Pro Kontra Peniadaan dan Pengadaan Jaringan Internet

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penyunting dan penulis. Penanggung jawab rubrik Cerita, PanditSharing, dan Backpass.

Pro Kontra Peniadaan dan Pengadaan Jaringan Internet

Selama Hari Raya Nyepi, umat Hindu tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan menjauhkan diri dari hiburan (amati lelanguan). Seperti yang sudah-sudah, stasiun televisi dan radio di Bali tidak menggelar siaran selama Hari Raya Nyepi. Namun ada yang sedikit berbeda pada Nyepi tahun ini. Untuk kali pertama, masyarakat Bali tidak akan bisa menggunakan internet selama Nyepi.

Pada Kamis 15 Februari 2018 Kanwil Kementerian Agama Bali, Pemprov Bali, Polda Bali, Korem Bali, Forum Kerukunan Umat Beragama, dan beberapa instansi lainnya menggelar rapat. Dari rapat tersebut dihasilkan Seruan Bersama. Poin keempat Seruan Bersama tersebut berbunyi: “Provider penyedia jasa seluler diharapkan untuk mematikan data seluler (internet) dari hari Sabtu 17 Maret 2018 pukul 06.00 WITA sampai dengan Minggu 18 Maret 2018 pukul 06.00 WITA.”

Pada Rabu 14 Maret 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan siaran pers yang mengimbau “Agar seluruh Penyelenggara Telekomunikasi yang menyediakan layanan akses internet di Provinsi Bali untuk melakukan langkah-langkah dalam mendukung seruan bersama dimaksud pada Hari Raya Nyepi yang berlangsung pada tanggal 17 Maret 2018 pukul 06.00 WITA sampai dengan 18 Maret 2018, pukul 06.00 WITA, dengan tetap menjaga kualitas layanan akses internet untuk obyek-obyek vital serta layanan kepentingan umum lainnya yang menurut sifatnya harus tetap berlangsung.”

Matinya akses internet di Bali selama Nyepi hanya berdampak kepada para pengguna telepon seluler. Nyoman Sujaya selaku Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali, kepada BBC Indonesia berujar bahwa akses internet untuk hotel, kantor pelayanan publik, dan obyek-obyek vital seperti rumah sakit, perbankan, kebencanaan, dan bandara tetap hidup.

“Banyak umat Hindu yang kecanduan gadget. Saya harap selama Nyepi mereka bisa introspeksi,” kata I Gusti Ngurah Sudiana, ketua Parisada Hindu Dharma, kepada BBC Indonesia. Tidak menggunakan internet selama Nyepi termasuk menjauhkan diri dari hiburan (amati lelanguan).

Seperti I Gusti Ngurah Sudiana, I Gde Wiratha, pengusaha ternama Bali, mendukung imbauan peniadaan jaringan internet selama Nyepi 2018. Menurutnya (masih dikutip dari BBC Indonesia), ketiadaan jaringan internet bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis yang ingin sesuatu yang berbeda.

Tentu ada yang kontra dengan imbauan ini. Kepada Tirto, I Gede Bagus Gigih Ferdian Baskara dari Keluarga Mahasiswa Hindu Institut Teknologi Bandung berpendapat bahwa internet tak perlu dimatikan oleh provider saat Nyepi, karena internet berada di bawah kendali seseorang, maka masing-masing individu yang mengendalikannya.

Sementara itu, Anak Agung Suryawan Wiranatha selaku perwakilan Badan Promosi Pariwisata Daerah imbauan ini terlalu berlebihan. “Nyepi itu introspeksinya ke dalam, mengatur diri sendiri. Kalau dipaksa pelaksanaannya tidak dari dalam diri sendiri. Imbauan ini terlalu berlebihan, kan di Bali tidak hanya ada umat Hindu,” ujarnya kepada BBC Indonesia.

Menolak Internet di Stadion

Lain Bali, lain pula Eindhoven -- publik Philips Stadion, khususnya. Pada Agustus 2014, pengelola stadion memastikan para penonton yang hadir di stadion dapat mengakses internet lewat jaringan Wi-Fi yang mereka sediakan. Kebijakan ini diprotes para pendukung klub Philips Sport Vereniging (PSV). Mereka menolak menolak penyediaan jaringan Wi-Fi di kandang klub kesayangan mereka.

Dalam pertandingan melawan NAC Breda -- laga pembuka Eredivisie 2014/15 -- pada 16 Agustus 2014, sekelompok pendukung PSV membentangkan banner bertuliskan “Fuck Wi-Fi, support the team”. Argumen mereka, orang-orang yang datang ke stadion harusnya menyaksikan pertandingan dan mendukung tim-tim yang bertanding, bukan asyik sendiri dengan gawai masing-masing.

Tentu saja tidak semuanya berpikiran demikian. Dari 34 ribu orang yang hadir di Philips Stadion pada hari itu, 17 ribu di antaranya menggunakan jaringan yang disediakan pengelola stadion. Mengingat sulitnya mendapat sinyal di stadion, penyediaan Wi-Fi bisa sangat berguna untuk banyak hal termasuk berhubungan dengan rekan dan memesan jasa transportasi online.

Di Amerika Serikat, para pengelola stadion olahraga malah berlomba-lomba mendandani stadion masing-masing dengan jaringan Wi-Fi demi menarik banyak penonton. Menurut laporan TechRepublic pada April 2014, jaringan Wi-Fi adalah salah satu dari beberapa pertimbangan utama generasi milenial untuk datang ke stadion. Generasi yang lebih tua menghargai penyediaan jaringan Wi-Fi di stadion, tapi tidak menjadikannya pertimbangan utama.

Walau demikian, pada 2016, TechRepublic melaporkan perubahan sikap para pengunjung stadion. Semua orang, tak peduli berapa usianya, mengharapkan konektivitas yang lancar di stadion baik dalam pertandingan, konser, maupun acara hiburan jenis apa saja.

Komentar