Beda Liga, Beda Sentimen pada Israel-Palestina

Cerita

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Beda Liga, Beda Sentimen pada Israel-Palestina

Pemain OGC Nice asal Aljazair, Youcef Atal, ditangguhkan sampai waktu yang belum ditentukan oleh klubnya. Hal ini karena Atal mengunggah sebuah video di story akun Instagramnya @youcefatal yang, mengutip AFP, menyerukan kekerasan kepada orang-orang Yahudi. Mengutip France 24, Atal disebut telah mengglorifikasi terorisme oleh seorang politisi lokal.

Atal pun sudah memuat klarifikasinya terkait unggahan tersebut dan ia pun meminta maaf. "Saya ingin memperjelas sudut pandang saya tanpa ambiguitas: Saya dengan tegas mengutuk segala bentuk kekerasan, di mana pun di dunia, dan saya mendukung semua korban. Saya tidak akan pernah mendukung pesan kebencian. Perdamaian adalah cita-cita yang sangat saya yakini," tulis Atal dalam story Instagramnya.

Atal tidak sendirian. Anwar El Ghazi juga diskors oleh klubnya, Mainz 05. Menurut keterangan resmi Mainz, apa yang diutarakan El Ghazi dalam postingan di sosial medianya tidak bisa diterima oleh pihak klub.

Apa yang ditulis oleh El Ghazi?

Di kalimat terakhir, El Ghazi menulis from the river to the sea, Palestine will be free. Apa makna kalimat tersebut? Kalimat tersebut adalah kalimat propaganda perjuangan kemerdekaan Palestina yang secara geografis berada di antara sungai Yordan dan laut Mediterania. Banyak yang menganggap slogan itu dipengaruhi oleh antisemitisme. Menurut penulis sekaligus pengamat politik Inggris, Kenan Malik, dalam salah satu kolomnya yang terbit di The Guardian, slogan tersebut di tangan Hamas menjadi seruan pengusiran terhadap orang Yahudi, paling banter; tuntutan pembersihan etnis, dan paling buruk adalah genosida.

Sedangkan di Jerman, tempat di mana El Ghazi meniti karier, terdapat perlindungan terhadap kelompok Yahudi. Jerman pernah melakukan genosida terhadap kelompok Yahudi di masa Adolf Hitler. Pasca Perang Dunia II, sentimen terhadap orang Yahudi di Jerman tidak serta merta hilang. Perusakan sinagog-sinagog menjadi buktinya, terutama di Jerman Timur. Di sisi lain, munculnya gerakan neo Nazi juga membuat peluang diskriminasi rasial di Jerman bertambah. Maka, pemerintah Jerman Timur merativikasi Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (ICERD) pada 1969 dan Jerman Barat pada 1973.

Sejak Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober silam, orang-orang Yahudi di Jerman mendapat ancaman. Dua orang pria melempar bom molotov ke sebuah sinagog di Berlin pada Rabu (18/10) pagi waktu setempat. Bom tersebut tidak menyebabkan korban jiwa dan polisi sedang menyelidikinya.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa ia marah atas kejadian tersebut. "Serangan terhadap lembaga-lembaga Yahudi dan tindakan kekerasan di jalanan adalah hal yang tercela dan tidak dapat ditoleransi. Antisemitisme tidak mempunyai tempat di Jerman."

Sementara itu, Hakim Ziyech yang saat ini bermain di Galatasaray, juga menulis from the river to the sea, Palestine will be free dalam story akun Instagramnya @hziyech, pada Minggu (15/10).

Berbeda dengan El Ghazi, pemain Maroko tersebut tidak diskors oleh Galatasaray. Perbedaan sikap politik di Turki terhadap antisemit tampaknya mempengaruhi sikap klub di negara tersebut.

Mengutip hasil survei ADL/Global100, pada 2015 persentase warga Turki yang mempunyai sikap antisemit sebanyak 71% (sekitar 35 juta dari 49 juta populasi) sedangkan di Jerman 16% (sekitar 11 juta dari 69 juta populasi). Dari hasil survei ini, setidaknya kita bisa mendapat gambaran lain mengapa El Ghazi sampai harus diskors oleh Mainz 05, sementara hal itu tidak terjadi kepada Ziyech.

Slogan “from the river to the sea” juga diteriakan oleh para pendemo di Inggris pada Sabtu (14/10). Demonstrasi terjadi di kota Manchester, Liverpool, London, bahkan hingga Glasgow dan Aberdeen di Skotlandia. Menteri Dalam Negeri Inggris Suella Braverman menyebut slogan tersebut adalah ajakan untuk menghancurkan Israel.

“Akhir pekan lalu massa yang mengintimidasi berbaris melalui London sambil meneriakkan ‘from the river to the sea’ – sebuah slogan yang secara luas dipahami sebagai tuntutan untuk menghancurkan Israel,” tulis Suella di akun X (Twitter) pribadinya @SuellaBraverman pada Senin (16/10).

“Slogan tersebut diadopsi oleh kelompok Islam, termasuk Hamas, dan tetap menjadi pokok wacana antisemit. Mendengar seruan ini diteriakkan di depan umum menyebabkan kekhawatiran tidak hanya bagi orang-orang Yahudi tetapi juga bagi semua orang. Mereka yang menyebarkan kebencian di jalanan Inggris harus menyadari bahwa toleransi kita ada batasnya,” lanjutnya.

Dilaporkan oleh The Telegraph, pemimpin komunitas Yahudi di Inggris mengkritik jaksa karena tidak menuntut pengunjuk rasa atas nyanyian “from the river to the sea.” Tiga organisasi Yahudi di Inggris yakni The Board of Deputy, Jewish Leadership Council dan Community Security Trust, bahkan mengirim surat kepada anggota parlemen Victoria Prentis, jaksa agung, Crown Prosecution Service (CPS) dan kepala polisi, yang menyatakan makna genosida dalam slogan tersebut sangat jelas.

“Mengingat kaitan jelas slogan tersebut dengan terorisme dan sindirannya terhadap tindakan pembunuhan kepada orang-orang Yahudi, pengulangan slogan `from the river’ di jalan-jalan Inggris, kampus-kampus Inggris, dan dunia maya merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap rasa takut dan intimidasi yang dirasakan komunitas kami akhir-akhir ini,” demikian penggalan surat itu, dikutip dari The Telegraph.

Dukungan solidaritas untuk Palestina di Inggris juga datang dari pemain sepakbola, yakni Mohamed Salah.

Melalui akun X (Twitter) pribadinya @MoSalah pada Kamis (19/10), pemain asal Mesir tersebut menyerukan pembantaian yang terjadi di Gaza harus segera diakhiri. Salah juga menyampaikan ajakan kepada para pemimpin dunia untuk mencegah kekerasan yang terjadi di Palestina. Berikut kutipan lengkap pernyataan Salah.

Tidak mudah untuk berbicara di masa-masa seperti ini. Terlalu banyak kekerasan dan terlalu banyak momen brutal dan yang meremukkan hati.

Eskalasi dalam beberapa pekan terakhir ini sulit untuk disaksikan. Semua nyawa itu suci dan harus dilindungi. Pembantaian ini harus dihentikan. Keluarga-keluarga hancur berantakan.

Yang jelas sekarang bantuan kemanusiaan ke Gaza harus segera diizinkan. Orang-orang di sana berada dalam kondisi memprihatinkan.

Pemandangan di rumah sakit kemarin malam (18/10) itu sangat mengerikan. Orang-orang Gaza butuh makanan, minum, dan bantuan medis secara mendesak.

Saya meminta para pemimpin dunia untuk bersama-sama mencegah pembantaian lebih jauh kepada jiwa-jiwa tak bersalah, kemanusiaan harus menang.

https://x.com/MoSalah/status/1714719241306243584?s=20

Pesan yang disampaikan Salah ini menitikberatkan kepada kemanusiaan dan solidaritas kepada warga Gaza. Ia jelas tidak menyebutkan slogan from the river to the sea yang menjadi perhatian publik Inggris.

Menanggapi dampak akibat konflik antara Palestina dan Israel, Premier League mengeluarkan imbauan kepada suporter untuk tidak mengibarkan bendera kedua negara tersebut di stadion. Premier League hanya akan mengadakan hening cipta sebelum laga dimulai dan para pemain akan mengenakan pita hitam.

Komentar