Bola Al Rihla dan Jejak Kerja Sama Panjang Antara Adidas dan FIFA

Cerita

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bola Al Rihla dan Jejak Kerja Sama Panjang Antara Adidas dan FIFA

Adidas memproduksi bola bernama Al Rihla untuk Piala Dunia 2022. Al Rihla berarti perjalanan. Adidas, dalam rilis peluncuran Al Rihla, menggunakan tagline your journey starts now.

Franziska Loeffelmann, Direktur Desain Adidas, mengatakan bahwa desain Al Rihla terinspirasi dari kondisi Qatar.

“Pendekatan warna bola Al Rihla benar-benar datang dari alam yang mengelilingi Qatar: matahari terbenam di gurun, warna merah dan kuning yang mengagumkan,, juga warna biru laut yang juga sangat ingin kita lindungi,” ujar Franziska dikutip dari SoccerBibble.

Al Rihla juga dilengkapi dengan teknologi Inertial Measurement Unit (IMU) yang bisa mengirimkan 500 data per detik. Teknologi tersebut digunakan untuk membuat keputusan yang lebih presisi soal offside atau tidaknya seorang pemain.

Al Rihla merupakan bola ke-14 yang diluncurkan Adidas untuk Piala Dunia. Sejarah hubungan Adidas dengan bola Piala Dunia dimulai sejak 1970. Adidas memproduksi bola bernama Telstar untuk Piala Dunia yang digelar di Meksiko tersebut.

Telstar memiliki 12 pentagon berwarna hitam dan 20 heksagon berwarna putih. Desain seperti itu dibuat dengan menyesuaikan kondisi siaran televisi yang masih berwarna hitam putih. Sejak memproduksi Telstar, Adidas selalu menjadi pembuat bola Piala Dunia dan kontraknya diperbarui sampai 2030 pada 2013.

Sebagai sponsor negara di Piala Dunia, kiprah Adidas dimulai pada 1954, tepatnya ketika menjadi sponsor Jerman Barat. Adidas mengeluarkan sepatu yang lebih ringan yang dilengkapi kancing. Hal tersebut sangat berguna ketika Jerman Barat menghadapi Hungaria di partai final dalam kondisi hujan. Hungaria berhasil unggul 2-0 terlebih dahulu. Namun, para pemain Jerman Barat bisa lekas menyesuaikan dengan kondisi cuaca hujan dan berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2.

Adidas sudah memproduksi keperluan olahraga seperti sepatu dan baju untuk beberapa cabang olahraga, seperti sepakbola dan atletik pada 1928. Dalam urusan bola, Adidas mulai memproduksi bola pada 1963 dan Adidas menjadi produsen bola untuk Piala Dunia sejak 1970.

Sebelum mendapat kontrak untuk memproduksi bola pada Piala Dunia 1970, Adidas telah menjadi produsen bola untuk gelaran Olimpiade 1986 di Meksiko. Lalu, pada Olimpiade Munich 1972, Adidas kembali dipercaya.

Setelah mendapat kontrak Piala Dunia, Adidas ingin mengembangkan lagi sayap bisnisnya, termasuk lebih dekat dengan FIFA. Andrew Jennings, dalam bab dua bukunya yang berjudul The Secret World of FIFA: Bribes, Vote Rigging & Ticket Scandals, menjelaskan dengan cukup detail bagaimana penetrasi awal Adidas menjalin kerja sama dengan FIFA dan mengangkat Joao Havelange menjadi Presiden FIFA menggantikan Sir Stanley Rous.

Salah satu orang yang menjadi kunci dalam lobi-lobi Adidas pada FIFA adalah Christian Jannette, salah satu tim relasi internasional Adidas. Jennings menggambarkan ketika Sir Stanley Rous dan Joao Havelange akan mencalonkan diri menjadi Presiden FIFA, Dassler berpihak kepada kubu Havelange.

Titik balik hubungan Adidas bersama FIFA terjadi pada 1974. Dalam pemilihan Presiden FIFA, Joao Havelange berhasil menggeser posisi Sir Stanley Rous.

Selain itu, Joao Havelange pada 1970-an berkampanye ke negara-negara Asia dan Afrika untuk memberitakan bahwa peserta Piala Dunia 1982 di Spanyol akan bertambah menjadi 32 negara. Hal tersebut tentu saja akan berguna bagi keinginannya menjadi Presiden FIFA. Adidas pun tahu bahwa mereka bisa menarik banyak keuntungan dari sana, terlebih Adidas juga mendapat kontrak untuk membuat bola Piala Dunia 1974.

Ketika Havelange masih berkuasa, Adidas juga dekat dengan seseorang yang pernah menjabat sekretaris jenderal asosiasi hoki Swiss, yakni Sepp Blatter.

Horst Dassler, anak pendiri Adidas, tertarik dengan Blatter ketika Adidas membutuhkan seseorang yang bisa mengisi posisi sebagai direktur pengembangan. Dalam catatan Jennings, salah seorang juru pemasaran yang membawa nama Adidas makin melambung, Patrick Nally, menyebut bahwa Blatter menghabiskan banyak waktu bersama Horst, sehingga Blatter sangat tahu bagaimana cara Adidas bekerja.

Maka tidak mengherankan Andrew Jennings menyebut dalam salah satu bab bukunya bahwa Sepp Blater dibentuk oleh Adidas - Sepp Blatter Made by Adidas.

***

Kerja sama antara FIFA dan Adidas akan terjalin hingga 2030, sehingga bola yang akan digunakan pada Piala Dunia 2030 pun masih pabrikan Adidas. Tidak menutup kemungkinan kerja sama itu akan terus diperpanjang.

“Kami senang dan bangga bahwa hubungan dekat kami dengan FIFA akan terus berlanjut. Kemitraan unik ini dan kehadiran kami yang luas di semua Piala Dunia FIFA akan membantu kami memperluas posisi Adidas sebagai merek sepak bola terkemuka di seluruh dunia,” ujar Herbert Hainer, CEO Adidas pada 2013 silam dikutip dari Marketing News.

Piala Dunia memang membawa keuntungan besar bagi Adidas. Setelah Piala Dunia 2014 misalnya, penjualan merchandise Adidas di Amerika Latin meningkat. Dilansir dari Marketing Week, keuntungan penjualan Adidas di wilayah tersebut telah melonjak dari 179 juta Euro menjadi 1,575 milyar euro selama sepuluh tahun terakhir. Selain itu, lebih dari delapan juta kaus dari sembilan tim nasional yang disponsorinya diperkirakan terjual pada tahun itu, yang berarti peningkatan signifikan dari 6,5 juta penjualan untuk Piala Dunia 2010. Jersei Jerman memimpin dengan rekor penjualan lebih dari dua juta, di mana setengah juta di antaranya terjual di luar Eropa.

Potensi keuntungan yang menggiurkan memang menarik banyak perusahaan untuk mensponsori Piala Dunia. Adidas, sebagai salah satu jenama besar, sudah merasakan keuntungan itu sejak 1970 dan tidak heran mereka memperpanjang kontrak menjadi pemroduksi bola Piala Dunia hingga 2030.

Komentar