Mencegah St. Totteringham??s Day, Mengakhiri Kesempurnaan Wenger

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mencegah St. Totteringham’s Day, Mengakhiri Kesempurnaan Wenger

Seperti kebanyakan kesebelasan saingan, Arsenal dan Tottenham Hotspur selalu dapat menemukan alasan untuk berbahagia. Derita Arsenal adalah bahagia Tottenham. Begitu pula sebaliknya. Memenangi pertandingan antara satu sama lain seolah merupakan hal terpenting sepanjang musim. Padahal,tentunya, hadiah pemenang perang jauh lebih besar ketimbang pemenang pertempuran.

Sepanjang putaran pertama, Arsenal hanya menghabiskan waktu empat pekan di empat besar. Selebihnya, Arsenal menjalani putaran pertama keluar masuk zona Eropa. Tottenham juga sama. Malah, mereka hanya satu kali berada di zona Champions League. Namun satu kali itu sangat berarti, karena Tottenham menjadi pemuncak klasemen sementara.

Tottenham menduduki puncak klasemen pada pekan kedua. Ini tentunya tidak bisa menjadi indikator kehebatan, karena saat itu peta kekuatan belum tergambar. Terlepas dari konteks utuhnya, keberadaan Tottenham di puncak klasemen pada pekan kedua bisa jadi sudah cukup untuk digunakan mengolok-olok Arsenal yang musim ini tak sekalipun menjadi pimpinan klasemen.

Memasuki tahun baru, Tottenham kembali memiliki alasan untuk mengolok-olok Arsenal. Kedua kesebelasan memulai putaran kedua dengan sama sekali berbeda. Ketika Tottenham meraih kemenangan meyakinkan 5-3 melawan Chelsea, Arsenal kalah dua gol tanpa balas di kandang Southampton.

Setelah Chelsea, Tottenham kalah dari Crystal Palace sementara Arsenal menang 3-0 melawan Stoke City. Kedua kesebelasan sama-sama mengantongi hasil sempurna dari pekan ke-22 dan ke-23. Tottenham mengalahkan Sunderland dan West Bromwich Albion, sedangkan Arsenal dua kali menorehkan clean sheet dari pertandingan melawan Manchester City dan Aston Villa.

Baik Arsenal maupun Tottenham sama-sama hanya mampu mengumpulkan sembilan angka dari empat pertandingan pertama di putaran kedua. Pertemuan kedua kesebelasan di pekan ke-24, karenanya, menjadi momen penentuan. Terlebih lagi karena kedua kesebelasan hanya bermain imbang pada pertandingan pertama; 1-1 di Emirates Stadium, 27 September 2014.

Di White Hart Lane, Mesut Özil membawa Arsenal unggul lebih dulu. Memanfaatkan umpan Olivier Giroud di menit kesebelas, Özil mencetak gol ketiganya musim ini. Arsenal berhasil mempertahankan keunggulan hingga turun minum. Pada babak kedua, tepatnya di menit ke-56, Harry Kane menyamakan kedudukan.

Namun empat menit sebelum pertandingan berakhir, Kane menyambut umpan Nabil Bentaleb dan mencetak gol kemenangan Spurs. Kane muda resmi menjadi seorang pria karenanya. Arsenal dipaksa menerima fakta gagal meraih kemenangan melawan Tottenham musim ini. Arsenal kalah pertempuran.

Kalah pertempuran tak lantas membuat Arsenal kalah perang. Setelah kalah dari Tottenham, Arsenal selalu berhasil meraih tiga angka. Sudah delapan pertandingan Premier League mereka jalani selepas kunjungan ke White Hart Lane, dan tak sekalipun Arsenal kalah. Tak sekalipun juga Arsenal bermain imbang. Dalam delapan pertandingan, Arsenal meraih delapan kemenangan. Leicester City, Crystal Palace, Everton, Queens Park Rangers, West Ham United, Newcastle United, Liverpool, dan Burnley kalah di tangan Arsenal.

Bagaimana dengan Tottenham? Di saat yang bersamaan, skuat asuhan Mauricio Pocchettino ini hanya mampu meraih empat kemenangan; melawan QPR, Swansea, Leicester, dan Newcastle. Melawan Liverpool dan Manchester United Tottenham kalah, sedangkan ketika berhadapan dengan West Ham United dan Burnley mereka hanya mampu bermain imbang.

Pasca kekalahan dari Tottenham, Arsenal terus meraup poin dan kini berada di peringkat kedua dengan raihan 66 angka. Tottenham, sementara itu berada sembilan poin di belakang Arsenal di peringkat keenam. Selisih sepuluh angka dengan pimpinan klasemen, Chelsea, membuat Arsenal tak memiliki peluang besar untuk menjadi juara. Namun mereka masih dapat memenangi perang yang lain: St. Totteringham’s Day, atau hari dimana Tottenham secara matematis tidak mungkin mengakhiri musim di atas Arsenal.

Dengan lima pertandingan tersisa untuk Tottenham (dan enam untuk Arsenal), pasukan Mauricio Pochettino masih sangat mungkin memaksa Arsenal kehilangan perayaan St. Totteringham’s Day musim ini; menyudahi rekor sempurna Arsène Wenger yang selalu berhasil membawa Arsenal mengakhiri musim di peringkat yang lebih tinggi dari Tottenham. Apalagi Arsenal masih harus menghadapi Chelsea dan Manchester United di sisa perjalanan mereka musim ini.

Lawan-lawan yang tersisa untuk Tottenham, sementara itu, adalah Southampton, Manchester City, Stoke City, Hull City, dan Everton. Secara matematis, mencegah St. Totteringham’s Day bukanlah pekerjaan mustahil. Namun jika berkaca kepada performa Arsenal belakangan, Tottenham menghadapi pekerjaan sulit. Berhasil atau tidaknya Tottenham mengakhiri musim di atas Arsenal kini tergantung kepada diri mereka sendiri. Selain, tentu saja, hasil pertandingan-pertandingan Arsenal.

Komentar