Transfer Gila-gilaan Liga Inggris Mencekik Pemain Lokal

PanditSharing

by Pandit Sharing 49107

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Transfer Gila-gilaan Liga Inggris Mencekik Pemain Lokal

Oleh: Isal Mawardi

"Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia."

Sabda di atas adalah sabda dari presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang terbit pertama kali pada 1965. Beliau tidak main-main dengan apa yang dapat dilakukan para pemuda untuk negerinya. Kita harus menyepakati yang dikatakan sang proklamator karena kala itu Indonesia sedang dalam masa-masa kelam. Butuh tenaga dan pikiran anak muda agar awan kelabu angkat kaki dari Indonesia.

Segala yang dikatakan Ir. Soekarno tentang pemuda rasanya tidak hanya di bidang politik saja, tetapi lebih luas dari itu. Yaitu hingga ke ranah olahraga, khususnya sepakbola. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran pemain muda untuk kesebelasan dan negara sangat vital. Mereka merupakan generasi emas yang dapat mewakili gaya sepakbola modern.

Mari hijrah ke negara Albert Einstein dilahirkan, Jerman. Melihat pemain muda Jerman yang melimpah ruah di kesebelasan lokal maupun kesebelasan diluar Jerman. Sebut saja Julian Weigl (Dortmund), Joshua Kimmich (Bayern München), dan Max Meyer (Schalke 04). Akademi pembinaan pemain muda di Jerman berhasil menelurkan banyak anak muda dengan kualitas nomor wahid soal mengolah si kulit bundar.

Fenomena ini tak lepas dari kebijakan yang diterapkan federasi sepak bola Jerman, Deutscher Fussball-Bund (DFB). Keharusan tim yang berlaga di dua divisi teratas liga Jerman untuk mengoperasikan akademi pemain untuk memperoleh lisensi berpartisipasi di dua divisi teratas Jerman memberikan dampak yang baik.

Kesebelasan Bundesliga pun dialihkan dari membeli bakat potensial dari luar negeri menjadi memproduksi bakat-bakat berdarah Jerman. Bahkan DFB rela mengalokasikan uang bensin bagi para orang tua untuk mengantar anaknya ke pusat pelatihan agar bakat potensial pemain lokal tak luput dari radar.

Lain halnya dengan di Negeri Matador. Setiap kesebelasan senior memiliki kesebelasan cadangan yang ikut disertakan dalam kompetisi profesional. Tim cadangan ini berisikan para pemain muda yang usianya rata-rata di bawah 23 tahun. Contohnya FC Barcelona memiliki Barcelona B, Real Madrid mempunyai Madrid Castilla, begitu pula Atletico Madrid dan Sevilla.

Bedanya, jika di Liga Inggris atau Liga Italia para pemain U21 memiliki liga tersendiri, sehingga para pemain junior (U21) Chelsea akan bertanding dengan pemain U21 kesebelasan lainnya, Spanyol punya cara tersendiri. Khusus di Spanyol, Barcelona B pernah berada di divisi kedua atau Segunda División (musim ini mereka bermain di satu divisi di bawahnya, yaitu Segunda División B). Barcelona B pun menghadapi para senior yang berada di divisi kedua Liga Spanyol tersebut.

Bisa kita simpulkan, tim cadangan (U21) ini akan merasakan kerasnya pertandingan yang sesungguhnya dengan kesebelasan senior divisi dua macam Getafe, Rayo Vallecano, Alcorcon, Zaragoza dan juga bertemu sesama tim cadangan. Kebijakan ini membuat Spanyol menetaskan pemain jempolan seperti Sergi Roberto (Barcelona) dan Dani Carvajal (Real Madrid)

Sebagai pecinta Liga Inggris, saya sedikit kecewa dengan kebijakan-kebijakan kesebelasan Liga Inggris dalam hal memproduksi pemain muda. Lihat saja dalam starting line up kesebelasan Liga Inggris setiap minggunya (khususnya 6 kesebelasan teratas), pemain muda lokal hanya sebagai pemanas bangku cadangan.

Semenjak sokongan dana dari Arab dan Rusia mengambil alih Manchester City dan Chelsea, kedua kesebelasan tersebut dengan kesebelasan-kesebelasan Liga Inggris lainya malah berlomba-lomba membeli pemain “sudah jadi” luar negeri. Bahkan kebijakan Brexit pun tak berpengaruh signifikan terhadap sepak bola negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Pantas saja prestasi skala international mereka tak seelok Spanyol dan Jerman. Dulu The Big Four merajai Liga Champions, sekarang hanya isapan jempol belaka. Bahkan di level timnas pun Inggris hanya sebagai tim penghibur. Lihat saja di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016.

Ruben Loftus-Cheek (Chelsea) hanya sebagai pelapis N`Golo Kante dan Nemanja Matic. Marcus Rashford (Manchester United) akan menjadi starting line up jika Ibrahimovic absen. Terakhir, Alex Oxlade-Chamberlain (Arsenal) hanya menjadi bayang-bayang Alexis Sanchez. Perlahan kebijakan kesebelasan Liga Inggris membunuh karier pemain lokal mereka.

Namun ada yang menarik ketika saya mengamati tim besutan Mauricio Pochettino, Tottenham Hotspur. The Lilywhites (julukan Tottenham Hotspur) setidaknya memberikan kesempatan lebih kepada para pemain muda. Spurs lebih berani menurunkan pemain muda di laga-laga penting untuk memperpanjang jam terbang pemain.

Pada starting line up Spurs, terdapat lima pemain berdarah Inggris yang dibina sejak usia belia. Harry Kane, Dele Alli, Kyle Walker, Danny Rose, dan Eric Dier menjadi pemain yang mengisi posisi di tim utama Spurs dan timnas Inggris. Jika bukan karena manajemen Spurs yang berani menurunkan mereka secara rutin, sudah bisa dipastikan kelima pemain tersebut hanya menjadi angin lalu di Inggris. Dalam beberapa pertandingan yang dilakoni Spurs sekarang sudah ada pemain muda lainnya, seperti Harry Winks, Tom Carroll, dan Joshua Onomah.

Semoga saja apa yang dilakukan Spurs dicontoh oleh kesebelasan Liga Inggris lainnya. Sehingga pemain-pemain lokal Inggris dapat bersinar dan merebut kembali era keemasan Inggris di Eropa yang belakangan tahun terakhir direbut oleh Jerman dan Spanyol. Juga, apa yang dilakukan oleh Jerman dan Spanyol tersebut supaya bisa menjadi contoh bagi Indonesia bagaimana caranya membina bibit-bibit muda sehingga menjadi bintang di kemudian hari.

Penulis adalah seorang mahasiswa. Biasa berkicau di @isalmaward


Tulisan ini merupakan kiriman penulis lewat rubrik Pandit Sharing. Segala isi dan opini yang ada di dalam tulisan merupakan tanggung jawab penulis

Komentar