Piala Dunia Qatar Terlalu Panas Bahkan untuk Para Penonton

Sains

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Piala Dunia Qatar Terlalu Panas Bahkan untuk Para Penonton

Baru akan dilangsungkan delapan tahun lagi, Piala Dunia 2022 Qatar sudah menimbulkan banyak kontroversi. Dari mulai proses pembangunan infrastruktur yang memakan banyak korban, hingga suhu di lapangan yang tidak memungkinkan untuk pertandingan sepakbola.

Piala Dunia 2022 Qatar akan diadakan saat negara timur tengah ini tengah dalam kondisi musim panas. Pada musim panas, suhu di Qatar dapat mencapai  48oC. Suhu ini tentu akan sangat mengganggu para pemain dalam bertanding. Bayangkan saja, saat Piala Dunia Brazil lalu yang hanya mencapai suhu 30-33oC saja para pemain sudah kesulitan untuk berlari selama 90 menit. Dari sini timbul permasalahan, bagaimana cara mengadakan pertandingan sepakbola pada suhu ekstrem seperti ini.

Namun ternyata, permasalahan suhu panas ini bukan hanya membuat para pemain tidak bisa bertanding. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh International Journal of Biometereology menunjukan bahwa suhu panas di Qatar bahkan tidak memungkinkan bagi para penonton untuk menyaksikan pertandingan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Andreas Matzarikis dan Dominik Frohlich  dari Albert Ludwigs University of Freibur, Jerman, menggunakan metode Physiological Equivalent Temperature (PET). Metode ini menggabungkan kondisi suhu, angin, kelembaban, dan pancaran sinar matahari, untuk mengetahui kondisi suhu sebenarnya yang diterima oleh tubuh manusia.

Hasil peneltian ini menunjukan bahwa kondisi ibu kota Qatar, Doha, dari pukul 7 pagi sampai pukul 14.30 pada bulan dilaksanakannya Piala Dunia, orang yang melakukan aktivitas outdor akan menerima panas lebih dari 45oC. Dalam tabel standar PET, kondisi ini masuk dalam kategor extreme heat stress yang artinya sangat tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas. Dampak dari melakukan aktivitas dalam kondisi panas seperti ini akan membuat tubuh manusia mengalami keram panas. Keram panas sangat beresiko untuk merusak organ-organ di dalam tubuh manusia bahkan berujung kematian.

Qatar

”Hasil ini menunjukan bahwa kondisi saat Piala Dunia Qatar bahkan tidak memungkinkan untuk para penonton,” kata Matzarikis.

Matzarikin kemudian memberikan rekomendasi untuk memindahkan waktu penyelenggaraan Piala Dunia pada waktu yang lebih tepat. “Penelitian ini tidak bertujuan untuk menunjukan bahwa kondisi Qatar saat Piala Dunia sangat buruk, melainkan untuk mencari waktu yang tepay untuk menyelenggarakan Piala Dunia. Jika melihat pada hasil, bulan November sampai Februari cocok untuk mengadakan Piala Dunia di Qatar,” tambah peneliti asal Jerman ini.

Wacana soal pemindahan waktu Piala Dunia memang sempat bergulis seiring dengan permasalahan ini. Namun, memindahkan waktu Piala Dunia juga menimbulkan kontroversi lain, ketika liga yang sedang berlangsung akan terganggu akibat para pemain berlaga di Piala Dunia.

Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia ini memang sarat dengan kontroversi. Sempat tercium juga adanya dugaan penyuapan untuk memuluskan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia. Jika memang terbukti terjadi penyuapan, maka bukan tidak mungkin Piala Dunia akan dipindahkan ke Amerika Serikat sebagai negara yang berada di posisi kedua ketika pemungutan suara.

sumber gambar: www.realscience.com

Komentar