Inggris Siaga Satu di Piala Dunia 2018

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Inggris Siaga Satu di Piala Dunia 2018

Hubungan bilateral Inggris dan Rusia memanas. Percobaan pembunuhan kepada Kolonel Sergei Skripal menjadi penyebabnya. Pada Minggu (4/3) waktu setempat, Skripal bersama putrinya, Julia, ditemukan dalam kondisi kritis di salah satu bangku pusat perbelanjaan di Salisbury, Inggris Selatan. Keduanya diyakini terpapar zat kimia berbahaya yang menyerang fungsi otak.

Perdana Menteri Inggris, Teressa May, menuding Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan terhadap Skripal. May berani menunjuk hidung Rusia setelah mengetahui hasil identifikasi zat kimia yang menyerang Skripal dan putrinya itu merupakan racun yang diketahui pernah dikembang Uni Soviet di era 1970-an.

Analisa May pun merujuk pada status Skripal yang dianggap pembelot oleh Kremlin. Sebelum tinggal di Inggris, Skripal tercatat sebagai anggota intelijen militer GRU Rusia. Pada 2004, Badan Intelejen Rusia (FBS) menangkap Skripal, atas tuduhan membocorkan identitas agen rahasia Rusia kepada Inggris. Skripal tak menyangkal tuduhan yang di alamatkan kepadanya. Hingga pada 2006, melalui peradilan rahasia, ia di vonis 13 tahun penjara.

Belum sampai masa hukumannya berakhir, pada 2010 Skripal mendapat pengampunan dari Presiden Rusia kala itu, Dmitry Medvedev. Setelah itu, ia pun hijrah ke Inggris dan tinggal di negeri Ratu Elizabeth itu.

"Dengan adanya catatan bahwa Rusia kerap melakukan pembunuhan, serta penilaian kami bahwa Rusia memandang beberapa pembelot sebagai target yang sah untuk pembunuhan, maka pemerintah menyimpulkan sangat mungkin Rusia bertanggung jawab atas tindakan terhadap Sergei dan Yulia Skripal," terang May, dilansir dari Reuters.

May benar-benar meyakini bahwa Rusia sebagai dalang percobaan pembunuhan Skripal. Tanpa tedeng alih, ia langsung mengusir 23 diplomat Rusia dari Inggris. May meyakini, ke-23 diplomat itu adalah mata-mata Rusia. Tak lama kemudian, tindakan tersebut dibalas Rusia dengan mengusir 23 diplomat Inggris.

***

Memanasnya hubungan antara Inggris dan Rusia merembet ke berbagai aspek, tak terkecuali sepakbola. Pada Juni 2018, Piala Dunia akan digelar di Rusia. Kabarnya, Pemerintah Inggris berencana memboikot gelaran tersebut. May mengonfirmasi bahwa seluruh politisi Britania Raya, anggota royal family, dan FA tidak akan menghadiri turnamen tersebut.

Pelatih Timnas Inggris, Gareth Southgate, tak mau ambil pusing dengan rencana boikot pemerintah Inggris di Piala Dunia FIFA 2018. Memanasnya hubungan bilateral Inggris dan Rusia sama sekali tak mengganggu pikirannya. Di Piala Dunia, fokusnya hanya membawa Inggris meraih prestasi setinggi mungkin.

“Mengenai apa yang menteri luar negeri pikirkan tidak menarik minat saya. Secara personal saya akan ke Piala Dunia, saya menghabiskan banyak waktu di Rusia dan merasa nyaman di sana,” kata Southgate, dilansir dari Goal.

“Tapi untuk setiap individu itu terserah kepada mereka, apa yang ingin mereka lakukan. Situasinya mungkin akan semakin berkembang, jadi kita tidak tahu akan seperti apa pada Juni nanti. Namun situasi sekarang, tidak menghentikan saya untuk pergi.”

Meski begitu, upaya antisipasi menghindari hal-hal yang tak diinginkan tetap dilakukan FA. Salah satu sumber FA yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada The Sun, FA berencana membawa koki sendiri selama Harry Kane dan kawan-kawan berada di Rusia. Selain itu, timnas Inggris juga tidak akan menggunakan bahan baku makanan yang berasal dari Rusia. Mereka akan mengimpor daging, ikan, sayur, beras, pasta, dan buah-buahan dari Finlandia.

Koki bagi timnas Inggris akan diberangkatkan seminggu sebelum keberangkatan pemain ke Rusia. Kabarnya, FA sengaja menyiapkan koki khusus untuk para pemain guna menghindari potensi keracunan yang dialami pemain.

"Semua makanan akan diperiksa dan dites secara ketat. Hal yang terpenting adalah tak ada pemain yang mendapatkan masalah sebelum pertandingan. Tim akan mendapatkan asupan ayam, pasta, ikan, dan lainnya dalam jumlah besar, jadi kualitasnya harus benar-benar dipastikan,” kata sumber tersebut.

***

Menghadapi Piala Dunia 2018 di Rusia, Inggris seolah menjadi satu-satunya kontestan yang keselamatannya terancam. Selain hubungan bilateral kedua negara yang tengah memanas, hubungan kurang harmonis pendukung Rusia dan Inggris pun tampaknya akan membuat FA siaga satu.

Rivalitas antara suporter Inggris dan Rusia telah terjalin lama, di Piala Eropa 2016, kerusuhan yang melibatkan dua kelompok suporter itu pun pecah. Kabarnya, kerusuhan antara suporter Inggris dan Rusia di Prancis merupakan salah satu kerusuhan antar suporter paling mengerikan dalam sejarah sepakbola modern.

Menghindari hal-hal yang tak diinginkan, FA kemudian mengimbau agar seluruh suporter Inggris yang akan bertandang ke Rusia untuk berhati-hati. Tak hanya itu, WAGs, atau istri dan kekasih pemain timnas Inggris pun diimbau agar tak datang ke Rusia selama Piala Dunia 2018 berlangsung. Kalau pun nekat, mereka diharapkan tidak tinggal dekat lokasi penginapan pemain.

Di Piala Dunia 2018, Inggris berencana tinggal di ForRest Mix Country Club yang terletak di pinggiran kota Saint Petersburg, Rusia. Bagi para WAGs yang nekat pergi ke Rusia, disarankan untuk tinggal di pusat kota karena alasan keamanan.

Sementara itu, Alexander Yakovenko - Duta Besar Rusia untuk wilayah Britania Raya - mengungkapkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan bagi keselamatan orang-orang Inggris yang akan bertandang ke Rusia. Menurutnya, Rusia aman untuk dikunjungi siapapun, tak terkecuali orang-orang Inggris saat Piala Dunia 2018berlangsung.

“Saat ini, otoritas keamanan Britania tengah menjalin kontak dengan otoritas keamanan Rusia untuk memastikan keamanan bagi fans dan semua warga Britania yang berada di teritori Rusia. Pada dasarnya kami percaya diri dan kami akan senang untuk menyambut semua orang,” katanya, dilansir dari Sky Sports.

Foto: Independent

Komentar