Tiga Angka untuk Kemenangan Buruk Arsenal

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Tiga Angka untuk Kemenangan Buruk Arsenal

“Kekalahan Arsenal pekan lalu tak akan membantu kami,” ujar Alan Pardew, manajer Crystal Palace, sebelum pertandingan. “Namun mereka harus berada di tingkat permainan terbaik untuk menang hari ini.” Arsenal tidak berada di tingkat permainan terbaik; kemenangannya pun diperoleh akibat gol bunuh diri lawan.

Palace, yang meraih kemenangan tandang 3-1 saat bertandang ke markas Norwich City pekan lalu, tampil dalam formasi 4-5-1. Alex McCarthy, sang penjaga gawang, mendapat perlindungan dari barisan pertahanan berisi (dari kanan ke kiri) Joel Ward, Scott Dann, Damien Delaney, dan Pape Souaré.

Wilfried Zaha dan Yannick Bolasie menebar ancaman dari sayap kanan dan kiri sementara Jason Puncheon, Yohan Cabaye, dan James McArthur bekerja di tengah lapangan. Ketiganya menjadi pelindung lini pertahanan, penghubung lini belakang dan lini depan, serta penyuplai bola untuk Zaha dan Bolasie serta sang penyerang tunggal, Connor Wickham.

Arsenal sendiri tampil dengan formasi 4-2-3-1. Petr ?ech tetap dipercaya walau pekan lalu kebobolan dua kali (dan salah satunya akibat kesalahan perhitungan), namun tidak begitu dengan Mathieu Debuchy. Bek kanan asal Perancis tersebut kehilangan kesempatan bermain pekan ini; Arsène Wenger, manajer Arsenal, kembali mempercayakan posisi bek kanan kepada Héctor Bellerín.

Per Mertesacker dan Laurent Koscielny tetap menjadi pasangan andalan di jantung pertahanan. Dan Nacho Monreal lagi-lagi memulai pertandingan sejak menit pertama di posisi bek sayap kiri.

Santi Cazorla mengatur permainan dari kedalaman, berdampingan dengan Francis Coquelin tepat di depan barisan pertahanan Arsenal. Mesut Özil bermain di belakang Olivier Giroud sang penyerang tunggal sementara Aaron Ramsey menjadi penyerang sayap kanan dan Alexis Sánchez bermain sebagai starter di posisi penyerang sayap kiri.

Arsenal tak mengubah gaya permainan mereka walau bermain di kandang lawan. Mereka tetap mengandalkan pertukaran umpan antar pemain dan serangan yang cair ketika menguasai bola, dan menekan setinggi mungkin ketika Palace yang menguasai bola. Kesebelasan tuan rumah, sementara itu, mengandalkan kecepatan dan kemampuan menggiring bola Zaha dan Bolasie untuk mencetak gol. Ketika Arsenal menyerang, Palace bertahan di kedalaman dengan dua lapis pertahanan dalam formasi 4-4-2.

Defence Arsenal

Pilihan Pardew untuk bermain bertahan dan mencari gol dari serangan balik tidak memberi hasil yang cukup baik. Arsenal cukup sigap menetralisir ancaman-ancaman sayap Palace sebagaimana terlihat dalam chalkboard  di atas.

Menggiring bola maupun melepas umpan, Palace sama buruknya. Dari 214 umpan mengarah ke depan, hanya 157 yang sampai ke sasaran. Umpan-umpan sepertiga akhir Palace pun tidak begitu baik; akurasinya hanya 66,67%. Dari 29 umpan silang yang mereka lepaskan, hanya dua yang tepat sasaran. Palace, kesebelasan yang mengandalkan serangan sayap, tidak mampu melahirkan gol dari area-area dekat garis tepi. Jika bukan karena tendangan jarak jauh Joel Ward, ?ech mungkin sudah pulang membawa clean sheet Premier League pertamanya bersama Arsenal.

Arsenal kebobolan satu kali, dan Palace kemasukan dua kali. Namun bukan berarti Arsenal tampil cukup baik malam ini. Mengingat Arsenal melepas 20 tembakan, seharusnya mereka bisa mencetak lebih banyak gol. Namun kualitas penyelesaian akhir mereka begitu buruk hingga dari enam tembakan tepat sasaran, hanya satu yang menjadi gol.

Dua lapis pertahanan Palace membuat para pemain Arsenal tak mendapat banyak kebebasan. Karenanya, lima dari enam tembakan tepat sasaran yang mereka lepaskan tak begitu merepotkan McCarthy. Rapatnya pertahanan Palace juga membuat delapan tembakan Arsenal membentur para pemain Eagles.

Block Palace

Beruntung Arsenal memiliki Olivier Giroud. Inisiatifnya menyambut umpan silang Mesut Özil dengan sebuah tendangan salto membuat McCarthy terlambat bereaksi. Gol Giroud di menit ke-15 juga membuat Arsenal berada di atas angin. Gol balasan Ward di menit ke-27 membuat kedudukan kembali sama kuat namun Alexis Sánchez menyelamatkan Arsenal dengan kerja kerasnya.

Empat tendangan Sánchez membentur pemain-pemain Palace dan satu tendangan tepat sasarannya mampu dijinakkan McCarthy. Semua kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Di menit ke-54, sundulan Sánchez memaksa Damien Delaney menyapu bola yang mengarah ke gawangnya. Alih-alih menetralisir ancaman Sánchez, Delaney malah membelokkan bola ke gawangnya sendiri dan lahirlah gol kedua Arsenal.

Arsenal, salah satu kesebelasan dengan permainan paling indah dan menghibur di Premier League, tidak menang dengan indah. Tidak pula mereka menang meyakinkan. Namun kemenangan, bagaimanapun cara meraihnya, tetap bernilai tiga angka.

Komentar