Kita Harus Berterima Kasih kepada Water Break

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kita Harus Berterima Kasih kepada Water Break

Istilah water break sekarang sedang marak di Indonesia melalui Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman. Namun bukan karena suhu di Indonesia yang sedang panas-panasnya, tapi karena kedua turnamen di atas memang bukan berada di bawah kuasa FIFA.

Menerapkan water break pada pertandingan sepakbola tentunya memiliki persyaratan tersendiri. Menurut standar FIFA, diberlakukannya water break pada setiap pertandingan bukan hanya memikirkan suhu udara, tetapi juga apa yang mereka sebut dengan “Wet Bulb Globe Temperature” (WBGT), dan water break atau cooling break sangat dianjurkan untuk pertandingan yang memiliki WBGT di atas 32 derajat Celcius.

Tapi seperti yang kita tahu, Indonesia (atau lebih tepatnya PSSI) sedang terkena sanksi dari FIFA, sehingga tidak ada lagi kompetisi domestik yang diakui oleh badan sepakbola tertinggi dunia tersebut.

Sebagai buntutnya, Mahaka Sports and Entertainment datang sebagai “Nabi penyelamat” untuk menghibur masyarakat sepakbola Indonesia dengan melangsungkan Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman ketika Liga Indonesia sedang tidak ada.

Karena bukan di bawah kuasa FIFA, maka dari segi peraturan pun Mahaka bebas-bebas saja dan tentunya sah-sah saja untuk membuat peraturannya sendiri. Salah satu dari peraturan tersebut adalah adanya water break setiap menit ke-30 dan 75.

Namun jika mengacu pada peraturan FIFA, regulasi ini sebenarnya tidak diperlukan di Piala Presiden ataupun Piala Jenderal Sudirman. Hal ini dikarenakan Bali memiliki rata-rata suhu 29,8°C, Bandung (Soreang) 23,5°C, Makassar 26,2°C, Malang 24,5°C, dan Sidoarjo 27°C, semuanya di bawah 32 derajat Celcius. Kelima kota tersebut adalah kota yang menjadi tuan rumah babak fase grup Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman.

Jadi, apa motivasi utama diadakannya water break di Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman? Jawabannya bisa jadi dari segi komersial, di mana saat water break itu lah kita, sebagai penonton layar kaca, disuguhkan dengan iklan demi iklan dari produk yang menjadi sponsor kejuaraan tersebut.

Apakah ini berlebihan? Bisa jadi. Apakah ini sah-sah saja? Tentu saja sangat sah.

Kenapa harus ada water break?

Pada umumnya, penyakit akibat kepanasan akan terjadi ketika tubuh kita memproduksi lebih banyak panas. Tubuh kita sendiri, tepatnya otot, memang memproduksi panas ketika beraktivitas fisik. Risiko penyakit panas ini adalah kram panas, dan ini bukan hanya dipengaruhi oleh suhu, melainkan juga kelembaban udara.

Dengan udara yang semakin lembab, kondisi untuk mendinginkan tubuh dengan berkeringat akan semakin jarang terjadi. Lebih jauh lagi, angin dan radiasi matahari juga mempengaruhi suhu tubuh kita.

Jika tubuh terlalu panas, cairan tubuh juga akan cepat habis. Ini lah kenapa kita harus senantiasa menyiasati kekurangan cairan saat berolahraga. Untuk menghindari kehilangan cairan tubuh (dehidrasi) tersebut, salah satunya adalah dengan minum air, entah itu air putih biasa ataupun sports drink.

Dari penjelasan di atas, kita tentunya sadar mengenai manfaat dari minum pada saat berolahraga, tak terkecuali saat pertandingan. Untuk itulah FIFA menyarankan water break dilaksanakan selama tiga menit pada setiap babaknya, tapi tanpa menghentikan waktu normal, artinya waktu normal terus berjalan.

Kembali ke dua kejuaraan di atas, CEO Mahaka, Hasani Abdulgani, menjelaskan aturan water break digunakan karena anggapan bahwa kondisi fisik pemain yang masih belum berada dalam level tertinggi pasca dihentikannya kompetisi resmi.

Ini sebenarnya bisa menjadi alasan yang tepat, apalagi pada Piala Presiden, tapi tidak sepenuhnya bisa diterima. Mengingat pada setiap water break kita selalu “dipaksa” menonton iklan demi iklan di televisi, maka alasan komersial adalah alasan yang lebih masuk akal dari water break ini.

Selain faktor komersial, water break juga sudah berkali-kali dimanfaatkan layaknya time-out pada olahraga basket dan futsal, yaitu untuk mengubah taktik dan pendekatan bertanding dari pelatih. Dengan alasan-alasan di atas, water break pastinya bisa mengubah irama permainan sepakbola, baik dari segi fisik, mental, maupun taktik.

Namun, kembali ke inti pembicaraan kita kali ini, Piala Presiden maupun Piala Jenderal Sudirman bukan berada di bawah kuasa FIFA. Jadi, apapun keputusan yang Mahaka ambil, termasuk salah satunya yang terkait dengan water break, adalah sesuatu yang sah-sah saja.

Lagipula jika kita melihat lebih seksama, melihat kepada tingginya biaya untuk melangsungkan sebuah kompetisi, kita pastinya akan banyak berterima kasih kepada mereka yang menjadi sponsor Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman.

Ini mungkin berlebihan, tetapi pengiklanan semacam ini adalah salah satu bentuk dari promosi melalui acara untuk meningkatkan brand awareness para konsumen, dalam hal ini adalah para penonton pertandingan Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman. Iklan demi iklan itulah, yang sering muncul saat water break juga, yang menjadi konsekuensi dari sponsor.

Seharusnya kita banyak berterima kasih karena sudah diberi hiburan pertandingan sepakbola oleh para sponsor tersebut. Jadi, mulai sekarang kurang-kurangilah menyumpah serapahi iklan pada pertandingan sepakbola yang kita tonton di televisi, karena tanpa mereka, kita mungkin tidak bisa menikmati tontonan sepakbola, apalagi yang gratis (bukan melalui televisi berlangganan).

drinkwater_drinks_water

Sumber foto paling atas: Liputan 6 / Helmi Fithriansyah

Komentar