Soal Wasit Asing dan Seni Memimpin Pertandingan a la Mulyana Sobandi (Bagian II)

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Soal Wasit Asing dan Seni Memimpin Pertandingan a la Mulyana Sobandi (Bagian II)

Memimpin sebuah pertandingan bukan hanya perkara menerapkan peraturan yang sudah tercanang di dalam Laws of the Game dan juga regulasi kompetisi masing-masing negara. Lebih jauh, memimpin sebuah pertandingan adalah soal seni dan kecerdikan dalam membuat pertandingan menjadi lebih menarik. Setidaknya itulah yang Mulyana Sobandi ungkapkan.

Sebelumnya, ia sudah menjabarkan dan membeberkan pengalaman-pengalaman menariknya kepada tim Panditfootball soal kisah-kisah wasit selaku pengadil lapangan. Ia juga menjelaskan perihal bagaimana seharusnya wasit dibentuk, dan dibina sedemikian rupa oleh federasi sehingga kelak wasit yang diproduksi dapat menjadi wasit berkualitas yang dapat memimpin sebuah pertandingan dengan baik.

Dalam obrolannya lebih lanjut dengan tim Panditfootball, ia juga menjelaskan tentang sisi lain dari wasit. Selain mengutarakan pendapatnya soal wasit asing (yang menurutnya tidak penting-penting amat), ia juga menyebut bahwa wasit, sebagai elemen yang menunjang keberhasilan sebuah pertandingan.

Soal wasit asing, lebih baik meningkatkan kualitas wasit lokal

Per awal Agustus 2017, PSSI mulai menggunakan jasa dari wasit asing. Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, mengungkapkan bahwa ada enam wasit asing yang akan dipakai dalam ajang Liga 1 2017. Waktu penggunaan serta pertandingan apa saja yang akan dipimpin oleh wasit asing tersebut sudah ditentukan oleh PSSI.

“Ada enam wasit yang akan bertugas dalam periode pertama ini. Mereka akan diturunkan dalam dua set. Satu set sendiri terdiri dari wasit utama dan dua asisten wasit," ujar Ratu Tisha.

"Wasit asing akan memimpin dua pertandingan saja dalam satu periode. Tapi, kalau dalam satu periode itu jadwalnya padat mereka bisa tiga kali memimpin pertandingan. Misalnya, kalau setiap hari ada pertandingan, maka kemungkinannya ada dua pertandingan dalam satu pekan yang dipimpin wasit asing," tambahnya.

Wasit asing pun mulai pertama kali digunakan pada laga antara Persib melawan PS TNI yang dihelat pada Sabtu (5/8/2017) malam. Hasilnya, kedua pelatih tim, baik itu Herrie Setyawan maupun Ivan Kolev pun memuji kualitas yang ditunjukkan oleh wasit asing ini.

Namun, dalam laga antara Persija melawan PSM Makassar yang berlangsung di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Selasa (15/8/2017), kepemimpinan wasit asing menuai perhatian. Salah satunya adalah karena wasit tersebut menganulir gol Willem Jan Pluim karena sang wasit menilai Pluim melakukan handball. Padahal dalam tayangan ulang, terlihat bahwa gol Pluim itu bersih.

Hal ini pun tak luput dari perhatian Mulyana Sobandi, pria yang sudah menghabiskan separuh masa hidupnya menjadi pengadil di lapangan hijau. Pria yang juga pernah menjadi instruktur wasit PSSI dan AFC ini menyebut bahwa wasit lokal, pada dasarnya, punya kualitas yang tidak jauh berbeda dengan wasit asing. Menurutnya, yang harus dibenahi itu adalah soal peraturan dan pembenahan wasit itu sendiri.

"Saya kira sama saja (kualitas wasit asing dan wasit lokal). Apalagi peraturannya kan sama, yang berbeda hanya karena mereka dari luar negeri jadi orang-orang percaya bahwa mereka lebih hebat. Mereka juga belum tentu mampu, karena geografis dan budayanya kan berbeda. Budaya sepakbola kita berbeda. Yang harus memperbaiki kualitas wasit itu yang mengenal budaya sepakbola kita (federasi sepakbola Indonesia)," ujar Pak Mul.

Pak Mul pun menyebut bahwa salah satu cara untuk memperbaiki kualitas wasit itu adalah dengan melakukan refreshing bagi para wasit di Indonesia. Cara melakukan refreshing nya pun, menurutnya, harus dilakukan dengan banyak praktek di lapangan, agar para wasit dapat mengingat sekaligus tahu bagaimana situasi dan kondisi di lapangan sehingga kelak mereka tidak akan canggung saat memimpin pertandingan.

"Sekarang kalo ada refreshing juga hanya sehari dua hari. Bagaimana kalau satu minggu? Refreshing biasanya kan instrukturnya dari AFC, ia hanya menunjukkan contoh-contohnya dari video. Tidak mempraktekkan kalau bagaimana sebuah pelanggaran terjadi di atas lapangan. Harusnya langsung praktek di lapangan, termasuk asisten dan sebagainya."

Waktu saya di PSSI, dulu saya banyak praktek di lapangan. Di kelas paling sebentar, cuma pembekalan saja. Semua praktek, dan saya waktu itun pakai video (merekam). Setelah video, kita tayangkan lagi kesalahannya. Terus seperti itu biar mereka ingat," ujarnya.

Soal seni memimpin pertandingan yang harus dimiliki wasit

Dalam memimpin sebuah pertandingan, wasit memang harus mempraktekkan serta menerapkan apa-apa yang ada di regulasi dengan baik dan benar. Ketika ada kejadian yang layak dihukum kartu merah, ia harus memberikan kartu merah atas kejadian tersebut. Jika memang ada kejadian yang harus diganjar oleh kartu kuning, ia juga harus memberikan kartu kuning.

Namun, selain menerapkan regulasi, Pak Mul juga menyebut bahwa ada satu hal yang harus dimiliki oleh wasit ketika memimpin pertandingan. Itu adalah soal seni memimpin pertandingan. Seni inilah, menurutnya, yang akan membuat pertandingan berjalan lebih menarik dan lebih enak untuk ditonton oleh masyarakat. Ia mencontohkan kasus dalam Piala Dunia 2010, bahwa dalam pertandingan tersebut, wasit sudah bisa menempatkan diri sebagai orang yang benar-benar mengatur jalannya pertandingan (plus dengan seninya).

"Kita harus pinternya gini sebagai wasit. Anggap pemain itu bukan lawan, melainkan teman bermain di lapangan bagi wasit. Supaya permainan bisa berkembang, enak ditonton, contohnya bisa dilihat pada final Piala Dunia 2010 Spanyol lawan Belanda. Di menit-menit awal, ada pemain Spanyol yang ditendang (kejadian Nigel de Jong dan Xabi Alonso). Menurut aturan, itu harus kartu merah."

"Tapi, di sini saya melihat mindset dari wasit itu lain. Kalau itu terjadi kartu merah, Belanda kurang satu pemain, Spanyol bisa menang dengan skor 5-0 sampai 6-0, kan ga enak itu ditonton partai final. Itu hiburan. Wasit tidak salah, ini unsur lain. Kalau orang yang intelektual sepakbolanya tinggi ia akan merespon wasit saat itu. Kalau sampai kebobolan banyak gol, apalagi di partai final, pertandingan tidak akan seru," ungkap Pak Mul.

Hal di atas itulah yang Pak Mul sebut sebagai seni memimpin sebuah pertandingan. Menerapkan regulasi memang hal yang wajib dilakukan wasit. Tapi ada hal-hal lain di luar regulasi dan peraturan yang harus dipahami oleh wasit, yang bisa membawa pertandingan ke arah yang lebih enak dan menyenangkan untuk ditonton. Hal itulah, yang ia lihat, menjadi kekurangan dari wasit Indonesia sekarang. Ketakutan akan menciptakan kesalahan-lah yang menjadi pangkal sebabnya.

"Ketakutan sebelum memimpin yang sekarang kerap bikin wasit jadi sulit untuk menerapkan seni memimpin pertandingan ini. Wasit kerap tidak percaya diri. Intinya jangan takut bikin kesalahan, karena saya punya prinsip, kalau kita benar pasti selalu saja ada yang menolong. Sekarang ga ada seperti itu. Saya lihat banyak wasit waswas dan takut memimpin pertandingan. Padahal kalau kita bener-bener diulik tentang perwasitan ini, mereka ga perlu takut."

"Wasit itu harus punya kecerdikan. Tidak cukup pintar saja. Cerdik melebihi pemain. Contoh gini, ini pemain yang satu harus kartu kuning, yang satu harus kartu merah dari sebuah pelanggaran. Satu pemain dapat kartu kuning pertama, sedangkan pemain lain dapat kartu kuning kedua. Di sini kecerdikan wasit diuji. Kalau wasitnya cerdas, ia akan ngasih kartu kuning dulu, baru setelah tensi mereda, ia ngasih kartu kuning kedua. Itu baru wasit cerdik," ungkapnya.

Contoh yang menurut Pak Mul, wasit kurang cerdas dalam memberikan kartu

Jadi, dalam memimpin pertandingan, menurut Pak Mul peran wasit cukup diperlukan agar menciptakan suasana pertandingan yang seru. Menjalankan regulasi adalah satu soal, sedangkan mengeluarkan seni ketika memimpin pertandingan sehingga pertandingan menjadi seru adalah soal lain.

***

Wasit, seperti halnya manusia yang hidup di dunia ini, tak pernah luput dari kesalahan. Namun, bukan berarti wasit harus takut berbuat kesalahan, karena kesalahan di dalam sepakbola pada dasarnya adalah bagian dari seni sepakbola itu sendiri. Justru dengan adanya kesalahan, orang akan banyak belajar sehingga ke depan kesalahan yang sama tidak akan kembali terulang.

"Jangan lupa juga kalau kesalahan dalam sebuah pertandingan itu adalah seni sepakbola, menurut saya. Kalau ga ada kesalahan seperti itu hambar sepakbola. Hilang seninya kalau terlalu banyak mengandalkan teknologi."

"Dari kesalahan tersebut, banyak orang akan jadi pintar, karena mereka berdiskusi dan berdebat soal kejadian tersebut. Itulah seninya. Jadi pembelajaran bagi orang-orang karena orang-orang akan berkembang dari kesalahan. Menurut saya, jangan sampailah terlalu sempurna seperti itu. Dengan segala hal kontroversi yang terjadi di lapangan, kita juga akan berkembang sebagai wasit," tutupnya.

Pada intinya, menjadi wasit bukan hanya perkara memimpin pertandingan saja. Wasit, sebagaimana elemen pertandingan yang lain macam pemain maupun pelatih, bisa berkontribusi banyak dalam kemajuan sepakbola sebuah negara, tak terkecuali Indonesia.

Tulisan pertama tentang Pak Mulyana Sobandi: Mulyana Sobandi, Wasit, dan Sekelumit Kisah tentang Sang Pengadil

Komentar