Sejarah Sepakbola Indonesia Berhutang pada Anak-anak Sekolahan

Klasik

by redaksi

Sejarah Sepakbola Indonesia Berhutang pada Anak-anak Sekolahan

Sejarah masuknya sepakbola ke Indonesia boleh dikata memiliki perbedaan dibandingkan dengan negara-negara jajahan lainnya. Jika di Eropa Selatan, Amerika Selatan atau Afrika sepakbola biasanya masuk dan populer lewat kaum buruh di pelabuhan-pelabuhan. Indonesia memiliki cerita yang berbeda, pasalnya populernya sepakbola dimainkan oleh kaum pribumi justru dipopulerkan oleh anak-anak sekolahan.

Lewat sepakbola diskriminasi Belanda terhadap kaum pribumi memang benar-benar terjadi. Tapi tentu saja itu dengan pengecualian, mereka yang dilarang bermain sepakbola adalah kaum kelas bawah. Lain hal dengan kaum priyayi, kelas ningrat pribumi ini malah dirangkul untuk bermain bola.

Pada awal masa-masa mulai banyak bermunculan klub-klub sepakbola Belanda, banyak pula pemain-pemain pribumi yang jadi pemain inti. Mereka yang diajak rata-rata adalah anak-anak muda yang sempat mencicip dunia pendidikan HBS. Ada Soerdarmadji, Achmad Nawir, Anwar Sutan, Frans Hukom dan masih banyak lagi. Nama-nama diatas bahkan dipercaya mewakili kerajaan Hindia Belanda untuk tampil pada Piala Dunia 1938.

Awal mula pendirian PSSI pun digagas oleh orang-orang terdidik. Soeratin ketua PSSI pertama adalah insinyur lulusan jerman. Pengurus-pengurus lainnya pun sama, ada Dr R.M Soeratman Erwin, R.A Kasmat, Daslam Adiwarsito dan Amir Notopratomo yang setidaknya pernah mengecap bangku pendidikan tingkat atas HBS. Pada pengurusan klub pun sama di Persib Bandung ada Otto Iskandardinata dan R.T Tjidarboemi, di Persija ada MH Thamrin, di Persebaya ada Soedarboemi dan Pamudji.

Menyeret sepakbola ke arah nasionalisme kebangsaan di mulai oleh mereka-mereka. Wajar saja sepakbola yang dulu selalu identik dengan olahraga bangsawan menjadi olahraga rakyat. Berkat-berkat orang terdidik di atas, sepakbola pribumi pun setara dan diakui oleh Belanda.

Lantas bangsa ini memang berhutang pada kalangan terdidik, saat mengabaikannya maka hancurlah sepakbola kita. Dan tentu saja makna kaum terdidik itu bukan dalam konotasi sempit hanya sebatas gelar doktor atau profesor saja. Toh meski PSSI dipimpin seorang profesor sekalipun seperti yang terjadi sekarang pun, sepakbola kita tetap saja carit marut!

(wam)

Komentar