Apa Bedanya Liverpool 2019/20 dengan yang Sebelumnya?

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Apa Bedanya Liverpool 2019/20 dengan yang Sebelumnya?

Tahun 2019 adalah tahunnya Liverpool FC: Champions of Europe, winners of the Super Cup, dan Champions of the world. Mereka sangat percaya diri dan sedang on the way menjadi Champions of England untuk 2020.

Ketika mereka menjadi juara Liga Champions UEFA 2019, itu adalah trofi pertama The Reds dalam tujuh tahun terakhir. Kemudian pertandingan Piala Super UEFA di Istanbul pada musim panas 2019 menjadi nostalgia mereka terhadap kota yang membikin mereka juara Eropa dengan dramatis pada 2005—meski berbeda stadion. Liverpool kemudian menutup akhir 2019 dengan menjadi juara dunia di Doha, Qatar.

Menilai kesuksesan Liverpool di 2019 tak bisa hanya dari trofi. Ada proses panjang yang dilalui kesebelasan asal Merseyside tersebut. Tahun 2019 adalah tahun keempat Jürgen Klopp di Liverpool.

Singkatnya jika ditanya apa bedanya Liverpool-nya Klopp di 2019/20 dengan musim-musim sebelumnya, saya bisa menjawab begini: Liverpool sekarang bisa menahan agar tak terlalu bermain pressing, bermain lebih kalem, terutama pada saat-saat sulit, dan menang tanpa bermain bagus. Singkatnya: mereka sudah bisa win ugly. Sinonimnya: itu adalah syarat sah sebuah kesebelasan bisa juara liga.

Masalah Liverpool pada 2015-2018: Mereka Terlalu Energik

Pada September 2017—hampir dua tahun setelah Klopp melatih Liverpool—saya pernah menulis sebuah analisis taktis jika Liverpool akan sulit juara bersama Klopp.

Saya tentu punya alasan dan data yang jelas. Pada 2015 sampai 2017 itu, Liverpool terlihat sangat rentan meski mereka bisa bermain sangat amat bagus. Mereka kesulitan mempertahankan keunggulan dan menjaga konsistensi kemenangan, terutama saat melawan kesebelasan yang lebih lemah.

“Dulu orang bisa bilang kami main sangat bagus di satu laga, tapi laga berikutnya kami imbang atau bahkan kalah. Sekarang ada konsistensi, bahkan ketika kami struggling,” kata James Milner, dikutip dari The Athletic.

Apa yang Milner katakan ada benarnya. Saat ini ketika mereka kesusahan pun, mereka tetap tak kehilangan ritme permainan. Dalam olahraga, ini dikenal dengan “game management”.

“Itu kombinasi dari pengalaman, bermain bersama, saling percaya, dan pada akhirnya tim ini berevolusi. Awalnya kami terlalu gung-ho (menyerang dan menekan kesetanan). Namun kami berkembang sejak itu,” lanjut Milner.

Ada alasan kenapa Klopp sangat energik atau sangat “gung-ho”—seperti yang Milner katakan—pada masa-masa awal dia masuk Liverpool. Dia melakukannya karena dia ingin orang-orang percaya (believers) dengan gaya heavy metal-nya.

Klopp pernah berkata bahwa gegenpressing adalah “playmaker”-nya. “Tidak ada playmaker di dunia ini yang bisa sebagus ketika situasi counter-pressing yang bagus,” kata Klopp yang sangat mengagungkan transisi.

Dengan gaya permainan gegenpressing Klopp yang menguras stamina, Liverpool selalu kehabisan energi: (1) menjelang akhir pertandingan dalam jangka pendek, dan (2) menjelang akhir musim dalam jangka panjang.

Bukan kebetulan pada musim pertama Klopp, The Reds kalah di final Liga Europa dan Piala Liga. Pada musim kedua mereka kalah di semifinal Piala Liga. Sementara pada musim ketiga, mereka kalah di final Liga Champions. Pada final Liga Champions 2018 itu, misalnya, blunder menjadi konsekuensi permainan menekan yang sangat bikin capek.

Namun sejak awal 2018/19, Liverpool hanya kalah sekali di Premier League, yaitu dari Manchester City pada Januari 2019. Sampai kalender berganti tahun ke 2020, mereka melalui 55 laga dengan 46 kemenangan dan delapan kali imbang. Pada saat itu, mereka juga memimpin di puncak klasemen dengan selisih 13 poin plus masih memiliki satu pertandingan tabungan.

Baca juga: New Balance Football dan Liverpool yang Berhenti Berlari Bersama

Jadi, apa bedanya Liverpool 2015-2018 dengan Liverpool 2018-2020? Jika mereka tetap bergaya gegenpressing, bukannya berarti mereka akan kehabisan bensin juga di setiap akhir musim?

Hipotesis: Tekanan Liverpool Tidak Setinggi Sebelum-sebelumnya

Sebelum membahas pressing, mari kita sedikit menggali taktik Liverpool secara umum. Melaui pendekatan taktis, Liverpool bermain dengan formasi 4-3-3 menggunakan tiga gelandang yang sangat compact dengan tugas ball-winning. Sesuai filosofi gegenpressing, yaitu merebut bola secepatnya dan pada posisi se-advanced mungkin.

Permainan sayap mereka disediakan oleh kedua full-back, yaitu Trent Alexander-Arnold di kanan dan Andrew Robertson di kiri. Sementara itu kedua winger—Mohamed Salah di kanan dan Sadio Mané di kiri—bermain narrow. Maka dari itu, Roberto Firmino yang berperan false nine jadi penyambung di antara mereka.

Selain mereka, ada Alisson Becker, Virgil van Dijk, dan Fabinho yang menjadi kunci compactness Liverpool. Kadang Klopp mengubah ke 4-2-3-1 ketika full-back butuh kaver. Hal ini dia lakukan untuk menjaga area di belakang bek sayap Liverpool yang sering dieksploitasi lawan.

Sekarang, mari kita jawab soal apakah tekanan Liverpool menurun pada 2019/20 dibandingkan musim-musim sebelumnya. Masalahnya, apa ada statistik yang bisa mengukur pressing seorang pemain atau sebuah kesebelasan? Ternyata ada!

Wyscout memiliki formulasi passes per defensive actions (jumlah operan dibagi aksi-aksi bertahan) untuk mengukur intensitas pressing. Semakin rendah angkanya, maka semakin proaktif defence dan pressing seorang pemain atau sebuah kesebelasan.

Tifo Football kemudian merangkum passes per defensive actions (selanjutnya akan disingkat menjadi PPDA) Liverpool selama dilatih Klopp.

Pada 2015/16, Liverpool menempati peringkat kedua PPDA di liga dengan 7,44 PPDA (rata-rata liga adalah 9,45 PPDA). Kemudian 2016/17, Liverpool berada di peringkat ketiga dengan 8,05 PPDA (rata-rata liga 10,61). 2017/18 peringkat keempat dengan 9,45 (11,58). 2018/19 peringkat keenam dengan 10,08 (11,77). Sementara sampai sebelum Tahun Baru, Liverpool mencatatkan 8,46 PPDA (rata-rata liga 11,67) yang membuat mereka berada di peringkat ketiga sebagai kesebelasan yang paling nge-press di Premier League.

Dari angka-angka di atas, terlihat justru pressing Liverpool meningkat musim ini. Padahal, kalau menonton pertandingan Liverpool, sepertinya persepsinya Liverpool tidak semenekan itu. Pertanyaan lanjutannya: kenapa itu bisa terjadi?

Itu terjadi karena sepanjang 2019/20 ini kedua full-back mereka naik tak sampai ke depan (berada di wilayah pertahanan lawan) ketika menekan lawan, melainkan sampai ke posisi tengah (wide midfielder) saja.

Artinya, kedua full-back diberi tanggung jawab bertahan yang lebih banyak sekarang. Artinya lagi, letak pressing mereka yang tadinya di attacking third, mereka turunkan menjadi di middle third di mana ada dua bek sayap, tiga gelandang, plus tiga penyerang yang menekan.

Singkatnya, musim ini Liverpool melakukan pressing secara situasional. Hebatnya, ini bisa lebih efektif karena ada banyak pemain yang terlibat meski posisinya tak se-advanced biasanya, serta mereka juga jadi lebih bisa menyimpan energi. Itu semua membuat Liverpool mampu melaju jauh dan konsisten.

Itu lah kenapa sudah tak relevan lagi menganggap gegenpressing Klopp melelahkan. Di Liverpool, taktik Klopp berhasil mengalami evolusi.

Penentu pada Faktor Karakter dan Mentalitas

Masalah skill dan taktik, itu bisa diadu. Namun di sepakbola, di saat perbedaan skill dan taktik antara kesebelasan papan atas hanya setipis offside hasil VAR, ada elemen lain yang berpengaruh. Elemen tersebut adalah karakter dan mentalitas.

“Mentalitas kami menyala-nyala. Kami akhirnya menemukan caranya [untuk menang secara konsisten],” kata Jordan Henderson, pemain yang tidak pegal-pegalnya mengangkat trofi sepanjang 2019, dikutip dari The Athletic.

Baca juga: Momentum di Sepakbola – Antara Mitos dan Sains

Banyak yang bilang kalau Liverpool “hokinya banyak” dan “sering” musim ini. Namun di sepakbola, keberuntungan bisa diciptakan. Kutipan mendiang Johan Cruyff (“kebetulan itu logis”) sudah terlalu sering dipakai tanpa konteks, tapi Liverpool bisa memberikan konteks sempurna.

Jika hanya terjadi satu, dua, atau tiga kali, itu bisa dibilang kebetulan. Namun kalau sudah berkali-kali, itu bisa tergolong mentalitas atau karakter. Musim ini Liverpool dua kali menyamakan kedudukan di atas menit ke-85. Kemudian mereka berhasil empat kali mencetak gol kemenangan di atas menit ke-85. Mereka bahkan menjadi juara dunia setelah mencetak gol di menit ke-99.

“Kepercayaan diri mereka, kritik mereka terhadap diri sendiri, itu yang membuat kami konsisten. Orang-orang bilang [kami berkomitmen] dari pertandingan ke pertandingan. Tidak, kami komitmen dari sesi [latihan] ke sesi [latihan]. Hal-hal kecil membuat hal-hal besar terjadi. Kamu harus fokus melakukan hal-hal kecil dengan benar secara konsisten,” kata Pep Lijnders, asisten Klopp di Liverpool.

Soal mentalitas atau karakter ini lah yang menjadi pembeda Liverpool di 2019 (dan 2020) dibandingkan dengan 2015 sampai 2018, meski sama-sama di bawah Klopp sebagai manajer.

Lagi-lagi, itu bukan proses instan. Saat pertama kali Klopp datang ke Liverpool, dia berkata bahwa dia memang ingin mengubah mentalitas pemain, suporter, dan seluruh kesebelasan dari yang asalnya “doubters” menuju “believers” (dari sekumpulan orang ragu-ragu menjadi orang-orang yang percaya, yang “beriman”).

Banyak yang bilang Klopp sudah berhasil melakukan itu pada sebelum 2019. Sementara sejak 2019, Klopp sudah naik level lagi, yaitu dengan mengubah mentalitas Liverpool dari “believers” menjadi “achievers”; menjadi sekumpulan orang yang berprestasi.

Bersiap Juara Premier League

Sebetulnya masih ada beberapa perbedaan Liverpool antara 2019/20 dengan musim-musim sebelumnya. Namun, perbedaan yang paling mencolok ada pada seluruh pembahasan di atas.

Musim ini Klopp bisa lebih menyetel Liverpool untuk tak terlalu energik, yang membuat performa bagus Liverpool bisa tahan lama, serta Klopp juga sudah berhasil memperbaiki karakter dan mentalitas para pemainnya (dan juga suporternya).

Liverpool bisa dibilang adalah entitas ideal sebagai kesebelasan, secara tim, karena peran Klopp. Para pemain muda mereka bisa berkembang. Alexander-Arnold hanya salah satu contoh yang berhasil menjelma menjadi full-back kanan sekaligus playmaker kelas dunia. Bahkan tim muda mereka berhasil menang atas tim utama Everton di Piala FA 2019/20.

Kepercayaan Klopp terhadap para pemainnya ini yang membuat para pemain muda bisa tiba-tiba tampil sangat luar biasa. Dengan memainkan Takumi Minamino, total ada 77 pemain berbeda sepanjang era pelatih asal Jerman tersebut. Menariknya, 30 pemain di antaranya berasal dari pemain akademi. Total 10 pemain menjalani debut di era Klopp, salah satunya Alexander-Arnold. Memberi kepercayaan pada pemain muda artinya menyiapkan tim untuk masa depan.

Selain itu, Liverpool juga berhasil membeli pemain dengan efektif dan sesuai kebutuhan, terutama pembelian Van Dijk (pemain terbaik kedua di dunia setelah Lionel Messi versi Ballon D’Or), Alisson (kiper terbaik dunia versi Ballon D’Or juga), dan Fabinho.

Pembelian Van Dijk sempat dianggap terlalu mahal, tapi ternyata dia memang jago sungguhan; lebih tepatnya klop dengan strategi Klopp. Bahkan sekarang, siapapun tandem Van Dijk (apakah Joel Matip, Joe Gomez, atau Dejan Lovren), tetap tak akan membuat pertahanan Liverpool buruk.

Kemudian The Reds juga punya pemain yang bisa bermain di banyak posisi seperti Milner, Xherdan Shaqiri, Adam Lallana, dan Alex Oxlade-Chamberlain, sehingga cedera atau akumulasi kartu tak terlalu menjadi masalah. Para pemain versatile ini pun bisa bermain bagus ketika dimainkan, dalam situasi segenting apapun; teranyar kala Milner yang menggantikan Naby Keïta beberapa menit sebelum kick-off.

“Saya tidak tahu Keïta cedera saat pemanasan sampai kami berjalan menuju ruang ganti. Namun saya, semua pemain, selalu siap dimainkan kapan saja,” kata Milner.

Pada akhirnya dari petualangan Klopp bersama Liverpool sejak 2015, kita diberikan pelajaran berharga soal rencana kesebelasan (manajemen) dan pelatih yang berjalan sesuai rencana. Itu semua sebuah proses yang sangat-sangat tidak instan. Kesebelasan lain juga pasti punya rencananya masing-masing, tapi tidak “seberuntung” Liverpool yang bertemu pelatih yang tepat dalam diri Klopp.

Terlalu dini mengucapkan selamat kepada Liverpool. Namun melihat gelagatnya sejauh ini, sangat wajar jika Liverpool pada akhirnya bisa juara liga dan mulai membangun diri mereka kembali menjadi raksasa dunia, bukan hanya di Inggris.

Selamat menikmati sepakbola Liverpool.

Komentar