Mulyana Sobandi, Wasit, dan Sekelumit Kisah tentang Sang Pengadil (Bagian I)

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mulyana Sobandi, Wasit, dan Sekelumit Kisah tentang Sang Pengadil (Bagian I)

Wasit adalah salah satu elemen penting yang harus ada dalam sebuah pertandingan sepakbola. Tidak ada wasit, maka sebuah pertandingan sepakbola tidak akan terlaksana. Ia adalah sebuah keniscayaan dalam suatu pertandingan.

Namun, perkara menjadi wasit sebuah pertandingan sepakbola bukanlah perkara gampang. Menjadi seorang wasit, maka kita harus siap menerima sebuah risiko. Salah satunya adalah dicerca dan menjadi bulan-bulanan para suporter yang memadati stadion. Teriakan yang menghina wasit, ataupun teriakan yang sifatnya memojokkan wasit, adalah hal lumrah yang acap terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Hal inilah yang diamini oleh Mulyana Sobandi, pria yang sudah menghabiskan hampir separuh hidupnya menjadi pengadil di atas lapangan hijau. Kepada tim Panditfootball, ia menceritakan awal mula kisahnya menjadi wasit, serta cerita-cerita soal wasit di Indonesia

Awalnya terpaksa, lama-lama jadi menikmati juga

Ditemui di rumahnya di daerah Cijerah, Bandung, Mulyana Sobandi, atau yang akrab disapa oleh warga sekitar sebagai Pak Haji Mul, menyebut bahwa ia sudah menjadi wasit dalam rentang waktu periode yang cukup lama. Ia sudah menjadi wasit sejak tahun 70an, dan menutup karier sebagai wasit pada tahun 2000an

"Wah sudah tak terhitung ya (pertandingan yang saya pimpin). Saya mulai jadi wasit tahun 1975 dulu, saya mulai dari Persib dulu. Kemudian pas 1975 itu saya masih pemain. saya kan dari UNI, ikut kompetisi, tapi sertifikat wasit sudah dapet. Sekali-kali sering ditugaskan, istilahnya C3 disebutnya (wasit Kota Bandung). Kemudian tahun 84 saya baru ikut C2 (lisensi wasit tingkat Jabar), nah, setelah itu tahun 86 saya ikut nasional, C1," kenangnya.

"Kemudian saya baru bertugas jadi wasit tahun 87/88. Waktu 88 itu saya mimpin laga Galatama. Tahun 90 saya ikut tes wasit untuk FIFA, alhamdulillah lulus. Saya jadi wasit FIFA sampai 1994, karena waktu itu usia dibatasi sampai 45 tahun (untuk wasit), waktu usia 44 saya nggak didaftarkan lagi ke FIFA. Sejak saat itu, terus saya jadi wasit nasional. Terjadilah penggabungan Galatama dengan Perserikatan," tambahnya.

Ia pun bercerita soal awal mula dirinya terjun di dunia perwasitan Indonesia. Pada mulanya, ia menjadi wasit hanya karena tuntutan kuota. Namun, berawal dari tuntutan pemenuhan kuota tersebut, ia akhirnya malah menceburkan diri sedalam-dalamnya ke dunia wasit. Ia bahkan pernah berada di jajaran Komisi Wasit PSSI selama beberapa tahun lamanya.

"Engga (kepikiran jadi wasit). Saya malah ingin jadi pelatih, Dulu saya melengkapi saja. Dulu kan dari pengurus Persib kan diundang dua orang untuk jadi wasit. waktu itu baru satu orang, saya hanya melengkapi saja. Eh akhirnya jalan terus, kita jadi mencintai profesi wasit ini. saya dulu menyusun buku soal peraturan permainan, dikhususkan untuk wartawan dan umum, habis kayanya bukunya. Buku itu saya cetak sebanyak 250 buku. Ditahan di PSSI 50 dibagikan pas Kongres PSSI, yang 200 dibawa ke Bandung. saya bagikan saja bukunya ke orang-orang yang mau," ungkapnya.

Beratnya menjadi seorang wasit

Menurut pria yang pernah menjadi instruktur wasit AFC ini, ada sebuah sisi lain dari wasit yang jarang diketahui publik. Ia mengungkapkan bahwa orang-orang kadang tidak tahu beratnya pekerjaan menjadi wasit. Wasit, di mata Sobandi, harus berpikir beberapa kali terlebih dahulu sebelum memimpin pertandingan. Bahkan, keselamatan pun menjadi sesuatu yang tak boleh luput dari perhatian.

"Permasalahannya gini, yang menyalahkan wasit itu biasanya penonton fanatik, manajer, pelatih, itu suka bertentangan sama wasit, beda dengan penonton yang objektif. Mana yang lebih dominan menyalahkan wasit, kan mereka aja (suporter fanatik, manajer, dan pelatih). Sampai sumpah serapah kadang-kadang keluar ketika menyalahkan wasit. Kan tidak baik seperti itu. Itu etika. Kalau di luar negeri kayak gitu kena denda. Sayangnya kita belum bisa seperti itu. Kapan? Kita mengharapkan supaya wasit itu betul-betul berjalan sesuai peraturan. Wasit kita mampu, asal didukung," ujarnya.

"Jadi, wasit itu sebelum mimpin mikir dulu, mikir keselamatan. Tapi mudah-mudahan, lama kelamaan sekarang kan penonton mulai paham. Dulu ga, dikit-dikit wasit goblok. Ada juga kewajiban dari wasit, harus bertanggung jawab dengan profesinya, harus konsisten dan istiqomah. Jangan sampai mimpin di Bandung begini, mimpin di Jakarta begini, itu kan permasalahan," ungkapnya.

Oleh karena itu, dengan beratnya beban menjadi seorang wasit ini, ia tak merasa heran ketika banyak pemain yang tidak mau meneruskan karier sebagai wasit seusai mereka menjadi pemain. Mereka lebih senang menjadi pelatih, mengingat tanggung jawab wasit yang terhitung cukup berat dan sulit.

"Hampir banyak, karena risikonya mungkin. Kebanyakan lebih suka jadi pelatih. Dulu di Persib banyak mantan pemain yang jadi wasit, seperti saya, Solihin Sakti (alm.), Pa Jajang Mujahidin (alm.), Pa Liston (alm.), itu mantan pemain. Ada Zulham Yahya juga, itu mantan pemain juga. Banyak dulu, karena dulu risikonya ga terlalu besar. Kalau sekarang kan ngeri. Dulu nggak," ujarnya.

Kenangan menjadi wasit, serta aspek yang harus dibenahi perihal wasit

Ia pun mengenang perbedaan yang ia alami ketika memimpin pertandingan dengan skala internasional dengan pertandingan skala nasional. Kala itu, dalam ajang Piala Kemerdekaan 1992, ia memimpin laga antara Australia melawan Thailand. Ia mengenang laga tersebut sebagai laga ketika pemain percaya kepada wasit.

"Saya berkesan ketika memimpin laga Piala Kemerdekaan Australia lawan Thailand, pas tahun 1992. Kenapa berkesan? Si pemain kan tinggi-tinggi, tapi mereka taat pada wasit. Itulah kesannya. Ko bisa begitu? Berarti para pemain tersebut percaya kepada wasit," ucapnya.

"Mereka (luar negeri) kalau protes lebih gentlemen. Etikanya muncul. Kalau di kita jarang, ada satu dua, tapi kebanyakannya arogan. Protes dorong sana dorong sini itu hal yang biasa di Indonesia. Kalau misalkan kita situasi secara psikologis, tensinya sedang naik, terus kita hajar dengan kartu, pertandingan pasti akan ribut. Belum lagi urusan dengan penonton, itu yang jadi masalah di kita. Jadi budaya kita itu belum sampai, olahraga masih dicampuradukkan dengan budaya daerah masing-masing, Harusnya itu gentlemen dan sportif, ini olahraga," tambahnya.

Maka, bagi pria yang mengidolai wasit Kosasih Kartadirja dan Jack Taylor ini (Jack Taylor adalah wasit yang memimpin partai final Piala Dunia 1974 antara Jerman Barat dan Belanda), ada banyak hal yang harus dibenahi agar wasit Indonesia semakin berkualitas, terutama masalah sistem perekrutan wasit. Selain itu, menggalakkan kembali kompetisi internal dapat menjadi cara lain melatih wasit sebelum ia terjun ke dunia profesional.

"Dari sistem dulu, dari sistem perekrutan wasit. Perekrutan wasit itu kan ada syarat-syaratnya, seperti harus berbadan sehat, punya kepribadian menyenangkan, punya pendidikan, dan mantan pemain. Dulu syarat itu (mantan pemain) adalah keharusan, Sekarang tidak kan? Kebanyakan. Kemudian pada tes kebugaran jangan asal dilaksanakan, harus benar-benar menyeleksi. Contoh begini. Dipanggil 100 orang, kita misalkan lulus hanya 20 orang."

"Seperti kemarin yang normalnya waktu tes hanya 19 orang saya lihat. Sudah 19 orang lulus. Nah muncul kebijakan nanti, karena kebutuhan akan wasit. Butuh wasit 75 atau 80 wasit, muncul kebijakan di situ. Begitu ada masalah, kita udah tahu karena wasit-wasit ini munculnya dari kebijakan. Kebijakan ini terus dipress, supaya tidak muncul. Nanti berkembang lagi kan. Itu permasalahan kita."

"Kemudian ada kelemahan dasar kita. Kalau daerah, kompetisinya jalan ga? Kompetisi internal? Banyak yang tidak jalan, kota besar tidak jalan, Jakarta tidak jalan. Hanya Surabaya saja, sedangkan wasit kan tidak fokus dari Surabaya, Wasit lebih banyak dari daerah yang tidak jalan kompetisi internalnya. Ini kan kendala buat wasit, karena kemampuan wasit jadi tidak terasah," ungkapnya.

***

Menjadi wasit memang bukan perkara mudah. Butuh tanggung jawab serta kebesaran hati untuk melakukannya. Pak Sobandi pun mengungkapkan bahwa wasit, sebagai elemen dari sebuah pertandingan, punya tanggung jawab tersendiri kepada sepakbola. Krisis kepercayaan yang sekarang terjadi, juga sebenarnya bisa diatasi jika wasit mau belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.

"Wasit harus banyak instropeksi diri masing-masing. Kedua meningkatkan kemampuan, belajar terus soal perwasitan. Jangan cepat puas juga karena kita sudah dibayar. Kita harus bertanggung jawab secara moral untuk sepakbola, supaya maju. Karena sepakbola sekarang industri, bisa mendatangkan apa saja. Semua bisa dari sepakbola."

Kita sebagai wasit, harus ada formulasinya untuk mengatasi krisis kepercayaan soal wasit. Bagaimana sekarang pengurus harus bertanggung jawab terhadap wasit. Bagaimana formulasinya supaya kepercayaan kepada wasit pulih kembali," pungkasnya.

Nantikan tulisan bagian dua soal seni memimpin pertandingan dan perihal wasit asing dari Pak Mulyana Sobandi

Komentar