Ketika Seorang Padoin Menjadi Andalan Juventus

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ketika Seorang Padoin Menjadi Andalan Juventus

Sejak ditangani oleh Antonio Conte, posisi bek kiri telah menjadi salah satu titik lemah raksasa Italia, Juventus. Bahkan setelah pelatih berusia 45 tahun ini tiga musim menangani tim dan kemudian mengundurkan diri, posisi ini masih menjadi persoalan bagi tim berjuluk ‘La Vecchia Signora’ ini.

Di awal kepemimpinannya bersama ‘Si Nyonya Tua’, Conte hanya mengandalkan pemain lulusan akademi Juventus, Paolo De Ceglie. De Ceglie menjadi pilihan utama pada pos bek kiri karena saingannya, Fabio Grosso, sudah terlalu uzur dan sering menderita cedera.

Kontribusi De Ceglie sangat minim bagi skuat Juventus. Maka ketika Conte mengubah pakem dari 4-2-4 menjadi 3-5-2, De Ceglie pun jarang mendapat kesempatan bermain. Conte lebih memaksakan Kwadwo Asamoah untuk mengisi wingback kiri meski pemain asal Ghana ini berposisi asli sebagai gelandang bertahan.

Memang, Juve berhasil meraih tiga scudetto, namun sisi kiri tetap menjadi persoalan. Pada awal musim ini, nama-nama seperti Alexander Kolarov, Domenico Cricito, Fabio Coentrao, hingga Marcelo digosipkan untuk merapat ke Turin. Namun pada akhirnya, pilihan manajemen jatuh pada bek kiri asal Prancis yang bermain untuk Manchester United, Patrice Evra.

Lantas apakah Evra yang merupakan pemain berpengalaman mampu menjadi jawaban atas persoalan bek kiri Juventus? Tidak. Hingga saat ini, Evra baru bermain sebanyak 509 menit dari enam pertandingan. Suksesor Conte, Massimilliano Allegri, lebih memilih Asamoah sebagai penghuni bek kiri ataupun wingback kiri.

Persoalan muncul ketika menjelang menghadapi Malmo pada pertandingan kelima Liga Champions, para pemain bek kiri yang dimiliki Juve cedera. Evra kemungkinan baru bisa berlaga pada awal Desember. Sama halnya dengan Asamoah yang sudah cedera sejak beberapa pekan sebelumnya.

Biasanya, Juve menempatkan Giorgio Chiellini pada pos bek kiri ketika pemain bek kiri cedera. Namun karena bek tengah Juve pun tengah krisis karena Andrea Barzagli, Martin Caceres dan Angelo Ogbonna mengalami cedera, otomatis Chiellini diharuskan bermain sebagai bek tengah untuk menemani Leonardo Bonucci.

Dengan terpaksa, Allegri pun harus kembali mengandalkan gelandang serba bisa, Simone Padoin, untuk mengisi pos bek kiri pada formasi 4-3-1-2 yang diandalkannya pada beberapa pertandingan terakhir. Padoin yang biasanya ditempatkan sebagai gelandang tengah, memang sudah dipasang sebagai bek kiri sejak melawan Parma, dua pertandingan sebelum melawan Malmo.

Dan ternyata, Padoin bermain sangat apik pada laga ini. Juventus melakukan cleansheet pada laga. Situs data statistik whoscored.com memberikan nilai 7.3 pada pemain berusia 30 tahun ini. Nilai ini lebih baik dari Stephan Lichtsteiner, mendapat nilai 6.7, yang merupakan bek kanan andalan Juventus.

Sedangkan menurut situs statistik lainnya, Squawka, Padoin mencatatkan 100% akurasi umpan di mana ia bermain selama 90 menit. Itu artinya, tak ada satupun 38 umpan yang dilepaskan Padoin pada laga ini yang gagal mengenai sasaran. Bahkan dua diantaranya menjadi peluang yang nyaris menjadi gol.

padoin


Grafis umpan Padoin saat menghadapi Malmo


Sebenarnya bukan pada laga ini saja Padoin bermain gemilang. Saat Juve menghancurkan Parma dengan skor 7-0, Padoin mendapatkan nilai 8.2 dari whoscored, di mana pada laga ini ia mencetak satu assist bagi Juventus.

Pun begitu pada akhir pekan lalu ketika Juve membenamkan Lazio dengan skor 3-0. Padoin mencatatkan 3 tackles, 4 clearance, dan 2 dribble sebelum mendapatkan kartu merah karena menerima kartu kuning kedua.

Dari catatan ini, sejak Padoin mengisi pos bek kiri, Juve selalu menorehkan kemenangan dengan tanpa sekalipun kebobolan. Dan yang perlu menjadi digaris bawahi, tiga laga beruntun sebagai starter ini merupakan yang pertama sepanjang karirnya di Juventus yang sudah dibelanya selama empat musim.

Pada ketiga laga tersebut, Padoin selalu bermain sebagai bek kiri. Dan karena ia selalu tampil mengesankan meski bermain bukan pada posisi idealnya, ia pun mendapati julukan baru, Mr. Reliable (dapat diandalkan). Padoin tentu saja sangat terkejut dirinya mendapatkan kepercayaan ini.

“Itu semua menjadi hal yang mengejutkan bagiku,” ujar Padoin seperti dikutip dari situs resmi Juventus berbahasa Indonesia. “Saya senang sekali, pelatih memutuskan untuk memainkan saya pada posisi bek kiri, dan saya memberikan semua yang saya bisa. Saya dua kali berbahagia saat bisa berkontribusi pada kemenangan tim.”

Lalu apakah Padoin akan menjadi jawaban titik lemah bek kiri Juve yang selalu menjadi persoalan selama ini? Jika ya, tentunya ini akan menjadi prestasi yang luar biasa baginya. Karena sebelum bergabung dengan Juve, Padoin hanya bermain bersama Vicenza dan Atalanta, klub medioker Italia.

Jadi, percaya atau tidak, bek kiri andalan Juve saat ini bukanlah Asamoah, Evra, ataupun pemain-pemain yang  terus digadang-gadang akan bermain membela Juventus seperti Kolarov, Coentrao, ataupun Marcelo. Tapi bek kiri yang diandalkan Juve saat ini adalah seorang bernama Padoin. Ya, Mr. Reliable itu bernama Simone Padoin.

foto: juventus.com

Komentar