Sepakbola di Bumi, Bola di Bulan dan Rerumputan di Angkasa

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Sepakbola di Bumi, Bola di Bulan dan Rerumputan di Angkasa

“Ayo!” ujar kosmonot Rusia, Yuri Alekseyevich Gagarin, bersemangat menjelang peluncuran pesawat Vostok 1, 34 hari setelah ulang tahunnya yang ke-27. Sebuah semangat yang mengesankan dari seorang pria muda yang, secara fisik dan mental, sempurna. Mengesankan, mengingat perjalanan ke ruang angkasa bukanlah sesuatu yang dapat dianggap, dihadapi, dan ditanggapi dengan biasa.

Astronot Amerika Serikat, Chris Hadfield, mengingatkan dunia tentang risiko besar yang tersimpan dalam setiap perjalanan ke ruang angkasa, tak peduli seberapa kecil kemungkinan terjadinya kesalahan. “Because you realise by the end of the day you're either going to be floating effortlessly, gloriously in space or you are going to be dead,” ujarnya ketika menjadi pembicara untuk TED Talks.

Gagarin lahir pada 9 Maret 1934, jika ia masih hidup usianya saat ini tepat 81 tahun. Sayang Gagarin sudah wafat pada 27 Maret 1968, saat masih berusia 34 tahun, karena kecelakaan dalam sesi latihan penerbangan menggunakan pesawat MIG-15. Esai ini merupakan tribute dan kenangan untuk Gagarin.

Peluncuran Vostok 1 berjalan lancar, dan Gagarin menjadi manusia pertama di ruang angkasa. Gagarin berada di ruang angkasa, mengorbit bumi di dalam Vostok 1, selama 108 menit. Pergi dengan selamat, Gagarin kembali dengan selamat pula. Kalaupun ada yang berbeda darinya, itu menurut orang-orang yang melihatnya saja. Saat kapsulnya mendarat di sebelah barat kota Engels, Saratov, Rusia, orang-orang mengira Gagarin adalah alien.

Gagarin sempat meyakinkan orang-orang pertama yang melihatnya bahwa ia tidak membawa ancaman, sebelum menerima pertanyaan apakah dirinya datang dari ruang angkasa. “Faktanya, iya,” jawab Gagarin.

Sebagai manusia pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa, Gagarin telah melihat dan mengalami apa yang belum pernah dilihat dan dialami oleh manusia manapun. Selama 108 menit mengorbit bumi di ruang angkasa, Gagarin menyadari banyak hal. Salah satunya adalah keindahan bumi.

“Mengorbit bumi dalam pesawat ruang angkasa, saya melihat betapa cantiknya planet kita. Mari kita memelihara, bukan menghancurkannya!” tulis Gagarin dengan tangannya sendiri mengenai pengalaman yang ia dapat selama berada di ruang angkasa.

Lebih jauh, deskripsi keindahan bumi menurut Gagarin terdapat dalam buku karya Louise Young; Earth's Aura (1977):

“Indah sekali. Saya melihat awan dan bayangan tipisnya di bumi yang jauh... Perairan nampak seperti titik-titik gelap yang gemerlap. Ketika saya melihat kaki langit, saya melihat transisi mendadak dari permukaan bumi yang terang ke langit yang gelap mutlak. Saya menikmati spektrum warna bumi yang kaya. Bumi dikelilingi lingkaran biru yang secara bertahap semakin gelap, berubah menjadi pirus, biru tua, keunguan, dan akhirnya hitam seperti arang.”

Dapat atau tidaknya kita menangkap keindahan bumi dari pemerian Gagarin, peduli atau tidaknya kita terhadap arti penting perjalanan ke ruang angkasa, merawat bumi tetaplah kewajiban kita. Karena hingga saat ini, bumi masih merupakan satu-satunya planet yang mampu menyokong kehidupan. Karenanya, bumi jugalah yang masih menjadi satu-satunya tempat bagi sepakbola – the beautiful game – dapat dimainkan.

“Jika Tuhan ingin kita bermain sepakbola di angkasa,” kata Brian Clough, “Tuhan pasti sudah menempatkan rumput di atas sana.”

Kutipan itu keluar dari mulut Clough guna menjelaskan visinya bermain sepakbola. Kalimat itu mencerminkan ketidaksukaan Clough pada umpan-umpan panjang. Ia senang dengan umpan menyusur tanah dan betapa penting umpan mendatar bagi dirinya.

Ada sebuah kutipan Gagarin yang hingga saat ini masih diperdebatkan: “Saya mencari dan terus mencari, namun tidak menemukan Tuhan di ruang angkasa.”

Benar atau tidaknya Gagarin berkata seperti itu masih menjadi misteri. Yang pasti, Gagarin tidak menemukan sepakbola di ruang angkasa.

Tapi orang-orang Amerika pernah melihat bola di bulan.

Pada 1994, menjelang digelarnya Piala Dunia di Amerika Serikat, sempat muncul poster-poster besar di Amerika (khususnya di kota-kota yang menjadi tuan rumah) yang menggambarkan Neil Amstrong mendarat di bulan, dan di sana Amstrong menemukan bola. Di samping bola itu kemudian ditancapkan bendera Amerika.

Amstrong adalah jawaban Amerika atas capaian Sovyet melalui Gagarin dalam urusan penjelajahan ruang angkasa. Pesawat luar angkasa yang membawa Amstrong, Apollo 11, mendarat di bulan pada 20 Juli 1969, pada pukul 20.14 waktu Amerika. Prestasi itu dengan cepat membangkitkan kebanggaan nasional bangsa Amerika, yang sebelumnya sempat "kecolongan" oleh perjalanan Gagarin mengelilingi bumi.

Poster besar yang menggambarkan Amstrong menemukan di bulan adalah gimmick khas Amerika yang, tentu saja, menjadi bagian kampanye Piala Dunia 1994. Kita tahu Amerika tak menggemari sepakbola, mereka menyebutnya soccer, dan untuk membuat warga Amerika menoleh pada gelaran Piala Dunia perlulah disusun gimmick-gimmick yang membangkitkan kebanggaan nasional.

Dalam esai berjudul Menemukan Bola di Bulan, yang terbit di Kompas edisi 4 Juli 1994, Romo Sindhunata menuliskan catatannya ihwal fenomena poster itu: "Warga Amerika adalah orang-orang yang sangat bangga dengan nasionalisme mereka. Bagi mereka, lebih dari sekadar penemu bulan, Neil Amstrong adalah tokoh keberhasilan nasional. Karenanya, (sepak)bola pun akan populer, bila, seperti Amstrong, pemain-pemain bola Amerika bisa mengangkat kebanggaan nasional."

Di luar dugaan, Amerika bisa lolos dari babak grup Piala Dunia 1994. Mereka lolos dengan menyingkirkan salah satu favorit juara, setidaknya menurut Pele, yaitu Kolombia. Mereka memang akhirnya tersingkir di babak 16 Besar karena dikalahkan Brazil, tapi itu terjadi melalui pertarungan yang sengit, seimbang dan menegangkan. Brazil, yang kemudian menjadi juara, hanya bisa unggul tipis 1-0 atas negara yang tak menyukai sepakbola, dan kadang malah mengolok-olok sepakbola.

Kebanggan nasional pun mencuat. Dan Thomas Dooley, Alexy Lalas, hingga sang pelatih, Bora Milutinovic, disanjung setinggi langit, bulan dan bintang.

"Bora Milutinovic," demikian Si Jenggot Alexi Lalas memuji, "bisa melatih di mana saja, termasuk di bulan."

Semua merayakan eforia dan menikmati kebanggaan karena sepakbola. Mereka dielu-elukan karena seperti baru saja menemukan bola, sebagaimana Amstrong menemukan bulan.

Begitulah memang Amerika.

Komentar