Piala Dunia yang Mengancam Nyawa Para Pekerja

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Piala Dunia yang Mengancam Nyawa Para Pekerja

Roma tidak dibangun dalam semalam. Begitu juga dengan stadion sepakbola. Proses pembangunan stadion dan infrastruktur pendukung lainnya membutuhkan waktu yang panjang. Bagi negara seperti Rusia atau Qatar yang sedang menyiapkan Piala Dunia, juga Indonesia yang sedang menyiapkan Asian Games 2018, pembangunan ini tak jarang terlalu diburu waktu.

Konstruksi yang terburu-buru seringnya mengesampingkan aspek keamanan dan keselamatan para pekerja bangunannya. Tak heran jika banyak pekerja yang mengalami kecelakaan saat bekerja.

Menurut laporan International Labour Organization (ILO) pada 2017, ada sekitar 313 juta kecelakaan ketika bekerja yang terjadi setiap tahunnya. Dari kecelakaan sebanyak itu, lebih dari 2,3 juta pekerja meninggal.

Kecelakaan kerja yang paling banyak menyebabkan kematian adalah karena pekerja terjatuh, yaitu sebanyak 42 persen. Lebih dari setengahnya meninggal karena alat pengamanan yang alpa.

Besarnya jumlah kecelakaan dan kematian saat bekerja yang sudah terjadi sejak lama membuat American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO) menetapkan 28 April sebagai “Workers’ Memorial Day” atau yang saat ini lebih dikenal dengan “World Day for Safety and Health at Work”.

Peringatan pertama berlangsung pada 1970. Sedangkan saat ini, World Day for Safety and Health at Work sudah diakui sebagai hari peringatan oleh PBB dan ILO.

Isu HAM Menjalar ke Isu Keselamatan

Pada November 2017, FIFA mempublikasikan laporan dari Human Rights Advisory Board yang menyatakan jika ada pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi berkaitan dengan pembangunan stadion-stadion Piala Dunia 2018 di Rusia.

Melalui Human Rights Watch, kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di konstruksi stadion Piala Dunia 2018 antara lain adalah upah pekerja yang tak dibayarkan, tidak adanya kontrak kerja, dan kondisi kerja yang tidak aman.

Para pekerja yang memiliki masalah kontrak rentan dieksploitasi. Bahkan banyak dari mereka yang merupakan pekerja migran (dari luar Rusia) yang berisiko juga dideportasi.

Baca juga: Piala Dunia 2018 di Rusia, Menuju Rusia yang Lebih Baik (?)

Nuradil, 40 tahun, asal Kyrgyzstan, yang bekerja di renovasi Stadion Luzhniki, Moscow, menyatakan kepada Human Rights Watch: “Aku tak punya kontrak... Pihak yang mempekerjakanku hanya memberiku izin masuk dan berkata, ‘Ayo, kerja!’ Mereka tak mau menyediakan dokumen (kontrak kerja) resmi. Aku tak tahu kenapa.”

Pekerja lainnya di Luzhniki, Mikhail, asal Rusia, menambahkan: “Semua juga tak mendapatkan kontrak. Mereka janji membayar kami 40.000 rubel (8,8 juta rupiah) per bulan.”

Pekerja lain curhat kepada Human Rights Watch: “Mandor mengancam kami, jika kami komplain, mereka akan memecat kami tanpa memberi kami upah sama sekali dan bahkan mereka akan memanggil polisi.” Seorang pekerja di Stadion Kaliningrad juga menambahkan: “Ada orang yang ribut-ribut [soal upah], mereka malah memulangkannya.”

Media-media di Rusia melaporkan jika otoritas di Rostov-on-Don, salah satu kota penyelenggara Piala Dunia 2018, sudah menahan dan mendeportasi 30 pekerja Stadion Rostov dari luar Rusia yang komplain soal upah mereka. Mereka bahkan tak diberi upah sebelum dideportasi.

Hal yang lebih bahaya terjadi ketika peneliti dari Human Rights Watch yang mencoba menginvestigasi isu ini justru ditahan di Volgograd, juga salah satu kota penyelenggara. Seorang jurnalis yang mencoba membongkar korupsi pada konstruksi stadion juga dihajar dan ditahan oleh polisi setempat di Kaliningrad.

Sebagai data tambahan, Building and Woodworkers International (BWI) melaporkan jika sudah terjadi lebih dari 20 kasus pekerja yang meninggal di tapak pembangunan stadion Piala Dunia 2018.

Saat ini, kurang dari 50 hari menjelang Piala Dunia 2018 dimulai, beberapa stadion juga masih dalam tahap konstruksi, yaitu Cosmos Arena (Samara) dan Mordovia Arena (Saransk). Konstruksi keduanya dijadwalkan akan rampung pada akhir bulan ini. Hal ini tentunya semakin meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Pihak Keamanan Tak Bikin Aman dan Suhu yang Terlalu Dingin

Keselamatan kerja pada proyek konstruksi bukan hanya soal kecelakaan atau kondisi tapak. Proteksi dari pihak keamanan lokal kadang justru membuat para pekerja semakin terancam keselamatan dan kesehatannya.

“Kami menemukan banyak orang yang upahnya tak dibayar atau mereka yang komplain soal kondisi tapak, tapi mereka malah ditahan pihak keamanan,” kata Jane Buchanan, peneliti Human Rights Watch.

Banyak hal menjadi efek domino dari upah yang tak terbayar. Upah tersebut kadang tertahan selama berbulan-bulan. Hal itu membuat para pekerja terjebak karena jika mereka kabur, mereka akan kehilangan semua waktu dan pekerjaan mereka. Itu serba salah.

Baca juga: Kekerasan yang Selalu Identik dengan (Ultras) Rusia

Faktor cuaca juga menjadi masalah lainnya. “Para pekerja biasa bekerja seharian di suhu -25 derajat [Celcius] tanpa kesempatan untuk istirahat menghangatkan diri ke dalam ruangan,” kata Buchanan.

Di beberapa tapak konstruksi di Rusia, suhu bisa berada di antara -25 sampai -30 derajat Celcius. Itu sangat jauh di bawah titik beku.

“Aku biasa bekerja bersama 20 orang. Aku tak tahu pada temperatur berapa yang membuat kami bisa tak bekerja. [Tanpa acuan yang jelas] mandor kadang cuma bilang kalau kami sebaiknya tak bekerja [karena terlalu dingin],” kata Kadom, pekerja asal Tajikistan di Ekaterinburg Arena di Yekaterinburg.

Pekerja lain di stadion itu juga menambahkan: “Kami bekerja di -25 derajat Celcius, tapi kadang mandor bisa bilang, ‘Hari ini kita tidak kerja.’”

Jika kita melihat undang-undang yang berlaku, hukum di Rusia mengatur tata cara pekerja di suhu dingin ini dengan acuan khusus untuk perlindungan mereka, antara lain dengan membatasi jam kerja dan memperbanyak waktu istirahat untuk menghangatkan diri.

Sementara kenyataannya, para pekerja hanya menerima satu kali waktu istirahat di dalam ruangan pada saat makan siang dari total (kadang lebih) sembilan jam waktu kerja mereka.

Padahal menurut ILO, bekerja di suhu dingin dapat menyebabkan cedera dingin sistemik maupun lokal, hipotermia, gangguan kapasitas kerja fisik, mengurangi kemampuan kinerja otot, serta mengurangi respons tubuh. Menempatkan pekerja pada suhu di bawah titik beku seperti di Rusia tentu sangat meningkatkan risiko mereka untuk cedera, sakit, dan bahkan meninggal.

“Seharusnya mereka menghapuskan bekerja di kondisi dingin, merencanakan ulang untuk bekerja di musim panas yang lebih hangat,” tulis rekomendasi ILO terhadap masalah ini.

Piala Dunia ≠ Piala (Menuju) Akhirat

Menanggapi isu-isu di atas, pihak Local Organizing Committee (LOC) Piala Dunia 2018 di Rusia menanggapi dengan penuh formalitas: “Strategi kami agar Piala Dunia FIFA 2018 bisa mengurangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif dari acara ini kepada orang-orang, kondisi ekonomi, dan lingkungan.”

Mengenai strategi tersebut, Presiden LOC Alexey Sorokin berkata: “Kami akan melakukan yang terbaik untuk meninggalkan warisan keberlanjutan yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta pembangunan sosial dan SDM.”

Di antara isu-isu utama yang diidentifikasi dalam strategi keberlanjutan adalah untuk “mempromosikan kondisi kerja yang layak untuk pekerja konstruksi stadion Piala Dunia.”

Baca juga: Politik Qatar untuk Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Seperti yang kita tahu, FIFA sudah menunjuk Rusia dan Qatar—dua negara yang punya masalah laten soal HAM—sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Jika di Rusia sangat dingin, maka di Qatar sangat panas. Kondisi panas ini juga menyebabkan risiko keselamatan para pekerja menjadi meningkat.

Sejak 2010 sampai saat ini, International Trades Union Confederation (ITUC) melaporkan jika sudah ada lebih dari 1200 pekerja yang meninggal dunia saat mereka bekerja untuk membangun stadion-stadion Piala Dunia 2022 di Qatar. Jumlah yang ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan Rusia.

Bagi kita sebagai penonton Piala Dunia, baik di televisi maupun di stadion langsung, kita bisa duduk manis saat Piala Dunia nanti padahal kita tahu ada banyak pekerja yang diperbudak dan meninggal untuk membangun stadion yang dipakai di pertandingan tersebut. Stadion tersebut bahkan belum tentu akan terus dipakai setelah Piala Dunia selesai—yang mana itu adalah urusan lain lagi.

Waktu semakin dekat menuju Piala Dunia 2018 dan 2022. FIFA harus menindaklanjuti isu ini lebih dari sekadar laporan-laporan. Mereka harus mengambil langkah konkret untuk “membayar” nyawa-nyawa yang hilang. Ingat, ini Piala Dunia, bukan Piala (menuju) Akhirat.

Komentar