Ketika Perdebatan Status Pribumi-Nonpribumi Korbankan Kualitas Jorginho

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ketika Perdebatan Status Pribumi-Nonpribumi Korbankan Kualitas Jorginho

Jorge Luiz Frello Filho alias Jorginho menjadi figur penting atas menanjaknya performa Napoli di musim 2017/2018. Saat artikel ini ditulis, Napoli tengah memuncaki klasemen sementara Serie A setelah menyapu bersih delapan laga dengan kemenangan. Enam kali sudah Jorginho menjadi starter, dua kali digantikan Amadou Diawara atau Piotr Zielinski, dua pemuda potensial milik Napoli.

Tapi di samping penampilan cemerlangnya, Jorginho mungkin saat ini masih dilanda kekhawatiran terkait masa depannya. Karena meski penampilannya sudah cukup layak membela timnas Italia, ia masih belum dilirik oleh sang pelatih, Giampiero Ventura. Sementara itu, kini justru muncul kabar bahwa timnas Brasil yang dilatih oleh Tite akan memanfaatkan kesempatan mengambil Jorginho untuk membela tanah kelahirannya.

Ya, Jorginho memang seorang pemain yang lahir di Brasil. Walau begitu, hatinya untuk Italia, negara yang ia tinggali sejak usia 15 tahun. Beberapa kali ia juga mengungkapkan keteguhan hatinya untuk membela timnas Italia. Tapi tampaknya, karena pemain berusia 25 tahun ini bukan pribumi asli Italia, ia mulai harus mempertimbangkan tawaran dari Brasil.

Perdebatan pemanggilan oriundi di timnas Italia

Bagi Italia saat ini, perdebatan menggunakan "pemain asing" di timnas Italia mungkin tidak terlalu masif. Tapi bagi sebagian pelatih Italia, pemanggilan pemain yang lahir bukan di Italia merupakan persoalan. Salah satunya adalah bagi pelatih yang kini menangani Zenit St. Petersburg, Roberto Mancini. Inilah yang mungkin membuat Italia besutan Ventura hanya cukup dengan satu pemain asing, Citadin Eder, untuk menghindari perdebatan.

Seperti misalnya pada 2016 lalu. Mancini ketika itu memberikan pernyataan kontroversial mengenai pemanggilan dua oriundi ke timnas Italia yang dibesut Antonio Conte. Kedua pemain tersebut adalah Franco Vazquez yang lahir di Argentina dan Citadin Eder yang lahir di Brasil. Ketika itu keduanya dipanggil Conte yang hendak mempersiapkan timnas Italia di babak kualifikasi Piala Eropa 2016.

"Timnas Italia harus orang Italia. Mereka yang tidak lahir di Italia, walau memiliki ikatan jauh (dengan Italia), seharusnya tidak dipanggil. Itu pendapat saya," kata Mancini seperti yang dikutip oleh Football Italia.

Sebenarnya, timnas Italia pernah punya hubungan romantis dengan pemain asing. Pada Piala Dunia 1934, Italia bergantung pada empat pemain kelahiran Argentina dan satu kelahiran Brasil. Atilio Jose Demaria yang lahir di Buenos Aires (Argentina) menjadi pemain asing pertama yang membela Italia. Setelah itu disusul secara berurutan oleh Enrique Guaita, Raimundo Orsi, Luis Monti dan Guarisi (Brasil).

Dukungan terhadap pemain asing untuk bermain di timnas Italia bahkan muncul dari Benito Mussolini, Perdana Menteri Italia saat itu yang terkenal dengan kediktatorannya. Mussolini yang begitu nasionalis ini sampai mengirim dua agen rahasianya untuk memaksa Monti, yang ketika itu sudah tercatat 16 kali membela timnas Argentina, agar mau membela Italia. Ketika itu pindah timnas memang masih diperbolehkan secara bebas.

Pelatih Italia saat itu, Vittorio Pozzo, juga tak anti terhadap pemain asing. Pelatih yang kemudian menjadi pelatih legenda Italia itu ternyata berhasil membawa Italia menjadi juara Piala Dunia 1934 bersama lima pemain asingnya dengan mengalahkan Czechoslovakia. Itu merupakan trofi pertama Italia di Piala Dunia.

Setelah itu, kebergantungan pada oriundi ini terus terjadi hingga tahun 1960an. Nama-nama seperti Omar Sivori (Argentina), Humberto Maschio (Argentina), Jose Altafini (Brasil), dan Alcides Ghiggia (Uruguay) sering menghiasi lineup skuat Azzurri.

Tapi ketika FIFA menetapkan aturan bahwa pemain yang sudah membela timnas senior tidak boleh berpindah tim nasional pada 1964, Italia mulai mengurangi pemanggilan oriundi. Apalagi sebelum itu, Italia kalah di Piala Dunia 1962 dari Cile. Pertandingan bertensi tinggi itu, dua pemain Italia dikartu merah, dikenang sebagai Battle of Santiago. Humberto Maschio dan Jose Altafini yang diharapkan bisa tampil hebat, justru mengecewakan dan menjadi kambing hitam atas kekalahan Gli Azzurri.

Oriundi kemudian vakum selama hampir 40 tahun. Lantas Roberto Di Matteo yang lahir di Swiss dipanggil Arrigo Sacchi pada 1994. Tapi baru pada 2003 oriundi kembali heboh setelah Marcelo Lippi secara mengejutkan memanggil pemain kelahiran Argentina, Mauro German Camoranesi, ke timnas. Apalagi Camoranesi tidak menyanyikan lagu kebangsaan Italia di setiap pertandingannya beserta komentarnya yang semakin memancing kontroversi.

"Saya tak mengerti anthem Italia. Saya memang memegang paspor Italia, tapi bukan berarti saya cukup merasa sebagai orang Italia. Saya seorang Argentina, tetapi saat ini saya membela Italia. Warna biru mengalir dalam darah saya. Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun dapat mengambilnya," kata Camoranesi.

Nyatanya, Camoranesi berhasil mengantarkan Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Apalagi Camoranesi membela timnas Italia sampai 2010. Berkat Camoranesi-lah oriundi kembali menghiasi skuat timnas Italia. Pemain-pemain seperti Amauri, Thiago Motta, Gabriel Palletta, Pablo Osvaldo, hingga Ezequiel Schelotto mendapatkan kesempatan tampil di timnas. Disusul oleh Vazquez dan Eder pada 2016 lalu.

Saatnya kembali mengandalkan oriundi?

Italia tampil kurang maksimal sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Buktinya, Italia harus menentukan nasibnya di Piala Dunia 2018 lewat jalur play-off. Skuat yang kini ditangani oleh Giampiero Ventura ini harus menerima kenyataan melihat Spanyol menjuarai grup G untuk lolos langsung ke Piala Dunia yang digelar di Rusia tahun depan.

Dalam 10 laga, Italia menang tujuh kali, imbang dua kali dan kalah satu kali. Terlihat impresif namun secara permainan Italia sebetulnya belum meyakinkan. Lawan-lawan di grup G "hanya" sekelas Albania, Israel, Makedonia, dan Liechtenstein. Tak seperti Spanyol yang mencetak 36 gol dalam 10 laga, Italia hanya mencetak 21 gol. Apalagi melawan Makedonia yang sempat menempati peringkat FIFA di luar 100 pada 2017 ini, Italia harus susah payah menang 2-3 dan imbang 1-1.

Lini tengah menjadi sorotan. Setelah Andrea Pirlo pensiun, nyaris tak ada pemain yang bisa mengendalikan lini tengah Italia. Claudio Marchisio berkutat dengan cedera. Begitu juga dengan Marco Verratti yang pada 2017 ini hanya bermain sebanyak empat kali dari total delapan kali penampilan timnas Italia. Daniele De Rossi pun semakin menua.

Di saat kondisi lini tengah Italia pincang seperti itu, Jorginho yang terus tampil mengesankan bersama Napoli tetap tak dipanggil. Saat tak ada Verratti (cedera) pada dua laga terakhir kualifikasi, Ventura justru memanggil dua pemuda yakni Bryan Cristante dan Nicolo Barella untuk bersaing dengan Roberto Gagliardini dan Marco Parolo.

Kemudian Ventura mengandalkan Gagliardini dan Parolo pada laga melawan Makedonia dan Albania dengan formasi dasar 4-2-4. Hasilnya Italia ditahan imbang 1-1 oleh Makedonia dan "hanya" menang 1-0 melawan Albania. Laga melawan Makedonia sendiri menjadi debut bagi Cristante yang masuk pada menit ke-75.

Ventura sendiri beralasan bahwa tidak dipanggilnya Jorginho karena tidak ada tempat bagi pemain dengan gaya permainan seperti kelahiran 20 Desember 1991 tersebut. Padahal dari segi permainan, Jorginho tak jauh berbeda dengan keempat pemain tengah yang dipanggil Ventura saat ini.

Menurut catatan Squawka, Jorginho menjadi gelandang tengah asal Italia dengan akurasi umpan tertinggi (92%). Jumlah tersebut lebih tinggi dari empat gelandang timnas Italia saat ini. Perlu menjadi catatan, Jorginho rata-rata menorehkan 102,4 operan per laga, lebih dari dua kali lipat yang dicatatkan tiga gelandang timnas Italia saat ini. Gagliardini "hanya" 69 operan per laga, Barella 41 operan per laga, Parolo dan Cristante 33 operan per laga.

Tidak hanya itu, Jorginho pun unggul dari segi umpan kunci, jumlah operan ke depan, sampai intersep. Walau begitu, Jorginho tidak handal dalam merebut bola. Hal ini tak mengherankan karena di Napoli ia bertandem dengan gelandang perebut bola yaitu Allan Marques. Tapi secara keseluruhan, jika mengacu statistik, Jorginho layak dipanggil ke timnas Italia.

Dari statistik di atas juga terlihat bahwa Jorginho bisa menjadi Pirlo baru di timnas Italia saat ini. Apalagi Napoli berhasil memuncaki klasemen sementara Italia, itu menjadi bukti bahwa Jorginho bisa bermain secara konsisten dengan level permainan terbaiknya. Satu-satunya alasan untuk tidak memanggilnya mungkin memang karena Jorginho seorang oriundi. Seandainya ia lahir di Italia, mungkin sejak era Antonio Conte (yang tidak anti terhadapi oriundi) pun ia akan menjadi langganan timnas Italia atas performa impresifnya bersama Napoli.

Italia memang tidak perlu anti terhadap pemain asing di timnas mereka. Tengok bagaimana timnas Portugal berhasil menjadi juara Piala Eropa 2016 lewat gol Eder yang merupakan kelahiran Guinea-Bissau. Atau misalnya timnas Prancis yang dengan meyakinkan lolos ke Piala Dunia 2018 (juara grup A) padahal para pemainnya mayoritas imigran. Siapapun berhak berbakti pada negara, tak peduli ia seorang pribumi atau bukan, selama ia punya kualitas dan kapabilitas untuk membuktikan diri.

Undian babak play-off yang digelar pada Selasa (17/10) menghasilkan laga antara Italia menghadapi Swedia. Dibanding kesebelasan lain yang berpotensi menjadi lawan Italia, seperti Irlandia Utara, Republik Irlandia dan Yunani, Swedia jelas menjadi lawan yang cukup berat. Oleh karena itu Italia harus memaksimalkan setiap potensi terbaik para pemainnya, termasuk salah satunya dengan mengandalkan Jorginho.

Jika tidak, bukan tak mungkin Jorginho hilang kesabaran dan akhirnya memilih timnas Brasil sehingga Italia kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Karena meski sudah dua kali membela timnas Italia, Jorginho masih bisa pindah timnas karena dua laga yang dijalaninya hanya berupa laga uji tanding. Walau begitu, Jorginho masih menunggu panggilan Italia, setidaknya hingga November, saat laga antara Swedia-Italia digelar.

"Kepindahan Jorginho tergantung pilihan kedua pelatih tim nasional. Saat ini, kedua pelatih tidak memanggilnya. Jadi ia akan memilih timnas yang memanggilnya terlebih dahulu. Kami akan menunggu [Italia] pada pertandingan berikutnya di bulan November," ujar agen Jorginho, Joao Santos.

Komentar