Relasi Paradigmatik a la Taribo West

Backpass

by Sandy Firdaus 27777

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Relasi Paradigmatik a la Taribo West

Apa yang dilakukan oleh Taribo West saat ia masih aktif sebagai pemain adalah bentuk dari sebuah relasi paradigmatik. Berbagai gaya rambut yang nyentrik yang kerap ia coba semasa masih bermain adalah bentuk dari relasi paradigmatik tersebut.

Dalam buku Semiotics for Beginners (2002), Daniel Chandler menjabarkan bahwa untuk melihat sebuah tanda, ada dua buah relasi yang bisa digunakan, yaitu relasi sintagmatik dan relasi paradigmatik. Penjabaran dua relasi ini berangkat dari pemikiran seorang ahli bahasa asal Prancis, Ferdinand de Saussure, yang mengungkapkan bahwa makna dari sebuah tanda dapat dicari dari perbedaan antara unsur penanda yang satu dengan penanda yang lain.

Contohnya, tanda bernama ayam dapat dikenali karena perbedaan unsur penanda dengan sapi. Pun dengan tanda berlambang gawai dapat dikenali karena memiliki unsur penanda yang beda dengan tanda berlambang helm. Istilahnya, mengutip dari judul album keempat band asal Banjarmasin, Radja, Aku Ada Karena Kau Ada. Adanya aku karena adanya kamu. Adanya aku karena aku berbeda dengan kamu.

Relasi sintagmatik dan paradigmatik. Sumber: Semiotics the Basics

Pemikiran dari Ferdinand de Saussure inilah yang melahirkan istilah relasi sintagmatik dan paradigmatik. Dua relasi ini menekankan kesinambungan pembentukan makna yang berasal dari sebuah kombinasi antar penanda (sintagmatik) dan seleksi masing-masing penanda (paradigmatik). Dalam sebuah tanda, jika penanda menghasilkan kombinasi tertentu, maka makna yang dihasilkan tanda pun akan berbeda, Pun ketika penanda diseleksi sesuai dengan acuan tertentu, maka hal itu akan menghasilkan sebuah kombinasi dalam tanda dan tanda akan menciptakan makna yang berbeda.

Laiknya tanda-tanda yang lain, tubuh manusia pun bisa dianggap sebagai sebuah tanda yang mengandung penanda-penanda tersendiri. Aku ada karena kau ada, kita bisa dianggap ada karena ada orang lain yang mengelilingi kita. Setiap orang memiliki penanda uniknya masing-masing yang membuat mereka dikenali dari orang lain. Relasi paradigmatik dan sintagmatik yang terkandung dalam tubuh manusia yang diasosiasikan dengan tanda menghasilkan makna berbeda (lihat contoh gambar di atas).

Setiap kombinasi relasi sintagmatik dan setiap pilihan dari relasi paradigmatik akan menghasilkan makna yang berbeda bagi sebuah tanda bernama tubuh manusia. Makna tersebut akan lebih meluas lagi jika dibandingkan dengan tubuh-tubuh manusia yang lain.

Relasi paradigmatik itulah yang pernah dilakukan oleh Taribo West semasa kariernya sebagai persepakbola. Relasi paradigmatik dalam bentuk gaya rambut.

Taribo West, Gaya Rambut, dan Relasi Paradigmatik

Paul Pogba dewasa ini dikenal sebagai pemain yang kerap gonta-ganti gaya rambut. Sudah bermacam gaya rambut ia coba ketika ia masih membela Juventus, sampai sekarang ia membela Manchester United. Pemilihan gaya rambut inilah, yang bisa dilihat sebagai relasi paradigmatik yang coba dilakukan oleh Pogba.

Pemain timnas Prancis itu memilih gaya rambut, direlasikan secara sintagmatik dengan penanda-penanda lain dalam tubuhnya, jadilah sosok Paul Pogba yang memiliki makna sesuai tafsiran orang-orang yang melihatnya.

Namun, jauh sebelum Pogba dikenal karena gaya rambutnya yang unik dan nyentrik, ada seorang pemain yang juga pernah melakukan hal yang sama seperti Pogba. Pemain ini bisa dianggap sebagai inspirasi Pogba (mungkin selain Carlos Valderrama) dalam hal pemilihan rambut unik. Ia adalah Taribo West.

Jauh sebelum Pogba mempraktekkan gaya rambut unik, Taribo West sudah melakukan hal ini terlebih dahulu. Pada medio 90an sampai awal 2000an, saat ia mencapai masa-masa emasnya sebagai pesepakbola, West kerap menggunakan gaya rambut yang aneh. Usaha West ini mirip seperti yang dilakukan oleh Pogba sekarang. Ia memilih gaya rambut tertentu, direlasikan secara sintagmatik dengan penanda lain di tubuhnya, jadilah sosok West yang memiliki makna sesuai tafsiran orang-orang yang melihatnya.

Gaya rambut Taribo West kala membela Inter. Sumber: @90sfootball

Apa yang dilakukan oleh West (dan juga Pogba) adalah bentuk perwujudan dari relasi paradigmatik yang sedang mereka lakukan. Dengan memilih gaya rambut unik, maka mereka memiliki penanda lain yang berbeda dengan penanda yang mungkin dimiliki oleh pemain (tanda) yang lain. Penanda berbeda ini menimbulkan makna yang berbeda dalam sebuah tanda (dikombinasikan dengan relasi sintagmatik), sehingga tanda bernama Taribo West (ataupun Paul Pogba) menjadi dianggap ada.

Ke-ada-an yang berusaha ditunjukkan oleh Taribo West dan Paul Pogba ini, selain dianggap sebagai sebuah ejawantah dari relasi paradigmatik, juga bisa dianggap sebagai sebuah bentuk eksistensi diri. Dengan menerapkan relasi paradigmatik yang berbeda (yang berujung pada relasi sintagmatik yang berbeda pula), maka sebuah ke-ada-an akan diraih. Ke-ada-an inilah yang mewujud menjadi sebuah eksistensi, yang membuat mereka dikenal oleh para pemain lain.

***

Menerapkan konsep dari Aku Ada Karena Kau Ada, maka apa yang dilakukan oleh West dan Pogba ini memiliki dua nilai lebih: mereka membuat diri mereka sendiri dikenal (eksistensi), tapi di sisi lain mereka juga membuat orang lain dikenal karena ke-ada-an mereka. Sinergitas dalam kehidupan dengan sendirinya berhasil mereka bentuk.

Terlepas dari keinginan pribadi mereka menerapkan relasi paradigmatik lewat pemilihan rambut, setidaknya dunia harus berterima kasih kepada pemain seperti Taribo West. Dengan keunikan yang ia miliki, pemain kelahiran 26 Maret 1974 ini berhasil membuat dirinya dikenal, dan juga membuat orang lain menjadi dikenal karena keterkenalan dirinya.

Keadaan itulah, yang disebut oleh Muhammad Al-Fayyadl, sebagai wujud indah dari perbedaan. Dalam bukunya "Derrida", ia pernah mengungkapkan bahwa "dunia tanpa pusat adalah dunia yang mengajarkan kita untuk menghormati yang-beda dalam keberbedaannya dan yang-lain dalam keberlainannya".

Anyway, selamat ulang tahun, West!

foto: @KebabMayoAriza

Komentar