Simbiosis Mutualisme Sepakbola dengan Amerika dan Tiongkok

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Simbiosis Mutualisme Sepakbola dengan Amerika dan Tiongkok

Kenapa banyak pesepakbola yang hijrah ke Amerika Serikat atau Tiongkok? Pertanyaan ini sebenarnya hampir kita semua sudah tahu jawabannya. Tapi masalahnya, “sudah tahu” itu belum tentu bisa “menerima”.

Tengok saja keputusan Graziano Pellè untuk pindah dari kesebelasan Liga Primer Inggris, Southampton, menuju Shandong Luneng di Liga Super Tiongkok (Chinese Super League). Kita mungkin sudah tahu, bisa mengerti, dengan keputusan pemain asal Italia tersebut, tapi belum tentu kita bisa menerimanya.

Ngapain, sih, dia pindah ke China?”, atau pertanyaan yang sejenisnya membuat kita hampir menghakimi secara sepihak keputusan (hampir) semua pemain yang pindah ke (umumnya) Tiongkok dan Amerika Serikat.

Jika kita percaya laporan pada umumnya, Pellè akan menjadi salah satu dari 10 pemain dengan bayaran tertinggi di dunia. Ia akan dibayar 34 juta paun (Rp 585 M) selama dua setengah tahun, atau sekitar Rp 4,5 M per pekan.

Berdasarkan nilai kurs paun ke rupiah pada 26 Juli 2016 (saat tulisan ini dibuat), berarti Pellè bisa membeli 300 buah telepon genggam iPhone 6s setiap pekannya. Atau dengan standar hidup mewah sekalipun, uang sebanyak itu bisa menghidupi satu orang dari lahir sampai ia meninggal.

Jadi tidak mengherankan bukan jika pemain berusia 31 tahun itu menerima tawaran uang melimpah tersebut? Lagipula bukan hak kita untuk menghakimi seorang pemain sepakbola yang pindah karena alasan finansial.

Kemudian jika kita kategorikan pemain sepakbola yang pindah ke Amerika atau Tiongkok, kita bisa menemukan umumnya ada dua kelompok kategori.

Yang pertama adalah pemain yang sudah tua, yang puncak kariernya sudah atau sedang terjadi. Misalnya David Villa (New York City FC), Obafemi Martins (Shanghai Shenhua), dll. Lalu yang kedua adalah pemain yang sempat digadang-gadangkan sebagai pemain yang akan bersinar, tetapi selanjutnya tidak bisa mencapai ekspektasi tersebut. Misalnya Giovani dos Santos (LA Galaxy), Gaël Kakuta (Hebei China Fortune), dll.

Jadi, dimana posisi Pellè? Dengan usianya yang sudah 31 tahun, sebenarnya ia bisa dibilang late bloomer atau pemain yang terlambat mencapai puncak kariernya. Namun kembali, bukan hak kita untuk men­-judge setiap pemain yang pindah ke Amerika ataupun Tiongkok.

Mengesampingkan beberapa masalah di atas, berikut faktor-faktor yang membuat adanya hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara sepakbola dengan Amerika (umumnya Major League Soccer) dan Tiongkok (CSL).

Faktor uang

Tidak dapat dimungkiri, uang adalah penggerak utama, motivasi utama, bagi seorang manusia. Kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan dapat kita penuhi dengan mudah jika kita sudah memiliki alat tukar bernama uang. Bahkan kebutuhan sekunder dan tersier pun dapat kita penuhi jika uang yang kita miliki sudah bernilai berkali-kali lipat.

Pada 2007, David Beckham dikontrak 6,5 juta dolar AS per tahun, atau sekitar Rp 90 M. Ini adalah angka yang luar biasa, tapi kita mungkin bisa mewajarkannya karena Beckham memang merupakan pemain yang sudah sangat terkenal pada saat itu dan hingga kini ia sudah pensiun.

Kemudian jika kita melihat pemain lainnya di MLS, kita bisa menemukan para marquee player yang dibayar mulai dari 60 ribu dolar AS sampai 7,1 juta dolar AS. Menurut dokumen dari MLS Players Union, gaji pemain MLS minimal (bukan marquee player) adalah 50 ribu dolar AS.

Pemain seperti Kaká, Steven Gerrard, Frank Lampard, Villa, Andrea Pirlo, dan yang lainnya adalah mereka yang dibayar setidaknya 30 miliar rupiah selama satu tahun.

Jika kita lihat rata-rata biaya hidup di AS, berdasarkan website Start Class, biaya hidup dua orang (seorang suami dan seorang istri) dengan tiga orang anak dapat menghabiskan sekitar 800 juta rupiah per tahun. Jadi, angka di atas secara umum sudah di atas rata-rata.

Tak berbeda dengan AS, Tiongkok juga sudah menjadi tujuan bagi para pemain sepakbola. Apalagi Sky Sports baru saja mengumumkan akan menyiarkan CSL selama tiga tahun ke depan.

Bermain reguler di tim utama

Setelah uang, tidak ada yang membuat pesepakbola menjadi bahagia selain bermain. Dari beberapa nama yang disebutkan di atas, kebanyakan dari mereka sangat riskan untuk tidak bermain reguler di liga level tinggi, misalnya di Liga Primer, Serie A Italia, La Liga Spanyol, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, dan lain-lain.

Ini lah kenapa dalam setiap pemain seperti Beckham, pasti ada pemain seperti Bradley Wright-Phillips (31 tahun) di New York Red Bulls atau Liam Ridgewell (32) di Portland Timbers. Mereka ini lah yang, selain membuat MLS sebagai tanah pensiun mereka, juga berkesempatan untuk memantapkan status mereka sebagai pemain sepakbola kelas atas di MLS.

Wright-Phillips misalnya, mantan pemain Manchester City asal Inggris ini sudah mencetak 56 gol untuk NY Red Bulls sejak 2013. Bayangkan jika ia tidak pindah dari City, Southampton, atau Charlton Athletic, mungkin kariernya tidak akan menanjak lagi.

Pada kenyataannya, ada banyak contoh pemain seperti ini. Bahkan kepindahan mantan penyerang Chelsea asal Pantai Gading, Didier Drogba, ke Montreal Impact pada 2015 sudah dianggap sebagai "hari terbesar sepanjang sejarah kesebelasan" oleh Joey Saputo, presiden kesebelasan Montreal Impact.

Mereka tidak peduli berapapun usia pemain yang datang ke MLS, yang jelas mereka adalah pemain bintang dan akan bermain reguler di kesebelasan barunya tersebut, bahkan tak jarang yang tetap bermain dominan di hari tua.

Bagi mereka semua, level liga sepakbola di Amerika atau Tiongkok yang memang tidak setinggi kebanyakan liga sepakbola di Eropa, membuat mereka bisa bermain lebih santai dan lebih menyesuaikan dengan gaya bermain mereka yang sudah mulai melambat.

Hidup di Kota Besar dan Waktu Kompetisi juga menjadi daya tarik, pembahasannya di halaman berikutnya:

Komentar