Catatan taktikal City 4-0 Palace: Menemukan Kelvin Ridge dan Chivalry yang Belum Mati

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Catatan taktikal City 4-0 Palace: Menemukan Kelvin Ridge dan Chivalry yang Belum Mati

Hebat benar memang sepakbola. Dalam satu pertandingan antara Manchester City dan Crystal Palace seseorang bisa menemukan Kelvin Ridge, salah satu tempat yang ada di dalam film Star Wars: The Force Awakens Easter Eggs dan melihat bukti bahwa chivalry belum mati. Padahal tugas utamanya adalah menganalisis pertandingan.

Kelvin Ridge

“Niima Outpost ke arah sana,” ujar Rey kepada BB-8. “Hindari Kelvin Ridge.”

BB-8, setelah diselamatkan Rey, tidak melanjutkan perjalanan ke Nima Outpost sendirian. Ia memohon (atau semacamnya, entahlah, karena saya tidak mengerti bahasa BB-8) untuk diizinkan bermalam di tempat Rey. Esoknya Rey menemani BB-8 ke Niima Outpost.

Karena BB-8 tidak melanjutkan perjalanan sendirian ia tidak tersesat dan terjebak ke Kelvin Ridge. Karena itu pula saya tidak pernah tahu di mana persisnya Kelvin Ridge, seperti apa Kelvin Ridge, dan apa yang membuat Kelvin Ridge harus dihindari.

Sedekat-dekatnya saya dengan Kelvin Ridge adalah semalam, ketika menyaksikan pertandingan antara Manchester City dan Crystal Palace untuk kepentingan analisis pertandingan.

Kelvin Ridge

Etihad Stadium memiliki Kelvin Ridge-nya sendiri semalam. Lokasinya di tengah lapangan; semakin ke tengah semakin berbahaya. Kelvin Ridge di Etihad Stadium tidak selalu harus dihindari. Para pemain Crystal Palace boleh memasuki Kelvin Ridge namun mereka harus siap dengan segala risikonya. Semakin ke tengah dan semakin dekat ke gawang City semakin berbahaya. Namun pada dasarnya yang membuat Kelvin Ridge City berbahaya bukan areanya per se, namun apa yang ada di dalamnya: Fabian Delph, Fernando, Martín Demichelis, dan Nicolás Otamendi.

Di Kelvin Ridge kemungkinan kehilangan bola meningkat. Delph, Fernando, Demichelis, dan Otamendi menerjang, menyapu, dan memotong setiap bola. Palace yang cukup tahu diri dan cukup cerdas pun menyerang lewat sayap. Perjalanan lebih lancar lewat sana, namun tujuan tidak serta merta tercapai.

David does defensive duty

Izinkan saya menggunakan bahasa Inggris. Saya tidak bisa begitu saja melewatkan kesempatan menggunakan empat kata dengan huruf depan yang sama dalam satu kalimat. Salah satu catatan taktikal paling menonjol dari pertandingan antara Manchester City dan Crystal Palace adalah kesediaan para penyerang sayap City – termasuk David Silva – mempermudah tugas bertahan para full-back­­-nya.

Crystal Palace, demi menghindari Kelvin Ridge, menyerang lewat sayap. Pilihan yang masuk akal, namun sayangnya masuk akal tidak bersinonim dengan pasti berhasil. Kemungkinan kehilangan bola di luar Kelvin Ridge memang lebih kecil ketimbang di dalamnya, namun jalur yang lebih aman tidak serta merta membuat Palace merasa nyaman.

Cukup sering Palace melepas umpan silang dari kedalaman. Bisa saja itu merupakan instruksi dari sang manajer, Alan Pardew. Namun jika diperhatikan tidak sedikit pula umpan silang yang Palace layangkan ke kotak penalti dari area sepertiga akhir. Umpan-umpan tersebut menjadi indikasi bahwa umpan-umpan silang yang dikirim dari kedalaman adalah umpan-umpan situasional, bukan taktikal. Crossing Palace

David Silva dan Kevin De Bruyne pantas mendapat pujian. Dengan kemampuan yang mereka miliki keduanya boleh-boleh saja tidak dilibatkan dalam menjalankan tugas bertahan dengan alasan agar lebih fokus menyerang. Lagipula keduanya bermain sebagai gelandang sayap.

Namun keduanya tidak demikian. Baik Silva dan De Bruyne memudahkan pekerjaan Aleksandar Kolarov (lalu Gaël Clichy setelah Kolarov ditarik keluar) dan Pablo Zabaleta dengan menjadi lapisan pertahanan pertama yang harus para pemain Palace hadapi.

Silva dan De Bruyne tidak banyak merebut bola. Tugas mereka, dari apa yang terlihat, adalah membayangi dan menutup jalan lawan. Karenanya Palace banyak melepas umpan silang dari kedalaman. Karena Silva dan De Bruyne pula para fullback City dapat dengan mudah merebut penguasaan bola dari para pemain sayap Palace.

Sergio Agüero

Chivalry sudah mati, katanya. Sergio Agüero membuktikan bahwa anggapan tersebut salah.

Gol pertama Agüero di pertandingan ini, sebuah tendangan jarak jauh, menggandakan keunggulan Manchester City (gol pertama dicetak Fabian Delph, juga lewat tendangan jarak jauh). Gol keduanya ia cetak dengan cara berbeda: tap-in yang mengakhiri dengan pasti sebuah kerja sama kesebelasan kelas satu. Team goal, sebutlah demikian. Akan sempurna jika aksi individu menjadi caranya mencetak gol ketiga.

Memang itulah, nyatanya, yang tersedia untuk Agüero di penghujung laga. Kevin De Bruyne bertarung dan bola jatuh ke penguasaan Agüero. Dengan satu sentuhan Agüero mengelabui Joel Ward dan mengalahkan lawannya dalam adu cepat menuju gawang. Agüero dapat dengan mudah menempatkan bola ke titik yang ia inginkan dan melengkapi hattrick-nya, namun ia lebih memilih untuk mendorong bola kepada David Silva. Chivalry belum mati. Tak lama setelahnya Manuel Pellegrini menarik keluar Agüero untuk memberi tempat kepada Jesús Navas. Lebih dari kurang tepat, beberapa pihak menilai langkah Pellegrini kurang hormat. Agüero menerima keputusan manajernya begitu saja. Chivalry memang belum mati.

Secara taktikal, keberadaan Agüero – yang tidak hanya diam menunggu umpan-umpan kunci, tapi juga rajin mencari bola dan membuka ruang untuk pemain lain serta memiliki kemampuan menggiring bola yang sangat baik – mempermudah pekerjaan City membongkar pertahanan Palace yang terorganisir.

Ketika pergerakannya di dalam kotak penalti terbatas Agüero menarik diri dan mencetak gol dari jarak jauh. Ketika peluang serangan balik tercipta ia menemukan jalan tercepat untuk mencetak gol sebelum Palace memiliki kesempatan mengorganisir pertahanan.

Komentar