Satelit di Lapangan Hijau

Backpass

by Evans Edgar Simon Pilihan

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Satelit di Lapangan Hijau

Indonesia dan Rusia berjarak kurang lebih 6.939 kilometer. Namun Piala Dunia 2018 yang digelar di negara yang dipimpin Vladimir Putin itu terasa sangat dekat. Semua berkat kemajuan teknologi komunikasi yang diawali dengan peluncuran satelit Telstar pada 10 Juli 1962 di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Mimpi Indonesia berpartisipasi di Piala Dunia belum terealisasi. Untuk sementara, kita harus puas hanya menjadi penonton. Entah sudah berapa banyak jatah tidur yang kita korbankan demi menyaksikan kesebelasan-kesebelasan terbaik dunia bertanding. Dan, rasanya tidak sia-sia.

Sudah banyak drama yang tersaji di Rusia sampai sejauh ini. Mulai dari tersingkirnya sang juara bertahan pada fase penyisihan grup, selebrasi kontroversial Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka, comeback ajaib Belgia atas Jepang, Inggris yang tampil tak seperti Inggris, hingga 14 menit Neymar berguling-guling di atas lapangan.

Semua hal tersebut bisa kita saksikan langsung melalui layar kaca. Puluhan kamera yang diletakkan di pelbagai sisi stadion turut memudahkan kita melihat sebuah kejadian dari banyak sudut pandang. Sebuah keistimewaan (atau katakanlah sebuah hadiah hiburan) bagi kita yang tidak bisa hadir langsung di stadion.

Jika pemandangan tersebut terasa sangat normal saat ini, lain cerita dengan 56 tahun lalu, lebih tepatnya 13 hari setelah sebuah satelit yang terdiri dari 3.600 panel solar mengorbit.

Gambar Patung Liberty dan Menara Eiffel saling berdampingan mengawali sebuah acara televisi. Ini adalah tayangan langsung lintas benua pertama di dunia.

Perlu diketahui, bahwa sebelumnya gulungan pita video harus melintasi laut menggunakan pesawat. Keterlambatan tayang siaran program televisi bukan hal asing.

Telstar 1 hanya bertahan selama satu tahun di udara. Percobaan nuklir Amerika Serikat dan Rusia membakar transistor satelit sehingga tidak bisa lagi digunakan.

Namun keberhasilan siaran Telstar 1 tetap membuka cakrawala baru bagi warga dunia. Jejaknya pun dilanjutkan oleh Telstar-Telstar lainnya (total sudah ada 21 Telstar yang mengudara).

Industri sepakbola pun tidak ingin ketinggalan memanfaatkan teknologi ini. Piala Dunia 1970 di Meksiko menjadi Piala Dunia pertama yang disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru dunia.

Secara tidak langsung, hal ini turut melahirkan karya seni abadi. Layar televisi yang kala itu kebanyakan masih berwarna hitam-putih memaksa Adidas sebagai sponsor peralatan pertandingan resmi FIFA memutar otak demi kenyamanan mata para penonton. Hasilnya adalah bola dengan 32 panel (12 panel pentagon hitam dan 20 panel heksagonal putih) bernama Telstar.

Bukan kejutan jika bola dinamai Telstar. Desainnya memang menyerupai dan terinspirasi dari satelit yang mirip Death Star dari film Star Wars tersebut. Oleh sebab itu, namanya digunakan sebagai bentuk penghormatan untuk satelit yang telah menjadi bangkai luar angkasa tersebut.

Bola ini sebenarnya telah diciptakan oleh mantan kiper Denmark, Eigil Nielsen, pada 1962. Ia terkenal dengan sebutan "Bapak Bola Sepak Modern". Nielsen mengaplikasikan teori molekul karbon karya Buckminster Fuller lewat merek bolanya, Select Sport.

Namun, kepopulerannya baru menembus langit ketika digunakan oleh merek Adidas dan FIFA sebagai bola resmi Piala Dunia. Diperkirakan sekitar 600.000 replika Telstar terjual di seluruh dunia.

Sejak saat itu, bola resmi untuk turnamen-turnamen besar FIFA pun terus berevolusi, baik dari segi desain maupun teknologi. Tentu saja, tak terkecuali Telstar 18 yang tengah digunakan di Rusia.

Telstar 18 didedikasikan untuk mengenang Telstar Piala Dunia 1970. Warnanya tetap hitam dan putih, tetapi diberi sentuhan yang jauh lebih modern.

Agar lebih bervariatif, Telstar 18 juga memiliki versi warna merah-hitam dan putih yang diberi nama Telstar Mecha. Mecha dalam bahasa Rusia berarti `mimpi` atau `ambisi`. Bola ini baru digunakan ketika turnamen memasuki fase gugur.

Soal teknologi, Telstar 18 merupakan salah satu bola termodern dalam sejarah. Di dalamnya telah ditanam cip yang tersambung dengan koneksi internet. Hal ini memungkinkan para pengguna smartphone bisa `berinteraksi` dengan bola secara langsung.

Waktu membuktikan bahwa sepakbola terus melangkah maju, beriringan dengan perkembangan teknologi. Beranilah bermimpi: suatu hari nanti kita akan merasakan sensasi berada langsung di bangku pemain pengganti (bench) meski sebenarnya tengah duduk di ruang tamu rumah.

Komentar