Jam Pertandingan: Dilema Siaran dan Kesehatan

Nasional

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Jam Pertandingan: Dilema Siaran dan Kesehatan

Liga 1 2021/22 resmi memasuki seri keempat kompetisi. Berbeda dengan seri-seri sebelumnya yang dilangsungkan di Pulau Jawa, seri keempat diselenggarakan di Bali. Perpindahan pulau tersebut pun menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain, mengingat zona waktu di Bali satu jam lebih cepat dibandingkan Pulau Jawa.

Bek senior Persib, Supardi, sempat mengaku keberatan setelah melihat jadwal bertanding Maung Bandung yang semuanya dimulai di atas jam sembilan malam waktu setempat. “Jam segitu saya sudah tidur. Jelas, sebenarnya ini bukanlah jadwal yang kami inginkan. Tapi, sebagai pemain kita harus siap,” aku Supardi.

Dari semua peserta Liga 1, Persib Bandung bisa dikatakan sebagai tim yang paling ‘dirugikan’ dari pembagian jadwal seri keempat. Dari sembilan pertandingan yang akan mereka jalani di Bali, semua dimulai di atas jam sembilan malam. Disusul oleh Persija Jakarta dengan tujuh pertandingan, lalu Persebaya Surabaya, dan PSIS Semarang dengan masing-masing enam laga di atas jam sembilan malam. Persebaya tujuh pertandingan bahkan, jika menghitung laga tunda pekan ke-17 melawan Bali United (5/1).

Ucapan Supardi tentang pertandingan yang berlangsung terlalu malam dan mengganggu jam tidur bisa dilihat sebagai gurauan belaka. Mengingat sejak putaran pertama Liga 1 2021/22, cukup banyak partai yang baru dimulai saat mendekati atau tepat pukul sembilan Waktu Indonesia Barat (WIB). Namun di sisi lain, jam tidur juga merupakan menjadi faktor yang mempengaruhi performa seorang atlet.

Pendiri Total Football Analysis Chris Darwen menjelaskan, jika seorang pemain tampil selama 90 menit penuh, akan sangat baik jika mereka tidur lebih dari delapan jam. Kekurangan istirahat atau tidur dapat meningkatkan risiko cedera dan peluang untuk membuat kesalahan di atas lapangan juga semakin banyak.

Koordinator Medis Major League Soccer (MLS) John Gallucci Jr. Juga mendukung pernyataan Darwen. “Kekurangan tidur dapat membuat tubuh jadi lebih lambat dan kurang responsif,” katanya kepada Soccer Today.

“Glukosa dan glikogen adalah sumber utama tenaga untuk seorang atlet. Glukosa tersimpan dalam otot dan digunakan saat tubuh berada dalam tekanan. Mereka yang kurang istirahat kemungkinan besar akan memiliki daya simpan tenaga lebih sedikit. Padahal hal itu dibutuhkan untuk bermain optimal dalam olahraga kompetitif seperti sepakbola,” jelasnya.

Bukan hanya sepakbola, atlet olahraga lain juga membutuhkan istirahat yang cukup dan jam tidur teratur untuk menjaga performa terbaik mereka. Dalam penelitian Universitas Stanford, pemain bola basket yang sebelumnya tidur enam sampai sembilan jam mengalami peningkatan performa ketika mereka rutin memejamkan mata di kasur 10 jam selama lima hingga tujuh pekan berturut-turut.

ESPN juga melaporkan bahwa atlet-atlet sekelas Maria Sharapova, Usain Bolt, LeBron James, dan Roger Federer juga tidur secara teratur selama 10 jam atau lebih setiap harinya. Dua nama terakhir bahkan sampai menghabiskan setengah hari (12 jam) hanya untuk tidur.

Jadwal pertandingan Liga 1 yang baru memulai pertandingan pukul sembilan malam ke atas jelas berpotensi merusak waktu istirahat pemain. Namun di sisi lain, harus diakui juga bahwa ada faktor komersial di balik pemilihan jam pertandingan. Sejak 2018, Persib hampir selalu bertengger di puncak klasemen berdasarkan rating televisi. Bahkan pada 22 April 2021, pertandingan Persib melawan Persija di Final Piala Menpora berhasil duduk di peringkat dua program televisi terbaik hari itu. Hanya kalah dari Ikatan Cinta yang disiarkan oleh RCTI.

Pencapaian tersebut sama dengan pertandingan Indonesia melawan Malaysia di Piala AFF 2020. Terlepas dari angka rating, kedua laga tersebut duduk sebagai program terbaik kedua pada harinya. Sebagai perbandingan, laga Persita Tangerang kontra Arema FC (28/10) yang diselenggarakan sore hari (18:00 WIB) hanya duduk di peringkat empat rating televisi hari itu.

Ini adalah musim pertama Liga 1 Indonesia mengedepankan pukul 20:30, 20:45 WIB, atau lebih sebagai sajian utama mereka. Sejak 2017 sebenarnya ada beberapa kali pertandingan Liga 1 dijalankan mendekati jam sembilan malam, namun baru di 2021/2022 waktu tayang tersebut rutin digunakan untuk menyiarkan pertandingan. Sebelumnya, mayoritas pertandingan paling malam di Liga 1 adalah pukul 19.30 WIB.

Harus bermain malam, bahkan jam sembilan ke atas dapat dikatakan sebagai konsekuensi Persib sebagai salah klub terbesar di Indonesia. Baik itu dari segi historis, dukungan suporter, ataupun jumlah pemain bintang. Jika menengok kembali putaran pertama Liga 1 2021/2022, Persib bahkan selalu bermain di jam tayang utama alias prime time (18:00 hingga 22:00 WIB). Sepuluh di antaranya mendekati atau lebih dari jam sembilan malam. Dari 17 pertandingan, hanya sekali mereka bermain di luar prime time.

Dari semua penghuni lima besar Liga 1 2021/2022 (per 6 Januari 2022), Persib dan Persebaya paling sering bertanding saat prime time (17) di putaran pertama. Disusul oleh Arema FC (15), Bali United (13), dan pemuncak klasemen sementara Bhayangkara FC (10).

Jam pertandingan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemegang hak siar adalah sebuah konsekuensi. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Eropa juga demikian. La Liga Spanyol dan Serie-A Italia berusaha memanjakan pasar Amerika Serikat dengan jam tayang mereka. Sementara Premier League dan 1.Bundesliga tergolong ramah untuk penduduk di Asia.

Lalu, pertanyaannya apakah sepadan mengorbankan waktu istirahat atlet demi memenuhi kebutuhan siaran?

Tidur di malam hari dan bangun pagi dengan rentan waktu istirahat selama tujuh atau delapan jam dipercaya menjadi opsi terbaik, atau yang dianjurkan pada normalnya. Namun, setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda termasuk dalam urusan beristirahat.

Pegulat profesional asal Jepang, Kota Ibushi, menjelaskan bagaimana dirinya hidup 25 jam sehari dengan rutin tidur tujuh jam setiap harinya. “Jika saya tidur tengah malam, berarti bangun pukul tujuh pagi. Kemudian saya baru akan tidur lagi jam satu pagi keesokan harinya, lalu bangun pukul delapan. Itu pola tidur saya,” jelasnya. Membingungkan memang, namun kembali lagi, setiap orang punya kebiasaan berbeda-beda.

Menurut Nick Littlehales, salah satu ahli dalam urusan tidur di dunia olahraga profesional mengatakan atlet kelas dunia bisa tetap meraih hasil optimal dengan lima siklus tidur 90 menit per hari. Jadi, partai malam hari mungkin tidak begitu masalah ketika para pemain yang terlibat sudah menemukan pola istirahat terbaik mereka.

Meski demikian, berdasarkan penelitian Journal of Physiology, waktu terbaik untuk melakukan aktivitas olahraga adalah jam satu siang hingga empat sore. Sementara berolahraga pada jam tujuh hingga 10 malam bisa memperlambat waktu tubuh atau ‘body clock’ yang kemudian membuat orang-orang menjadi tidur lebih larut dari biasanya.

Mungkin itu juga bisa jadi pertimbangan jika pihak pemegang hak siar ingin memanjakan penonton setia mereka dengan performa terbaik para pemain di atas lapangan. Mengingat ada masanya Liga Indonesia menjadikan 19:30 WIB sebagai waktu tanding terakhir mereka.

Komentar