Inzaghi Tidak Terlahir Offside

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Inzaghi Tidak Terlahir Offside

“Pertanyaan itu selalu sulit dijawab,” ujar Oliver Kahn ketika ditanya siapa penyerang yang paling menyulitkan dirinya. “Contohnya, aku pernah bermain melawan Ronaldo, yang kecepatan, kualitas atletik, dan kemampuan mencetak gol dari bermacam-macam situasi menjadikannya brilian. Aku juga pernah melawan Thierry Henry, seorang penyerang luar biasa: licin, elegan, dan amat sangat cerdik di depan gawang. Penyerang yang paling tidak ingin aku lawan adalah Inzaghi.”

Enam kali Filippo Inzaghi mencetak gol ke gawang Kahn dalam empat pertandingan, menjadikan Bayern Munchen kesebelasan luar Italia yang gawangnya paling sering dia jebol.

“Dia seseorang yang nyaris tak terlihat; kau bahkan tidak yakin dia bermain tapi di akhir pertandingan papan skor akan menunjukkan 1-0 atau 2-0 untuk kemenangan Inzaghi. Dia penyerang yang sangat menyulitkan dan mungkin satu yang tidak paling tidak ingin aku lawan karena dia sangat tidak terduga.”

Para penjaga gawang yang masih aktif tak perlu merasakan ketakutan Kahn. Inzaghi sudah pensiun sejak 2012. Tidak perlu juga para penjaga gawang masa kini khawatir suatu saat akan berhadapan dengan penyerang seperti Inzaghi. Fox in the box seperti Inzaghi sudah punah. Perkembangan taktik tidak memberi tempat kepada penyerang sepertinya.

Terlahir Offside

“Begini, Inzaghi itu sama sekali tidak bisa bermain sepakbola,” ujar Johan Cruyff. “Dia hanya selalu berada di posisi yang tepat.”

Cruyff boleh berpendapat demikian. Cara main Inzaghi memang cenderung mengundang perdebatan. Mudah menilai Inzaghi sebagai pemain super beruntung, karena Pippo—sapaan akrabnya—tampak tak punya apa-apa selain insting mencetak gol yang tajam.

“Aku rasa dasar permainanku yang paling penting adalah timing yang baik,” kata Inzaghi. “Itu sangat penting untuk seorang pemain sepertiku, yang menghabiskan banyak waktu di tepi garis offside, selalu siap melesat ke gawang lawan. Setelahnya, insting sangat membantu untuk menempatkan bola di dalam gawang.”

Begitu dekat Inzaghi dengan offside sehingga bisa saja satu pertandingan berlalu tanpa dia mencetak gol, tapi tidak mungkin satu pertandingan lewat begitu saja tanpa Inzaghi terjebak offside.

“Dia pasti lahir dalam posisi offside,” pernah Sir Alex Ferguson berkata. Namun yang tampak di pertandingan bukan gambaran lengkap dari kerja Inzaghi sebagai pesepakbola. Ada puluhan jam kerja keras untuk mencetak gol yang tampak seperti keberuntungan dan hadiah.

“Inzaghi biasa menonton pertandingan lawan dan mempelajarinya berhari-hari,” ujar Gennaro Gattuso. “Dia tahu segalanya tentang mereka. Dia terobsesi. Banyak yang berpikir Pippo hanya beruntung, tapi keberuntungan tidak berperan—semuanya berkat kemampuan dan persiapan.”

Tidak Ada Gawang yang Aman

Filippo Inzaghi, yang lahir di Piacenza pada 9 Agustus 1973, memulai kariernya di Piacenza Calcio pada 1991. Tempat utama tidak langsung menjadi milik Inzaghi. Piacenza meminjamkannya ke AlbinoLeffe dan Hellas Verona. Ketika dipanggil pulang pada musim 1994/95, Inzaghi sudah siap. Dia memenangkan Serie B musim itu untuk Piacenza.

Inzaghi naik ke Serie A, tapi tidak bersama Piacenza. Dia pindah ke Parma per musim 1995/96, lalu pindah ke Atalanta di musim berikutnya. Bersama Atalanta nama Inzaghi semakin diperhitungkan.

Tidak satu gawang lawan pun aman dari ketajaman Inzaghi di Serie A 1996/97. Dua puluh lima gol dia sarangkan di semua gawang peserta Serie A musim itu (kecuali gawang timnya sendiri, tentu saja). Penghargaan Capocannoniere dan Pemain Muda Terbaik Serie A pun jadi miliknya.

Inzaghi, tentu saja, pindah lagi. Kali ini ke Juventus. Di Turin dia bertahan cukup lama, tidak seperti di klub-klub sebelumnya. Namun setelah empat tahun, Inzaghi pindah lagi. Per musim 2001/02, dia berseragam AC Milan.

Di dua klub terakhirnya itulah Inzaghi paling bergelimang gelar. Bersama Juventus dia menjuarai Serie A, Supercoppa Italiana, dan UEFA Intertoto Cup masing-masing satu kali. Bersama Milan Inzaghi dua kali menjuarai Serie A, Champions League, dan UEFA Super Cup; satu Coppa Italia dan FIFA Club World Cup melengkapi prestasinya.

Di Tim Nasional Italia, Inzaghi menjuarai Piala Eropa U-21 1994 dan Piala Dunia 2006.

Sepanjang kariernya Inzaghi mencetak 288 gol untuk klub dan 25 gol untuk tim nasional.

Komentar