Menyeimbangkan Pendidikan Akademik dan Olahraga

Nasional

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Menyeimbangkan Pendidikan Akademik dan Olahraga

Pasca Indonesia dibatalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia, pemain-pemain Timnas U-20 menjadi pembicaraan karena jelas mereka kecewa. Beberapa di antara mereka juga ada yang mengkhawatirkan masa depan mereka. Presiden Jokowi, setelah bertemu dengan mereka, menyatakan pemain timnas ada yang ingin menjadi Tentara, Polri, serta Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Secara tidak langsung, mereka tidak yakin bahwa sepakbola akan menghidupi mereka di masa mendatang. Atau, barangkali, mereka belum tahu akan berkarir sebagai apa setelah tidak aktif menjadi pemain.

Yang paling menyedot perhatian adalah pernyataan Hokky Caraka. Pemain asal Gunungkidul tersebut mengaku sudah tiga tahun meninggalkan sekolah demi Timnas.

“Saya sendiri tiga tahun sudah meninggalkan sekolah demi Indonesia. Jadi, kalau beneran ini di-banned saya tidak punya apa-apa, tidak punya bekal untuk menjadi profesi apalah itu,” kata Hokky dalam salah satu acara di Kompas TV.

Kita bisa mafhum bahwa bermain di Piala Dunia, meski di level U-20 dan memperolehnya dengan status tuan rumah, tetaplah menjadi sesuatu yang membanggakan bagi para pemain timnas U-20.

Level Piala Dunia ini, bagi Hokky, tentu sangat berbeda dengan ketika ia bermain bagi tim Garuda Select di Inggris. Piala Dunia, meski belum tentu juga kita bisa melangkah ke fase gugur, setidaknya memberi kenangan dan barangkali batu loncatan agar bisa dilirik tim-tim luar negeri, meski saat ini Hokky sudah bergabung bersama PSS Sleman.

Baca Juga:

U-20 Gagal, U-17 Pun Jadi?

Berkaitan dengan kekhawatiran Hokky yang tidak punya bekal apa-apa untuk meniti profesi lain, apakah pendidikan akademik dan sepakbola memang tidak sejalan di Indonesia? Atau sepakbola belum menjamin karir seorang pemain setelah pensiun?

Di Amerika Serikat, NCAA atau National Collegiate Athletic Association, menjadi role model ideal bagaimana pendidikan akademik dan olahraga melebur. NCAA adalah wadah bagi para mahasiswa yang tetap ingin tampil dalam gelanggang olahraga.

NCAA mengakomodir 90 kejuaraan dalam 24 cabang olahraga, yang dibagi dalam Divisi I, II, dan II, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Kampus-kampus di Amerika memiliki klub olahraganya sendiri, mulai dari basket, besbol, american football, sepakbola, dan lain-lain. Ada potensi para mahasiswa ini akan direkrut oleh klub-klub melalui sistem drafting.

Di Indonesia, ada beberapa sekolah yang dikenal memadukan pendidikan akademik dan olahraga. Salah satu yang paling dikenal adalah Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan. Sekolah ini sudah melahirkan Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, M Hargianto, serta Andritany Ardhyasa.

Selain SKO Ragunan, ada juga SKO Jawa Timur, SKO Riau, SKO Kalimantan Timur, SKO Aceh, serta SMP-SMA Olahraga Negeri Sriwijaya. Kemunculan SKO diawali dari diklat, yang pionernya adalah diklat Salatiga.

Diklat Salatiga, yang terbentuk pada 1963, merupakan hasil kerjasama PSSI dengan Departemen Olahraga, yang awalnya bernama TC Ngebul Salatiga.

Pada 1973, TC Ngebul Salatiga berubah nama menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) Salatiga. Di sini, para siswa tidak hanya diajari teknik-teknik olahraga, melainkan juga pelajaran akademik dengan menyediakan banyak guru. Itulah alasan mengapa dalam perkembangannya, diklat melibatkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bukan lagi Departemen Pemuda dan Olahraga.

Saat PSSI dipimpin oleh Azwar Anas, format diklat mulai disebarluaskan di kota-kota besar seperti Medan, Padang, Bandung, Malang, dan lain-lain. Di masa ini, sistem diklat lebih dikenal dengan sebutan Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP).

***

Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Keolahragaan, ada tiga ruang lingkup kegiatan olahraga, yakni olahraga pendidikan, olahraga masyarakat, dan olahraga prestasi.

Menempatkan atlet seperti Hokky jelas bukan lagi pada olahraga pendidikan dan olahraga masyarakat, melainkan olahraga prestasi, yang dalam Pasal 20 Ayat 1 dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Sebenarnya, Hokky pun tak perlu meragukan masa depan profesinya karena dalam UU tersebut, terdapat ketentuan yang mengatur bahwa Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau Masyarakat dapat mengembangkan sistem kesejahteraan olahragawan dan tenaga keolahragaan.

Hokky dan pemain Timnas U-20 yang lain boleh kecewa dan boleh meragukan jalan karirnya akan terhambat karena batalnya Piala Dunia U-20. Tapi, rasa-rasanya mustahil karir mereka rontok hanya karena pembatalan ini. Akan ada banyak faktor yang akan membuat karir mereka cemerlang atau justru tenggelam di masa mendatang.

Lagi pula, ada beberapa pesepakbola Indonesia yang tetap mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi sembari tetap meniti karir di bidang sepakbola. Septian David Maulana, Yanto Basna, Ricky Kambuaya, dan Boaz Solossa adalah tiga di antaranya.

Septian David Maulana dan Yanto Basna merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta yang masuk bersama banyak anggota Timnas U-19 era Indra Sjafri. Ricky Kambuaya merupakan sarjana dari Universitas Muhammadiyah Sorong, sedangkan Boaz Solossa bahkan sudah meraih gelar S2 dari Universitas Cenderawasih.

Komentar