Suar Sebagai Permasalahan dalam Berekspresi

Cerita

by Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang menulis.

Suar Sebagai Permasalahan dalam Berekspresi

Dalam perayaan pertandingan yang berhasil dimenangkan, suar sering hadir melengkapi suka cita yang dirasakan oleh suporter. Rasanya kurang lengkap jika meriahnya kemenangan tak diiringi oleh benderang nyala suar.

Itu pula yang dilakukan oleh suporter Napoli ketika menyambut kedatangan tim kesayangan mereka di Bandara Capodichino, usai Napoli memenangi pertandingan melawan Juventus pada Minggu (22/4). Kemenangan yang telah membuat jarak Napoli hanya tinggal berselisih satu poin dengan Juventus di puncak klasemen begitu disambut meriah oleh suporter mereka, seakan Napoli sudah menjuarai Serie A.

Dari sebuah video yang diunggah oleh akun Twitter resmi Napoli, terlihat para suporter bersorak-sorai dan nyanyian puja-puji langsung membahana. Banyak tangan-tangan terkepal meninju-ninju ke udara mengiringi nyanyian mereka. Terlihat pula beberapa orang yang membawa bendera besar dalam perayaan itu.

Dan yang jelas tidak luput dari pemadangan adalah asap tebal yang melingkupi kerumunan itu; asap yang berasal dari hasil pembakaran suar. Bahkan, hanya berjarak beberapa meter dari bus pemain, terlihat warna merah suar menyala terang di tengah gelapnya malam.

Selain untuk mengekspresikan rasa suka cita seperti yang dilakukan oleh suporter Napoli, suar juga kerap digunakan oleh suporter untuk mengekspresikan bentuk protes mereka kepada tim yang mereka dukung. Hal ini seperti yang dilakukan oleh suporter Kroasia di gelaran Piala Eropa 2016 lalu.

Ketika pertandingan antara Kroasia dengan Rep. Cheska di Piala Eropa 2016, sekelompok suporter Kroasia melemparkan suar ke lapangan dan membuat pertandingan mesti dihentikan sementara. Diketahui motivasi suporter tersebut melemparkan suar ke lapangan adalah sebagai bentuk protes kepada Federasi Sepakbola Kroasia, khusunya ditunjukkan untuk wakil presiden federasi mereka, Zdravko Mamic. Saat itu, Mamic memiliki citra buruk di mata suporter Kroasia, lantaran saat Mamic masih menjabat sebagai direktur klub Dinamo Zagreb, ia diduga kerap melakukan korupsi keuangan klub.

Terlepas dari dalam kondisi seperti apa sebuah suar digunakan, benda tersebut sejatinya bukanlah benda yang berfungsi sebagai atribut seorang suporter dalam mendukung tim kesayangannya. Suar merupakan benda yang diperuntukkan untuk memberi tanda ketika seseorang sedang tersesat di alam bebas. Nyalanya yang benderang dan asapnya yang tebal akan memudahkan untuk melacak keberadaan seseorang yang tersesat di alam bebas.

Selain itu, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa suar cukup membahayakan saat dinyalakan di tengah-tengah kerumunan orang seperti di stadion. Sudah banyak kasus suporter yang menjadi korban—bahkan sampai meregang nyawa—karena terkena suar yang dinyalakan di stadion.

Ini bukan sekedar omong kosong. Pada sebuah pertandingan Copa Libertadores antara San Jose kontra Corinthians, yang digelar di Bolivia pada 2013 lalu, seorang anak berusia 14 tahun meninggal dunia akibat terkena lemparan suar oknum suporter. Api dari suar tersebut mengenai mata yang mana langsung menembus ke dalam tengkorak kepalanya.

“Terdapat bagian dari otaknya yang hilang, dan pecahan flare menembus bagian tengkorak kepalanya. Jika melihat kerusakan ini, bisa dipastikan bocah tersebut tewas seketika,” ujar dokter yang menangani bocah tersebut, Jose Maria Vargas, seperti dikutip dari The Guardian.

Untuk kasus di dalam negeri, tewasnya Catur Yuliantono yang wajahnya terbakar karena terkena roket suar saat menyaksikan laga tim nasional tahun 2017 lalu, juga merupakan bukti betapa berbahayanya suar ketika dinyalakan di pertandingan sepakbola.

Menyalakan suar ketika sebuah pertandingan sepakbola sedang berlangsung juga dapat mengganggu jalannya pertandingan. Asap yang mengepul, dapat mengganggu jarak pandang para pemain yang sedang berlaga. Belum lagi, pernafasan para pemain (dan tentu saja para suporter) pun dapat terganggu karena sesaknya asap.

Maka dengan demikian, menyalakan sebuah suar entah untuk mengekspresikan suka cita atau rasa kecewa, tetap tidak bisa dianggap benar. Memang kita tidak berhak menghalangi atau melarang seseorang untuk berekspresi. Setiap orang berhak atas itu. Akan tetapi, sekali lagi, cara mengungkapkan ekspresi itu jangan sampai malah menganggu dan bahkan mencelakakan orang lain seperti dengan menyalakan suar.

Karena, untuk tetap dapat menyaksikan serta menikmati sepakbola, seseorang berhak atas rasa aman dan nyaman di stadion. Sehebat apa pun gairah dan fanatisme yang dimiliki seorang suporter kepada klub kesayangannya, akan menjadi tidak wajar jika ia menuangkan perasaan tersebut dengan cara-cara yang dapat merugikan orang lain.

Komentar