Garis Pertahanan Tinggi vs Garis Pertahanan Tinggi, Mengapa Chelsea Bisa Menang Atas Liverpool?

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Garis Pertahanan Tinggi vs Garis Pertahanan Tinggi, Mengapa Chelsea Bisa Menang Atas Liverpool?

Chelsea sukses meraih poin penuh pada laga tengah pekan di Anfield. Gol tunggal Mason Mount cukup bagi The Blues untuk meraih kemenangan pada pertandingan yang dihelat Jum’at (5/3) dini hari waktu Indonesia. Duel taktik cukup kental pada laga ini melihat kedua tim sama-sama bermain dengan garis pertahanan tinggi.

Bermain dengan blok rendah menjadi salah satu resep favorit untuk menaklukkan Liverpool musim ini. Bahkan, Pep Guardiola sekali pun tidak menerapkan high pressing seperti yang biasanya dilakukan Manchester City ketika menghajar Liverpool dengan skor 4-1 di Anfield bulan lalu. Salah satu gol Man City memang berasal dari high pressing, tapi jika dilihat secara keseluruhan, intensitas pressing Man City tidak setinggi biasanya. Dilansir dari Understat, passes per defensive action (PPDA) Man City hanya 20,63 pada laga itu. Berbeda jauh dengn rataan PPDA Man City musim ini di angka 10,49. Semakin tinggi angka PPDA, semakin rendah intensitas pressing sebuah tim. Namun, Thomas Tuchel memilih taktik yang berbeda.

Chelsea tetap melakukan high pressing. Bahkan mereka menerapkan garis pertahanan tinggi ketika Liverpool berhasil progresi bola ke daerah pertahanan Chelsea. Taktik ini mempersempit ruang antar lini sehingga menyulitkan Liverpool untuk berkreasi, namun meninggalkan ruang yang besar di belakang lini pertahanan.

Seperti biasa, Jurgen Klopp menerapkan garis pertahanan tinggi meski mereka masih dalam krisis bek tengah. Ozan Kabak dan Fabinho diplot menjadi tandem bek tengah. Taktik kedua tim sama-sama berisiko namun membuat pertandingan berjalan menarik. Merespons taktik lawan, Liverpool dan Chelsea mencoba eksploitasi ruang di belakang lini pertahanan lawan dengan cara yang berbeda.

Cara Liverpool adalah melepaskan bola diagonal dengan target Sadio Mane atau Mohamed Salah. Pergerakan Roberto Firmino yang turun diharapkan menarik bek tengah Chelsea sehingga tercipta ruang bagi Mane dan Salah. Peluang pada menit ke-28 ini contohnya.

Mane berhasil menemukan celah antara Cesar Azpilicueta dan Andreas Christensen. Umpan diagonal Salah membuat Mane memiliki peluang emas. Eksekusi yang kurang baik dari pemain asal Senegal itu, membuat Liverpool gagal mengancam gawang Chelsea.

Salah kembali berperan dalam skema ini. Pada masa tambahan waktu babak pertama, terdapat celah yang cukup besar di pertahanan Chelsea. Hal ini terjadi karena Firmino dan Mane melebar sehingga menarik tiga bek Chelsea. Reece James terkunci oleh Andy Robertson di sisi berlawanan.

Curtis Jones naik dan memanfaatkan celah tersebut. Sekali lagi tidak ada yang salah dari umpan diagonal Salah, namun Jones gagal menerima umpan dengan baik. Ia gagal mengontrol bola dan Liverpool kehilangan momentum.

Tidak ada gol atau setidaknya peluang tercipta dari skema ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara Liverpool mengeksploitasi garis pertahanan tinggi Chelsea. Hal yang harus diperbaiki adalah eksekusi para pemain. Kegagalan skema ini membuat Liverpool juga gagal mengancam gawang Chelsea secara keseluruhan. The Reds hanya mencatatkan tujuh tembakan dengan total expected goals (xG) sebesar 0,32.

Tuchel membeberkan alasannya memilih Timo Werner sebagai striker pada wawancara sebelum laga. “Kecepatan. Kecepatan melawan garis pertahanan tinggi. Kami membutuhkan itu,” ujar pelatih Jerman tersebut ketika ditanya mengapa memilih Werner ketimbang Olivier Giroud.

Werner memiliki peran vital dalam taktik Tuchel. Kecepatan yang dimiliki diharapkan mampu mengekspos garis pertahanan tinggi Liverpool. Umpan terobosan lambung menjadi senjata Chelsea untuk menyuplai Werner. Selain itu, kedua sayap Chelsea yang diisi oleh Mount dan Hakim Ziyech juga mencoba memberikan umpan terobosan dari half space. Terlihat dari grafik umpan ke Werner yang dominan umpan terobosan jarak jauh. Skema ini membuat striker Jerman tersebut mencatatkan tiga tembakan, terbanyak di pertandingan bersama Mount.

Hal tersebut juga menjadi alasan Tuchel memasang Jorginho. Gelandang Italia tersebut memiliki umpan lambung yang akurat sehingga run in behind Werner tidak sia-sia. Kombinasi ini membuahkan gol pada babak pertama, namun dianulir VAR karena offside.

Taktik garis pertahanan tinggi melawan Liverpool memang cukup berisiko. Jika Liverpool mampu mengeksekusi skema bola diagonal dengan baik, maka Chelsea bisa saja kebobolan. Secara pertahanan, taktik ini memang menghadirkan kelemahan bagi Chelsea. Namun taktik ini digunakan agar transisi Chelsea bisa lebih efektif.

Lini pressing yang sudah dieliminasi oleh Liverpool tidak banyak turun dan melakukan backward pressing. Hal ini membuat mereka berada di area yang tinggi. Tujuannya untuk opsi umpan ketika serangan balik. Taktik ini sukses menghasilkan gol Mount.

Pemain jebolan akademi Chelsea itu terlihat tidak mundur ketika dilewati. Alasannya bukan work rate rendah karena Mount merupakan pemain Chelsea yang sangat agresif ketika bertahan, tapi lebih karena alasan taktik. Umpan Firmino ke Jones berhasil dipotong Azpilicueta dengan sundulan ke N’golo Kante. Gelandang Prancis tersebut kemudian melepaskan umpan lambung ke Mount di sisi kiri. Tembakan keras Mount gagal diselamatkan Alisson.

Gol tersebut menjadi gol kemenangan Chelsea. Mount patut diberi kredit karena ia berperan sebagai pembeda pada laga ini. Namun pertahanan Chelsea juga tidak bisa dikesampingkan. Christensen bermain luar biasa. Tuchel mampu membuat Chelsea sangat kuat ketika bertahan, baik itu secara kolektif maupun individu. Dari delapan laga yang sudah dijalani Tuchel di Premier League, Chelsea hanya kebobolan dua gol.

“Mereka memaksa kami melakukan kesalahan, kami memaksa mereka melakukan kesalahan. Mereka memaksimalkan kesalahan kami, kami tidak memaksimalkan mereka,” ujar Klopp. Pernyataan tersebut merepresentasikan jalannya pertandingan. Kedua tim sama-sama memiliki rencana untuk mengeksploitasi kelemahan lawan, Chelsea menang karena mereka mengeksekusi skema mereka dengan baik.



Komentar