Sampai Kapan Perempuan Iran Dilarang ke Stadion?

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Sampai Kapan Perempuan Iran Dilarang ke Stadion?

Suatu hari di tengah cuaca hangat yang menyelimuti wilayah Iran, Presiden Mahmoud Ahmadinejad berkata seperti ini: “Stand terbaik harus dialokasikan untuk perempuan dan keluarga di stadion, tempat pertandingan nasional dan penting diadakan.”

Perkataan sang presiden pada 24 April 2006 itu sontak menghiasi headline koran-koran nasional. Tidak ketinggalan, media luar seperti Guardian turut mengabarkan pernyataan “hangat” di bulan terhangat Iran tersebut. Ahmadinejad yang belum genap satu tahun menjabat, membuat kaum hawa kegirangan. Setidaknya untuk sementara waktu.

Di Iran, para perempuan tidak bisa menonton langsung pertandingan di dalam stadion. Nikmat indrawi itu terhalang oleh syariat Islam yang sangat dijunjung tinggi pemerintah Iran. Itulah mengapa keputusan presiden yang mencabut larangan perempuan untuk menonton pertandingan di stadion jadi perbincangan seantero negeri. Kaum progresif yang mayoritas pegiat hak asasi manusia mendukung, tetapi kaum konservatif berkata sebaliknya. Bagaimanapun, setidaknya Ahmadinejad sudah memberikan kehangatan di tengah sikap dingin pemerintah kepada kaum perempuan.

Namun tiada kehangatan yang abadi. Ribut-ribut soal keputusan presiden segera dianulir oleh lembaga otoritas tertinggi Iran yang kala itu diketuai Ayatollah Ali Khamenei. Ia tetap bersikukuh bahwa haram hukumnya bagi perempuan untuk menyaksikan langsung pertandingan sepakbola yang dimainkan kaum laki-laki. Alhasil, larangan perempuan ke stadion kembali aktif hingga tulisan ini dibuat.

Hasrat perempuan Iran terhadap sepakbola begitu besar. Hal ini direkam oleh sineas asal Iran bernama Jafar Panahi. Lewat karya film berjudul “offside”, ia menampilkan rasa gundah kaum hawa terhadap sepakbola dengan bingkai komedi satir.

Oleh karena disajikan dengan gaya komedi, dialog-dialog yang muncul tidak langsung menusuk, mengarah, atau memaki rezim. Panahi dengan cerdas memanfaatkan majas ironi dalam setiap adegan.

Pada menit-menit awal film, seorang kakek tua terlihat kebingungan mengejar putrinya yang kabur dari sekolah demi menyaksikan pertandingan Iran kontra Bahrain. Di dalam mobil, sang kakek lalu berbincang dengan si supir.

“Benar pak, dia pergi ke pertandingan sepakbola?” tanya supir.

“Jika dia tidak ke sana, bagaimana saudaranya bisa tahu? Tuhan mengetahui apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Saya harap saya bisa menemukannya sebelum mereka. Duh, mereka pasti akan membunuhnya,” ujar si kakek dengan air muka yang khawatir.

Adapun “mereka” yang dimaksud dalam dialog tersebut adalah para petugas di stadion. Sebagai pihak keamanan, mereka dituntut untuk jeli melihat gerak-gerik manusia yang masuk memadati stadion. Di antara lautan manusia itu tak jarang ada perempuan yang nekat menyamar demi menyaksikan langsung pertandingan sepakbola di stadion.

Para perempuan Iran rela menekan payudara mereka agar tidak menonjol, menggulung rambut panjang mereka, berpakaian layaknya seorang pria, lalu menyelinap masuk ke dalam stadion. Tidak ada cara lain memang selama negara masih mengharamkan kaum hawa berkunjung ke dalam stadion.

Sepakbola dan perempuan mungkin dua unsur yang sulit untuk bersatu, tetapi jangan katakan itu kepada perempuan Iran.

Pada 1997, digelar partai kualifikasi Piala Dunia di Melbourne yang mempertemukan Iran dan Australia. Tampil di hadapan publik sendiri, Australia diunggulkan lolos ke Piala Dunia. Namun siapa sangka justru Iran lah yang keluar sebagai pemenang. Kemenangan itu membuat Iran lolos ke Piala Dunia 1998 di Prancis. Tentu saja torehan itu disambut meriah oleh warga Iran. Baik laki-laki maupun perempuan tumpah ruah di jalanan dalam rangka merayakan keberhasilan Iran tembus Piala Dunia untuk kali pertama.

Ketika pasukan Timnas Iran tiba di negeri sendiri, pemerintah menyambut bak pahlawan. Ada adegan penjemputan oleh helikopter yang menambah wah suasana. Meski begitu, atraksi terbaik justru tersaji di luar stadion Anzadi, stadion berkapasitas 120 ribu penonton.

Sebagaimana dikisahkan Franklin Foer dalam bukunya berjudul How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization, sekitar lima ribu perempuan Iran hadir dan memaksa masuk. Mereka mengacuhkan imbauan pemerintah agar kaum perempuan tetap di rumah selama perayaan berlangsung. Mereka menolak tunduk pada peraturan yang menyatakan kaum perempuan tidak boleh hadir di stadion.

Franklin Foer mencatat, para perempuan itu berteriak: “Bukankah kami juga bagian dari bangsa ini? Kami ingin merayakannya juga.” Takut akan massa yang membludak, para polisi tak punya pilihan lain selain mengizinkan mereka masuk dan mengaku kalah. Hari itu jadi hari bersejarah bagi kaum perempuan Iran yang memperoleh kemenangan kecil atas pemerintah mereka sendiri.

Sepuluh tahun sebelum hari itu, tepatnya pada tahun 1987, pemerintah Iran yang saat itu dipimpin Ali Khomeini sebenarnya sudah mempersilakan kaum hawa untuk menonton pertandingan sepakbola. Hanya saja yang disiarkan lewat layar kaca. Kebijakan itu sama sekali tidak berpengaruh karena atmosfer yang tersaji di stadion jauh berbeda dengan apa yang indra tangkap melalui media televisi.

Kegandrungan perempuan Iran pada khususnya, dan masyarakat Iran pada umumnya terhadap sepakbola sebenarnya secara sadar diciptakan sendiri oleh pemerintah. Hanya rezimnya saja yang berbeda. Beda rezim, beda paham. Beda rezim berarti beda juga gaya kepemimpinan dan produk kebijakannya—sama ketika pemerintah Indonesia melarang paham komunis, padahal rezim terdahulu sangat mesra kepada PKI, partai berhaluan komunis terbesar di Indonesia.

Sejarah mencatat, sepakbola pertama kali diperkenalkan secara luas kepada publik Iran oleh Mohammad Reza Pahlavi. Singkat cerita, pria ini menduduki tahta kepemimpinan Iran selama 38 tahun.

Dalam masa kepemimpinan Syah Reza, ia perintahkan angkatan bersenjata bertanding, bahkan sampai ke pelosok desa yang manusianya belum mengenal sepatu Eropa. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk publikasi dan sosialisasi. Beruntung jika ada partisipasi dari masyarakat. Franklin Foer menyitir sejarawan Houchang Chehabi yang menulis: “sepakbola telah menjadi lambang modernisasi Iran, dan olahraga ini dengan cepat disokong oleh eselon tertinggi kenegaraan.”

Rezim kuat Syah Reza bukan tanpa perlawanan. Kaum ulama diam-diam mengeluarkan fatwa haram untuk permainan sepakbola. Lebih dari itu, para mullah sepakat agar orang Iran yang bermain sepakbola dirajam batu. Alasannya karena bermain sepakbola berarti mengenakan celana pendek yang membuat aurat terbuka—kendati tentu ada alasan politis di balik pelarangan tersebut.

Cara-cara kuno yang dilancarkan kaum ulama tidak begitu efektif. Nyatanya, warga Iran masih saja bermain sepakbola. Pemerintah turut memfasilitasi “pembangkangan” warga terhadap ulama-ulama Iran dengan menyita lahan-lahan masjid. Di masa kepemimpinan Syah Reza, lahan tersebut diubah menjadi satu-dua lapangan sepakbola.

Modernisasi terus dilakukan pemerintahan monarki Syah Reza. Mulai dari infrastruktur hingga ke tatanan sosial-budaya. Berabad-abad tradisi kehidupan Parsi dicabut, dicungkil, dan dibongkar hanya dalam waktu satu generasi yang penuh transformasi menggila. Tanpa disadari, aksi itu mengakumulasi kebencian masyarakat Iran. Puncaknya pada 1979, Iran diguncang prahara yang berujung pada tumbangnya Syah Reza. Media ikut berpartisipasi dengan mem-branding gerakan itu dengan sebutan “Revolusi Iran” atau “Revolusi Islam”.

Sadar sudah memiliki kekuasaan, kaum revolusioner Iran segera menunjukkan taring. Mereka membalas penyitaan yang dilakukan rezim terdahulu. Lahan-lahan masjid yang sempat beralih fungsi, dikembalikan lagi sebagai tempat ibadah. Tak lupa, kaum puritan asketis ikut mewarnai revolusi dengan menganggap sepakbola itu bejat.

Mereka aktif berjejaring dan dengan lantang menyerukan jihad. Menolak segala bentuk budaya barat termasuk sepakbola yang diyakini sebagai alat propaganda Inggris. Dalam bukunya, Franklin Foer menceritakan sempat ditemukan sebuah pamflet yang berseru: “Akankah semua masalah politik, ekonomi, dan budaya kita terselesaikan bila kita beralih ke olahraga?”.

Seiring berjalan waktu, sikap rezim 1979 menjadi plin-plan. Mereka sadar, kegemaran kolektif rakyat Iran tidak bisa diberangus begitu saja. Sepakbola kadung meresap hingga ke desa-desa. Sepakbola kadung digemari anak muda, bapak tua, lelaki, dan perempuan. Kaum ulama pun sadar, melarang sepakbola tidak sepadan dengan ongkos politiknya.

Akhirnya mereka coba mengkooptasi dengan cara-cara yang paling mungkin dan realistis. Pemerintahan saat itu mengadakan delay siaran sekian detik, agar sensor punya waktu untuk meniadakan makian-makian jorok dan pesan-pesan politik dari tribun yang mungkin saja terdengar. Dalam koran-koran Iran, para editor foto mendapat perintah agar memburamkan iklan yang menghiasi kostum pesepakbola. Tidak hanya itu, papan sponsor di sekeliling lapangan pun tak luput dari sensor. PlayStation, Nike, McDonald, dan merek-merek lainnya dianggap pemerintah Iran sebagai hal-hal yang tidak Islami.

Sensor dianggap sebagai bentuk keringanan dari pemerintah. Daripada tidak disiarkan, lebih baik disaring dulu agar saat tampil ke publik sudah sesuai dengan syariat Islam. Hal itu juga berlaku terhadap kaum perempuan.

Keringanan demi keringanan sudah diberikan pemerintah kepada kaum hawa. Mulai dari boleh melihat pertandingan sepakbola melalui layar kaca, hingga boleh hadir ke stadion selama yang bertanding juga perempuan. Namun kaum hawa tentu belum puas. Sampai hari ini, masih ada perempuan Iran yang menyamar sebagai laki-laki di dalam stadion ketika pertandingan sepakbola pria digelar.

Dari sudut pandang pemerintah Iran, perempuan adalah sumber dosa karena kehadiran mereka di stadion rentan menyulut tindakan-tindakan tidak terpuji dari para penonton pria. Sebuah persepsi yang jauh dari adil dan lahir dari pola pikir patriarki.

Iran menggunakan hukum Islam dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Adapun sumber hukum Islam ada pada kitab suci Al-Quran. Lantas, benarkah isi teks Al-Qur’an hanya mengagungkan kaum lelaki?

Seorang perempuan pertama Pakistan yang bekerja untuk pelayanan luar negeri bernama Asma Barlas menulis jurnal The Qur’an and Hermeneutics: Reading Qur’an’s Opposition to Patriarchy yang diterbitkan Universitas Edinburgh pada tahun 2001. Ia menganggap bahwa Al-Qur’an tidak menginvestigasi gender dengan makna simbolis. Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak mendefinisikan pria dalam hal maskulin atau sebagai lawan dari perempuan, atau perempuan dalam hal feminin atau sebagai lawan pria.

Barlas mengemukakan bahwa di dalam Al-Qur’an, Tuhan dan Rasul secara jelas melarang umat Islam mengenderkan Tuhan dalam jenis kelamin sosial tertentu. Aspek monoteisme dalam Al-Qur’an merupakan aspek yang tak dapat ditoleransi atau ditawar lagi. Sehingga akan sangat keliru bila merepresentasikan Tuhan sebagai bapak/laki-laki. Logika ini juga berlaku terhadap pandangan umum yang menyatakan kaum laki-laki adalah orang yang memiliki hak untuk dijadikan representasi dari Tuhan.

Pembacaan patriarkis dan misoginis sama sekali tidak bersumber pada Al-Qur’an, tapi bersumber dari para penafsir itu sendiri. Sudut pandang inilah yang mesti diubah. Al-Qur’an merupakan kalam ilahi, jadi pokok persoalannya bukan pada posisi kalam atau firman Tuhan yang suci, melainkan pada bagaimana manusia menafsirkannya.

Sehingga kesimpulannya menurut Barlas, umat Islam telah gagal membaca patriarki dalam Al-Qur’an, atau lebih tepatnya gagal membaca dengan hermeneutika (jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna) dan juga salah ketika orang membacanya dalam konteks politik seksual. Sebagai tokoh pemikir muslimah, ia tentu menginginkan perubahan terhadap cara memandang Al-Qur’an agar tak lagi bias gender dalam masalah penafsiran.

Sebagai penafsir, pemerintah Iran yang dihuni manusia-manusia itu mungkin saja keliru. Buktinya pada 2006, Ahmadinejad sempat mencabut larangan itu. Artinya, perempuan Iran masih punya harapan untuk hadir ke stadion tanpa perlu berdandan seperti lelaki.

Ahmadinejad mangkat pada Agustus 2013, lalu tampuk kepemimpinan beralih ke Hassan Rouhani. Di antara transisi kekuasaan itu, nasib perempuan Iran masih sama. Kendati demikian, angin segar tetap ada dan sempat berhembus.

Gianni Infantino (Presiden FIFA) berkunjung ke Teheran pada 1 Maret 2018. Kunjungan itu dalam rangka mengaplikasikan komitmen FIFA terhadap kesetaraan gender. Pihak pemerintah pun merespons kunjungan FIFA dengan positif. Mereka menjanjikan kaum perempuan dapat hadir ke stadion sesegera mungkin.

“Saya minta kepadanya (Rouhani), agar mempertimbangkan akses terhadap perempuan di stadion,” kata Infantino sebagaimana dikutip Al-Araby.

“Dia (Rouhani) berjanji kepada saya hal itu akan segera terwujud. Dia juga bilang kepada saya bahwa di negara seperti Iran, hal-hal semacam ini terkadang membutuhkan sedikit waktu.” Infantino menambahkan.

Pada November 2013, di awal-awal masa jabatan Rouhani, FIFA juga berkunjung ke Iran. Saat itu presiden FIFA masih Sepp Blatter. Isu yang didiskusikan pun sama, yakni perihal larangan bagi perempuan untuk menonton sepakbola di stadion. Namun tidak ada yang terjadi. Pemerintah masih bersikap dingin. Sialnya, FIFA mendatangi orang yang sama. Tahun 2013 juga tahun 2018 hanya akan sekadar angka bagi para perempuan gila bola di Iran.

Waktu terus berlalu, pemimpin Iran silih berganti, diiringi cuaca hangat dan cuaca dingin yang bergantian menyelimuti. Nasib seluruh anak manusia termasuk kaum perempuan Iran memang ditentukan waktu. Masalahnya, sampai kapan perempuan Iran dilarang ke stadion?


Simak cerita dan sketsa adegan Rochi Putiray tentang cara menjadi suporter yang baik:

Komentar