudah mencatatkan 65 umpan per pertandingan, jauh lebih banyak dari jumlah 39 per pertandingan yang ia torehkan musim 2015/2016 di Leicester. Selain tugas merebut bola, ia mendapat tugas tambahan dari Antonio Conte berperan sebagai deep-lying midfielder, berpasangan dengan Matic yang sering menjadi gelandang box-to-box.

Penampilan buruk Kante selama membela Chelsea mungkin ketika The Blues menderita kekalahan dari Liverpool dan Arsenal. Ketika itu lini tengah The Blues dihabisi oleh para pemain lini tengah Liverpool dan Arsenal. Kante seperti orang yang kebingungan di tengah, juga para pemain Chelsea yang lainnya.

***

Pada pertandingan nanti, N`Golo Kante bisa saja menjadi pembeda bagi kedua tim. Ia bisa menjadi dewi kemenangan, baik itu untuk Chelsea (jika ia tampil baik) dan Leicester City (jika ia tampil buruk). Namun dengan menghadapi Kante sebagai lawan, mungkin Ranieri akan menyadari kepingan yang hilang dari timnya, dan akan melakukan perbaikan.

Sedangkan Chelsea, tim baru Kante, setidaknya harus mengucap rasa syukur bahwa kepingan mereka yang hilang sudah ditemukan.

foto: @ChelseaFC

Komentar