Momen Terburuk Knockaert adalah Drama Terbaik Sepakbola

Backpass

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Momen Terburuk Knockaert adalah Drama Terbaik Sepakbola

Cardiff dan Hull City sudah dipastikan promosi ke Liga Primer 2013/14 karena menempati posisi pertama dan kedua Divisi Championship 2012/13. Satu kesebelasan promosi lain akan ditentukan lewat babak play-off. Ada Watford, Brighton, Crystal Palace, dan Leicester City yang menempati posisi tiga sampai enam.

Pada babak semifinal play-off Championship 2012/13 itu Watford menghadapi Leicester sementara Brighton melawan Palace. Pemenang dari dua laga tersebut akan bertemu di final dan memperebutkan satu tiket terakhir untuk bisa promosi ke divisi teratas liga sepakbola Inggris.

Dari momen perebutan tiket promosi tersebut, terdapat sebuah drama terbaik dalam sepakbola yang terjadi pada leg kedua semifinal antara Watford dan Leicester. Anthony Knockaert, yang saat itu masih membela Leicester, tampaknya akan jadi pemain yang tidak akan melupakan momen itu.

***

Leicester berhasil mengungguli Watford 1-0 pada leg pertama. Kemenangan di King Power stadium tersebut jadi modal berharga dalam menjalani leg kedua yang berlangsung di Vicarage Road, Watford.

Tapi pada menit ke-15, Matej Vydra berhasil membuat "skor" kembali berimbang. Tak bertahan lama, David Nugent, yang mencetak gol kemenangan di King Power, membuat Leicester kembali di atas angin empat menit berselang. Skor 1-1 berarti Leicester sedang unggul agregat 1-2.

Vydra lantas kembali mencetak gol pada menit ke-65. Skor 2-1 di Vincarage Road, jika bertahan sampai peluit tanda berakhirnya pertandingan, akan membuat kedua kesebelasan melanjutkan pertandingan hingga babak tambahan. Peraturan gol tandang tak berlaku pada babak play-off Championship.

Tapi Leicester memang tak membutuhkan aturan gol tandang untuk bisa melaju ke final. Leicester punya kesempatan menang jelang babak kedua berakhir. Pada tambahan waktu pertandingan yang berlangsung empat menit, Leicester mendapatkan hadiah penalti setelah Anthony Knockaert dilanggar bek Watford, Marco Cassetti.

Keputusan penalti itu cukup kontroversial. Knockaert yang menggiring bola di sisi kiri pertahanan Watford mendapatkan kontak minim dari Cassetti. Cassetti pun menunjukkan gestur kaget atas keputusan Michael Oliver. Bek asal Italia itu pun sempat mempertanyakan keputusan sang wasit.

Namun keputusan sudah diambil. Penalti tetap diberikan. Knockaert, yang memang tampil cukup impresif pada laga tersebut, mengambil bola dan bersiap menjadi eksekutor penalti. Pemain kelahiran 20 November 1991 ini memang pemain spesialis bola mati. Knockaert bersiap jadi pahlawan kemenangan Leicester.

Lantas Knockaert bersiap menendang penalti. Dia bergerak ke sebelah kanan untuk mengambil ancang-ancang menendang dengan kaki kiri, kaki andalannya. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Jika tendangannya mampu mengecoh Manuel Almunia, skor imbang 2-2 akan berarti agregat 2-3 untuk Leicester. Game over untuk Watford yang permainannya meningkat jelang akhir pertandingan.

Tapi sepakbola adalah tempatnya drama terbaik. Plot twist terjadi. Ternyata tendangan Knockaert mampu diblok Almunia. Bahkan eks kiper Arsenal itu menahan kembali tendangan Knockaert yang coba memanfaatkan bola muntah hasil blok Almunia.

Cassetti merespons cepat bola rebound kedua dengan membuang jauh bola ke tengah lapangan. Bola sapuan Cassetti jatuh tepat di kaki pemain Watford lainnya, Ikechi Anya. Di sinilah momen tak terlupakan untuk Knockaert bermula.

Oliver belum mengakhiri pertandingan meski waktu pertandingan sudah menunjukkan menit ke-96. Insiden penalti jadi sebab. Lantas Anya menggiring bola dari tengah hingga ke sisi kiri pertahanan Leicester. Aksinya diakhiri dengan umpan terobosan pada Fernando Forestieri yang juga menyisir sisi kanan Watford.

Dari situ, Forestieri menggiring bola hingga mendekati ujung lapangan. Situasi enam pemain Watford melawan tujuh pemain Leicester kala itu. Namun lini pertahanan Leicester kelimpungan. Pemain asal Italia tersebut mengirim umpan silang ke Jonathan Hogg yang berada di tiang jauh.

Berada di mulut gawang, Hogg langsung dikepung oleh satu pemain Leicester plus kiper mereka, Kasper Schmeichel. Tapi dengan cerdik Hogg tidak menyambut umpan Forestieri dengan upaya mencetak gol. Pemain bertinggi 177 cm itu memilih untuk menaruh bola dengan kepalanya ke area titik penalti. Di situlah muncul Troy Deeney, tanpa pengawalan, yang langsung melepas tendangan keras merobek jala Leicester.

Gol! Watford mencetak gol! Ya, 20 detik setelah Watford diambang kekalahan karena menghadapi penalti, Watford berhasil mencetak gol melalui serangan balik.

Deeney langsung merayakan gol dengan membuka kausnya. Dirinya berlari ke tribun pendukung Watford yang bersuka cita. Oliver meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Para pendukung Watford di tribun lain tak kuasa merayakan kebahagiaannya dengan menginvasi lapangan. Gol Deeney membuat Watford melaju ke final untuk menghadapi Crystal Palace, pertarungan terakhir untuk tiket promosi ke Liga Primer.

Di tengah teriak kebahagiaan seluruh pemain, staf pelatih dan pendukung Watford, Knockaert menundukkan badannya, tangannya bertopang pada lututnya. Lututnya bahkan kemudian tak mampu menopang rasa kecewa yang begitu mendalam. Knockaert pun menjatuhkan diri dan menangis tersedu sedan. Dirinya tak percaya atas apa yang terjadi. Dalam sekejap, kesempatan untuk memastikan kemenangan Leicester, berganti menjadi kepastian Leicester gagal promosi ke Liga Primer.



***

Kebahagiaan Watford ketika itu nyatanya tidak berakhir tiket promosi Liga Primer. Di laga final yang berlangsung di Wembley Stadium, Watford kalah 0-1 dari Palace. Sempat bermain imbang tanpa gol di 90 menit pertandingan, Watford kebobolan pada menit ke-115, lima menit jelang babak tambahan berakhir. Saat itu, tak seperti melawan Leicester, penalti yang dieksekusi Kevin Phillips tak mampu dibendung Almunia. Watford sendiri baru bisa promosi dua musim kemudian.

Knockaert, di sisi lain, berusaha mengatasi kekecewaannya. Dirinya mengaku momen tersebut jadi momen yang berat buatnya. Kemudian pemain asal Perancis tersebut mampu membuktikan diri. Knockaert bahkan mampu membobol gawang Watford dalam kemenangan 3-0 yang menjadi bagian dari perjalanan Leicester promosi ke Liga Primer 2014/15. Ya, semusim berselang, Knockaert membawa Leicester promosi ke Liga Primer.

"Itu momen buruk buatku dan keluargaku. Aku juga merasa bersalah pada suporter dan klub. Aku merasa bersalah pada hari itu dan beberapa hari kemudian. Tapi bisa saja aku ketika itu mencetak gol dan kemudian tetap kalah di final oleh Crystal Palace, itu bisa lebih buruk," ujar Knockaert pada FourFourTwo setelah membawa Leicester promosi.

"Aku tidak hidup di masa lalu. Itu hanya sepakbola. Hidupku bisa lebih buruk dari itu dalam beberapa kasus. Tapi secara mental aku adalah seseorang yang cukup kuat. Aku juga mendapatkan banyak pesan sangat buruk dari pendukung Watford (yang menilai dirinya melakukan diving). Kemudian musim berikutnya kami mengalahkan mereka 3-0 dan aku mencetak gol. Itu pembalasan dariku. Kami juga promosi pada akhir musim. Perasaan yang luar biasa. Kita memang tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi di masa depan," sambungnya.

Komentar