Perkembangan Teknologi Video Game dan Kecanduan Terhadapnya

Video Games

by Gunanda Hasdiansyah 27299

Gunanda Hasdiansyah

Pecandu game Football Manager yang mencintai sepak bola dengan segala keindahannya

Perkembangan Teknologi Video Game dan Kecanduan Terhadapnya

Halaman kedua...

FIFA atau PES? Perdebatan yang Tidak Akan Ada Habisnya

Perkembangan teknologi pada game juga menjangkiti sepakbola. Beberapa game sepakbola pun sudah bisa dimainkan secara online baik itu di komputer atau laptop maupun di konsol next-gen. Sebut saja FIFA yang dikembangkan oleh ES Sports, Pro Evolution Soccer (PES) atau Winning Eleven yang menjadi andalan Konami dan Football Manager buatan Sports Interactive yang berkolaborasi dengan SEGA.

Jika FM yang merupakan game simulasi manajerial sepakbola tidak mempunyai pesaing sepadan atau malah bisa dikatakan hanya merekalah yang bergerak pada bagian ini, maka hal yang berbeda terjadi dengan FIFA dan PES. Hal ini dikarenakan FIFA dan PES memiliki genre yang sama yaitu memfokuskan pada permainan di lapangan tanpa banyak mengurusi bagian dapur manajerial.

Berbicara tentang FIFA dan PES tentu akan selalu menjurus ke arah pembicaraan mana yang lebih baik di antara keduanya, dan ini sepertinya tidak akan pernah berakhir. Selalu akan muncul perdebatan yang berhubungan dengan fanatisme dan rasa tak mau kalah dari para fanatik kedua game tersebut. Layaknya perdebatan yang terjadi antara para fanatik IOS dengan android, walaupun terkadang mereka tidak mengetahui apa yang didebatkan, hanya mengikuti perasaan egois saja tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain.

Namun untuk saat ini sepertinya kita bisa mengatakan bahwa FIFA sedikit lebih baik dibandingkan PES. PES memang bisa dikatakan mengalami penurunan kualitas dari segi gameplay. Hal ini banyak dikeluhkan oleh para penggemarnya. Penurunan kualitas gameplay yang mencolok dilakukan Konami saat edisi PES 2014 diluncurkan. Banyak yang kecewa dengan hal ini, akibatnya kebanyakan penggemar PES beralih untuk mencoba FIFA. Dan ada juga yang masih tetap setia memainkan PES 2013 yang bisa dianggap sebagai generasi terbaik PES terakhir.

Pada akhirnya Konami memang menyadari kekurangan ini dengan mulai memperbaiki gameplay sedikit demi sedikit dari edisi PES 2015 sampai PES 2017. Namun, hal ini sepertinya tidak berpengaruh banyak terhadap mantan gamers PES yang sudah kadung berpindah ke lain hati. Hal ini dikarenakan mereka sudah terlanjur kecewa dengan PES dan merasa nyaman dengan FIFA. Hal ini juga drasakan oleh Kamal dan rekannya yang awalnya bermain PES sebelum terjadinya perubahan gameplay.

“FIFA, dulu sih iya PES sebelum 2014. Tapi Karena 2014 udah beda ke sananya, gameplay-nya beda jadi ga enak. Akhirnya nyobain FIFA dan pindah sampai sekarang,” ujarnya.

Ketika kami menanyakan apakah ada keinginan untuk balik lagi memainkan PES, dengan tegas mereka menjawab tidak. mereka juga menganggap branding yang dilakukan FIFA juga cukup berpengaruh untuk menarik minat gamers.

Enggak, soalnya gameplay-nya lebih real di FIFA, pertama nyobain sih karena kebanyakan viral di media sosial, pemain-pemain bola juga mainin FIFA. Itu ada pengaruhnya juga sih, mungkin karena branding-nya FIFA bagus,” tambahnya

Konami tentu harus bekerja lebih keras lagi agar para penggemarnya bisa kembali lagi ke pelukan mereka. Di zaman seperti saat ini, inovasi dan kreasi terbaru dan terbaik akan menentukan keberlangsungan suatu hal.

Komentar