Belanda 1974 Mungkin Luar Biasa Tapi Bukan Teladan yang Hebat

Klasik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Belanda 1974 Mungkin Luar Biasa Tapi Bukan Teladan yang Hebat

Sembari mencuri perhatian dunia lewat permainan menyerang yang dikenal dengan nama total football, Belanda – yang terakhir kali lolos ke Piala Dunia pada 1938 dan terakhir kali ambil bagian di Piala Eropa pada 196o – mencapai final Piala Dunia 1974. Pasukan Rinus Michels menantang tuan rumah, Jerman Barat, di München.

Sementara para pemain Jerman Barat belum menyentuh bola satu kali pun, Belanda sudah berhasil mencetak satu gol. Uli Hoeneß, pemain belakang Jerman Barat,  melanggar Johan Cruyff di kotak penalti dan Johan Neeskens, sang eksekutor, mencetak gol dari penalti yang diberikan wasit Jack Taylor. Dua puluh menit setelahnya Belanda masih menguasai permainan.

Tapi Jerman menemukan jalan untuk melawan. Bernd Hölzenbein dilanggar di kotak penalti Belanda dan karenanya Paul Breitner mendapat tugas sebagai eksekutor penalti di menit ke-25. Bek sayap kiri Jerman Barat tersebut berhasil menaklukkan Jan Jongbloed, penjaga gawang Belanda bernomor punggung 8. Skor antara Belanda dan Jerman Barat pun kembali sama kuat.

Di menit ke-43, satu gol kembali tercipta. Kali ini lewat penyerang tengah Jerman, Gerd Müller. Setelah Müller mencetak gol ke-14 sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia, tak ada lagi gol lain tercipta. Sehingga ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiupkan, Jerman Barat resmi menjadi juara dunia untuk kali kedua.

Belanda kalah di final tapi jadi juara di hati para netral. Katanya, Belanda 1974 adalah kesebelasan non-juara terbaik sepanjang masa. Kata siapa, itu pertanyaanya.

Salah satu yang tidak setuju terhadap jatuhnya gelar kesebelasan non-juara terbaik sepanjang masa ke tangan Belanda adalah kolumnis Guardian, Scott Murray. Dalam tulisannya yang berjudul “The Joy of Six”, tidak ada Belanda 1974. Enam kesebelasan terbaik yang tidak pernah memenangi Piala Dunia menurut Murray adalah Hungaria (finalis 1954), Uruguay (semifinalis 1954), Jerman Barat (semifinalis 1970), Italia (semifinalis fase grup 1978), Rumania (perempat finalis 1994), dan Argentina (finalis 1990).

Lebih jauh lagi Murray menjabarkan keberatannya dalam tulisan berjudul “On Second Thoughts: the 1974 World Cup Final”.

Walau tidak benar-benar sepemikiran dengan Murray, João Havelange – Presiden FIFA 1974-1998 – juga beranggapan bahwa yang terbaik di Piala Dunia 1974 bukanlah Belanda. Bukan pula Jerman Barat yang, menurut Havelange, juara karena hasil pertandingan telah diatur; seperti ketika Inggris menjadi pemenang di rumah sendiri pada 1966.

“Dalam tiga pertandingan yang dimainkan Tim Nasional Brasil pada 1966, dari tiga wasit dan enam hakim garis, tujuh di antaranya adalah orang Britania Raya dan dua lainnya adalah Jerman,” ujar Havelange sebagaimana diwartakan Folha de Sao Paulo.

“Brasil tersingkir, Pelé ‘keluar’ karena cedera (yang dideritanya dari permainan kasar para lawan) dan Inggris dan Jerman Barat lolos ke final sebagaimana keinginan Sir Stanley Rous, presiden FIFA saat itu,” lanjut Havelange. “Di Jerman Barat 1974 hal yang sama terjadi. Dalam pertandingan Belanda-Brasil, wasitnya Jerman Barat, kami kalah 2-0 dan Jerman Barat jadi juara. Kami yang terbaik di dunia, dan memiliki kesebelasan yang sama dengan kesebelasan yang menjuarai Piala Dunia 1962 di Chile dan 1970 di Meksiko, namun sudah ditentukan bahwa tuan rumahlah juaranya.”

Murray dan Havelange memiliki satu kesamaan: keduanya sama-sama bukan orang Belanda sehingga mudah saja menolak kejayaan tanpa gelar yang jatuh ke tangan Oranje. Namun opini Murray dan Havelange didukung oleh Cruyff sendiri; sang kapten dan bintang utama Belanda.

“Atas satu dasar kami sukses karena kami diakui berkat gaya kami dan semua orang berkata bahwa kamilah kesebelasan terbaik,” ujar Cruyff. “Namun itu mengalihkan perhatian dari kegagalan. Setelah bertahun-tahun ini menjadi dalih. Kalah dengan indah menjadi ciri Belanda. Ini menjadi cap nasional sepakbola Belanda. Namun tidak begitu adanya sebelum ’74.”

“Para pemain yang bermain di kesebelasan itu,” lanjut Cruyff, “terbiasa menang dan Michels menciptakan Total Football bukan untuk menciptakan pola indah namun sebagai cara meraih kemenangan. Kesebelasan Ajax yang menjadi juara Eropa selama tiga tahun berturut-turut jauh lebih baik dari semua lawan dan jadi juara. Itulah rencana 1974. Belanda tidak datang untuk sekedar ikut serta dan menjadi yang kedua dan diakui karena keindahan dan keterbukaan dan sifat filosofisnya. Belanda ada untuk juara.

“Jadi sebelum 7 Juli 1974 hal ini memiliki arti tersendiri dan setelahnya hal tersebut mengalami perubahan arti menjadi ‘sebenarnya, bagaimanapun kami berhasil.’ Namun nyatanya tidak. Itu adalah sebuah kegagalan. Selalu saja itu menjadi kenangan berduri yang tidak dapat direlakan. Sebuah trauma yang belum terselesaikan.”

Senada dengan Cruyff, penulis Belanda bernama Auke Kok menyatakan dalam bukunya yang berjudul 1974: We Were The Best – buku yang menjadi bestseller di Belanda – bahwa Cruyff, dkk., pantas kalah, Jerman pantas menang, dan kebobrokan diri sendiri yang menjadi alasan kegagalan Belanda keluar sebagai juara Piala Dunia.

Menariknya, bukan hanya Kok yang mengetahui kebobrokan internal Belanda. Fakta bahwa David Winner (penulis Brilliant Orange) juga memahami kondisi ini semakin memperkuat opini yang menyebutkan bahwa para pendukung Belanda yang mengakui kesebelasan mereka sebagai non-juara terbaik sepanjang masa hanya mencari pembelaan dan pelipur saja.

“Belanda menjadi arogan,” ujar Winner. “Mereka tinggi hati. Mereka keanehan yang tidak terbayangkan di masa kini. Di tengah berjalannya kejuaraan, Rinus Michels pergi ke Barcelona untuk mengawasi kesebelasannya (saat itu Michels merangkap tugas ganda di Barcelona dan Tim Nasional Belanda) bertanding di final Piala Spanyol, yang saat ini tidak mungkin dilakukan untuk alasan apa pun ... Ajax telah mengalahkan Bayern 4-0 di tahun sebelumnya dan mereka merasa sangat percaya diri. Mereka pikir mereka akan menang mudah dan para pemain Jerman Barat mempersiapkan diri dengan sangat sungguh-sungguh sementara para pemain Belanda tidak.

“Mereka pikir bahwa pertandingan berat bagi mereka adalah mengalahkan Brasil di semifinal dan karenanya mereka mengendurkan kecepatan dan tidak berkonsentrasi dan tetap setajam seharusnya. Itulah bagian dari tragedinya – karena mereka tidak mempersiapkan diri dengan sepatutnya. Mereka merendahkan peristiwa dan tugas dan lawan mereka.”

Pendapat dan penjelasan dari Murray, Havelange, Kok, Winner, dan bahkan Cruyff sendiri menegaskan bahwa Belanda 1974 bukanlah kesebelasan non-juara terbaik sepanjang masa. Andaikata memang iya Belanda 1974 adalah yang terbaik, mereka – karena sikap meremehkan –bukan teladan terbaik yang pernah ada.

Komentar