Paolo Maldini sebagai Legenda yang Menjadi Tabu

Backpass

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Paolo Maldini sebagai Legenda yang Menjadi Tabu

Ada banyak hal yang bisa diingat dari Paolo Maldini, salah satunya adalah kelegendaannya yang berbalur tabu.

Beberapa hari setelah memutuskan untuk gantung sepatu, Maldini menerima surat dari Carles Puyol. Intinya surat puja-puji. Dia bilang, ia tumbuh dengan menyaksikan Maldini bersepakbola. Ia mengagumi bagaimana Maldini tetap bermain dalam kedisplinan taktikal. Namun di atas segalanya, cara Maldini menghidupi sepakbola adalah hal yang paling dikaguminya. Baginya, Maldini adalah contoh nyata kalau seorang bek tidak perlu berulah beringas untuk menjadi hebat. Ia hanya perlu mencegah lawan untuk mencetak gol dengan cara yang bermartabat.

Carles Puyol adalah adagium bahwa kedewasaan tidak selalu diikuti oleh kehilangan idola. Barangkali, ia tumbuh dengan mengangan-angankan menjadi Maldini. Puyol boleh mengidolakan Maldini sedemikian rupa. Ia boleh berusaha sehebat-hebatnya untuk menjadi Maldini di Barcelona. Namun saya jadi berpikir, jangan-jangan Maldini juga bermimpi menjadi seperti Puyol.

Puyol tak pernah dituding sebagai pesepakbola yang kurang ajar, yang lupa kepada orang-orang yang membikinnya kaya raya. Laga perpisahan Puyol berlangsung khidmat. Tak ada kostum raksasa pemain lain yang dikibarkan di sepanjang pertandingan perpisahannya. Puyol tak harus bersaing dengan “Baresi-Baresi”-nya Barcelona.

Bagi Milan, Maldini adalah legenda yang menjadi tabu. Curva Sud Milano tak menyukainya. Maldini dicap arogan dan durhaka oleh mereka yang merasa membikin klub ini kaya raya.

Puncaknya memang terjadi pada tanggal 24 Mei 2009. Pertandingan melawan Roma ini tak cuma menjadi laga ke 900 untuk Maldini, ini kali terakhir Maldini bertanding untuk Milan di San Siro. Laga perpisahan ini seharusnya menjadi manis, apalagi Maldini bukan cuma empat-lima tahun bermain di Milan. Ia berada di sana selama 24 tahun. Hampir seperempat abad, tanpa sekalipun berpindah ke kesebelasan lain – belum lagi ditambah 7 tahun bersama tim junior. Seharusnya bukan hanya Andrea Pirlo yang menangis haru, bukan hanya pemain Roma yang mengenakan kaos bertuliskan “Terima Kasih, Paolo”. Seharusnya, yang berkibar megah dari tribun selatan bukanlah kostum raksasa Franco Baresi, seharusnya hari itu menjadi harinya Paolo Maldini.

Tapi apa boleh buat, Maldini memang tidak lebih besar daripada Baresi. Bagi kumpulan ultras itu, Milan hanya punya satu kapten. Dan ia bernama Franco Baresi.

Konon, aksi penolakan Curva Sud ini berawal dari cerita Istanbul tahun 2005 yang termahsyur itu. Kabarnya sebelum pertandingan, Curva Sud menjual sisa jatah tiket mereka kepada pendukung Liverpool dengan harga yang jauh lebih mahal. Maldini berang, seharusnya sisa tiket itu dijual kepada Milanisti dengan harga yang sebenarnya. Baginya, Curva Sud hanyalah sekelompok mata duitan yang mengenakan selubung ultras. Atas alasan itu pula, ia menolak untuk meminta maaf kepada mereka saat dihampiri oleh beberapa orang anggota Curva Sud di bandara Malpensa seusai pertandingan yang membikin Milan harus merelakan gelar Liga Champion ke tangan Liverpool.

Perseteruan mereka berlanjut sampai tahun 2007. Maldini yang waktu itu kembali memimpin Milan ke putaran final Liga Champion 2007 memilih untuk tidak ikut campur saat kelompok ultras ini bermasalah dengan polisi di Athena. Curva Sud yang merasa sebagai pihak yang seharusnya dibela mati-matian oleh klub termasuk para pemain merasa kecewa, akibatnya mereka memboikot pertandingan Milan kontra Sevilla pada perhelatan Piala Super Eropa dan tidak menghadiri sejumlah pertandingan sepanjang musim 2007-2008.

Jauh sebelum dua insiden ini terjadi, Maldini dan Curva Sud memang sudah tak akur.  Sekitar musim 1997-1998, saat Maldini baru 6 bulan menjabat sebagai kapten, Curva Sud membentangkan spanduk yang bertuliskan “Kurangi Hollywood dan Perbanyak Kerja Keras” di depan rumahnya. Untuk diketahui, Hollywood adalah nama tempat hiburan malam di Milan. Maldini dan teman-temannya memang sering bersenang-bersenang di sana. Saya jadi berandai-andai - jangan-jangan, kiprahnya sebagai DJ amatir juga bermula dari kesenangannya di klub malam, persis seperti pertemuan pertamanya dengan Adriana Fossa, model asal Venezuela yang kelak menjadi istrinya.

Maldini boleh merengkuh nama besar, ia boleh memimpin ratusan laga Milan, ia sah-sah saja menjadi orang pertama yang mengangkat trofi saat kesebelasannya memenangkan kompetisi apapun. Namun di mata orang-orang yang memiliki posisi tawar kuat di klub itu, Maldini hanyalah bahan cemooh. Sehebat apapun Maldini bersepakbola, tidak peduli sebanyak apapun laga yang dilakoni untuk Milan – untuk diketahui total penampilan Maldini di Milan sebanyak 902 kali, sedangkan Baresi 719 kali- Maldini tidak akan pernah menang dari Baresi.

Di depan semua kalangan manajemen klub, barisan ultras tersebut adalah orang kuat. Mereka punya posisi tawar yang tak main-main, lewat penjualan tiket dan merchandise, mereka membikin penuh pundi-pundi Milan. Galliani boleh mengirimkan surat kepada Maldini perihal penyesalannya atas perlakuan ultras. Namun, bukankah basa-basi adalah bagian dari pekerjaan manajemen?

Sedalam apapun penyesalan manajemen, semenyentuh apapun surat yang diberikan, Maldini tidak pernah menjadi bagian dari klub. Lihatlah siapa-siapa yang menduduki kursi manajemen, nama Paolo Maldini tak ada di sana. Perihal yang wajar, karena memasukkan  ia yang ditolak oleh orang-orang kuat klub ke jajaran manajemen sama saja dengan petaka.

Atas apa yang menimpa Maldini, saya teringat akan salah satu cerpen karya Jorge Luis Borges yang berjudul “The Circular Ruins”. Ia berkisah tentang seorang penyihir yang dalam mimpinya berupaya untuk menghidupkan sosok manusia ideal yang begitu ia impi-impikan. Setelah mewujudkan manusia ideal itu, ia mengirimnya ke semacam reruntuhan berlingkar – yang agaknya menyerupai runtuhan kuil – di belahan selatan. Namun bertepatan dengan bunyi kentongan tengah malam ia terjaga dari tidurnya dan sadar kalau sesungguhnya keberadaannya juga diimpikan orang lain.

Saya tidak tahu ada berapa banyak pesepakbola yang mengidolakan Maldini. Saya juga tidak paham ada berapa banyak anak yang bertekad menjadi pesepakbola setelah menyaksikan Maldini mencegah lawan-lawannya mencetak gol. Agaknya, ranah ini memiliki banyak Puyol – mereka-mereka yang berusaha menghidupkan Maldini impian mereka lewat cara mereka bersepakbola. Namun sama seperti penyihir dalam cerita Borges yang terjaga akibat bunyi kentongan, tabu yang membaluri kelegendaan Maldini barangkali juga bisa menyadarkan mereka dan membikin berani berandai-andai; jangan-jangan Maldini juga berulang kali bermimpi untuk bisa seperti mereka. Bermimpi untuk bisa menjadi legenda tanpa harus menjadi tabu.

 

Komentar