Jejak Sang Jenderal di Swiss

Backpass

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Jejak Sang Jenderal di Swiss

Medio 2013 silam, salah satu kanal olahraga paling beken sejagad, ESPN, mengeluarkan daftar pelatih sepakbola terbaik sepanjang sejarah versi mereka. Pelatih-pelatih tersebut dipilih oleh lebih dari 20 orang kolumnis, kontributor, dan editor ESPN. Salah satu nama yang mereka pilih adalah Ottmar Hitzfeld. Lelaki kelahiran Lorrach, 12 Januari 1949 itu bertengger di peringkat ke-13; di atas figur-figur semisal Ernst Happel, Marcello Lippi, Jock Stein, dan Fabio Capello.

ESPN tentu punya alasan kuat sehingga berani meletakkan Hitzfeld di posisi yang lebih baik ketimbang nama-nama di atas walau sejumlah pihak mungkin tak begitu sepakat lantaran karier kepelatihan Hitzfeld cuma berkutat di Jerman dan Swiss saja, baik menangani kesebelasan profesional maupun tim nasional. Akan tetapi di situlah nilai plus yang dimilikinya.

Cerita tentang kesuksesan Hitzfeld kala membesut sepasang kesebelasan pilih tanding dari Bundesliga Jerman, Borussia Dortmund dan Bayern München, sungguh melegenda.

Bersama kedua kesebelasan tersebut, Hitzfeld mampu mengepak 19 gelar juara. Masing-masing berupa tujuh trofi Bundesliga, tiga Piala Jerman, enam Piala Super Jerman, dua gelar Liga Champions UEFA, dan sebiji Piala Interkontinental. Rekor itu sendiri membuat Hitzfeld sah jadi salah satu pelatih terbaik dalam sejarah Bundesliga maupun sepakbola Jerman.

Meski demikian, perjalanan karier Hitzfeld di Swiss juga tak kalah menarik. Negara yang terletak di sebelah selatan Jerman itu memang bak negara kedua bagi pria berjuluk Der General atau Sang Jenderal tersebut. Apalagi Lorrach yang merupakan kota kelahirannya memang berada di perbatasan Jerman dan Swiss. Di negara yang dilintasi Pegunungan Alpen itu, Hitzfeld memulai segala kisahnya di kancah sepakbola, sebagai pemain maupun pelatih.

Khusus di bangku kepelatihan, FC Zug, FC Aarau, dan Grasshopper adalah kesebelasan-kesebelasan profesional Swiss yang merasakan tangan dingin Hitzfeld dalam rentang 1983 sampai 1991. Bahkan bersama dua kesebelasan yang disebut belakangan, anak bungsu dari lima bersaudara tersebut senantiasa beroleh titel juara. Masing-masing berupa tiga Piala Swiss, sebiji Piala Super Swiss, dan dua Liga Super Swiss. Dari situlah, nama Hitzfeld mulai naik daun sebagai juru taktik andal.

Namun Hitzfeld butuh waktu nyaris dua dekade buat `mudik` ke Swiss begitu petualangannya di Jerman selesai. Bedanya, saat kembali lagi ke negara beribukota Bern tersebut, Hitzfeld didapuk federasi sepakbola Swiss (ASF) sebagai pembesut timnas yang baru pada Juli 2008, menggantikan Jakob Kuhn.

"Tekanan dan ekspektasi yang datang ke arahku akan selalu tinggi. Namun aku percaya, bisa menjawabnya dengan baik", ungkap Hitzfeld seperti dilansir DW.com.

Misi perdana Hitzfeld bersama Swiss tentulah lolos ke Piala Dunia 2010. Bermodal skuat yang diisi nama-nama berkualitas seperti Tranquillo Barnetta, Valon Behrami, Diego Benaglio, Alexander Frei, Blaise Nkufo, dan Philippe Senderos, Swiss bermain apik sepanjang fase kualifikasi. Mereka finis di puncak klasemen Grup 2 dan beroleh tiket lolos otomatis ke Afrika Selatan, tempat diselenggarakannya turnamen sepakbola paling akbar sejagad itu.

Sempat tampil mengejutkan di laga perdana dengan menumbangkan salah satu favorit juara, Spanyol, langkah Swiss malah gontai di laga-laga Grup H selanjutnya karena keok dari Chile serta imbang dengan Honduras. Empat angka memang sanggup dikoleksi tapi itu tak bisa meloloskan mereka ke babak berikutnya.

Sial buat Hitzfeld, keinginan besarnya untuk memperbaiki citra Swiss justru porak-poranda jelang Piala Eropa 2012. Bukannya tampil garang di babak kualifikasi, Swiss malah loyo sehingga finis di peringkat tiga klasemen akhir Grup G, kalah bersaing dengan Inggris dan Montenegro. Kenyataan itu bikin Sang Jenderal dihujani kritikan pedas, tapi mujur baginya karena ASF tak buru-buru mengetuk palu pemecatan.

Ogah menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama buat kali kedua, Hitzfeld pun membulatkan tekadnya untuk meloloskan Swiss ke ajang mayor berikutnya, Piala Dunia 2014. Segala pembenahan dan persiapan lebih matang pun ditempuh Sang Jenderal. Terlebih pemain-pemain muda bertalenta kepunyaan Swiss macam Ricardo Rodríguez, Fabian Schär, Xherdan Shaqiri, dan Granit Xhaka makin matang serta siap unjuk gigi.

Tergabung bersama Albania, Islandia, Norwegia, Siprus, dan Slovenia pada babak kualifikasi Grup E, Swiss tampil superior. Dari 10 partai yang dijalani, mereka menang tujuh kali dan seri tiga kali, alias tak sekalipun mencicipi pahitnya kekalahan. Usai berkalang caci di tahun 2012, Hitzfeld akhirnya beroleh puja-puji dari fans.

Pesona Swiss yang dibalut kegeniusan Hitzfeld dalam meramu taktik menunjukkan kilaunya di Brasil. Menghuni Grup E bareng Ekuador, Honduras, dan Perancis, Swiss mampu nangkring sebagai runner-up grup dengan koleksi 6 poin atau hanya berselisih satu dari kepunyaan Les Bleus. Alhasil mereka pun berhak menggenggam tiket ke fase 16 besar.

Menembus fase 16 besar, bikin hasrat Shaqiri dan kawan-kawan untuk terus melaju semakin menggelegak. Akan tetapi, Argentina bersama Lionel Messi, jadi rintangan berat yang kudu mereka taklukkan lebih dahulu di fase tersebut. Anak asuh Hitzfeld tak merasa keder barang sedikitpun. Mereka justru tampil solid guna mengimbangi superioritas Argentina.

Aksi-aksi prima yang diperlihatkan para pemain Swiss memaksa laga berkesudahan dengan skor 0-0 hingga waktu normal usai. Akibatnya, pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Meski kalah secara kualitas dan mulai kehabisan energi, tim besutan Hitzfeld berupaya memberikan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Gara-gara ini pula, pertandingan hampir berlanjut ke fase adu penalti andai Ángel Di María tak menciptakan gol kemenangan bagi Argentina pada menit ke-118.

Pada akhirnya, Swiss memang hanya bisa sampai di babak 16 besar Piala Dunia 2014 dan Hitzfeld meletakkan jabatannya setelah itu. Namun siapapun tahu pasti bahwa Hitzfeld telah mengubah roda nasib Swiss dari tim kelas menengah, jadi kesebelasan tangguh yang patut diperhitungkan sepak terjangnya. Layaknya membesut Dortmund dan Bayern, Hitzfeld juga membuat Swiss jadi tim yang mendasarkan kekuatannya pada sisi kolektivitas, alih-alih bertumpu kepada kemampuan individu satu atau dua pemain saja.

Tak ada trofi yang bisa Hitzfeld persembahkan kepada Swiss, tapi jejaknya selama menukangi Shaqiri dan kawan-kawan bakal selalu diingat sebagai salah satu momen krusial yang membuat Swiss kini berdiri semakin dekat atau bahkan sejajar dengan gacoan-gacoan Eropa seperti Prancis dan Spanyol.

Komentar