Terima Kasih, Tabloid BOLA

Klasik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Terima Kasih, Tabloid BOLA

Setelah 34 tahun menemani para pencinta sepakbola Indonesia, Tabloid BOLA mengumumkan bakal menerbitkan edisi cetak terakhir mereka pada Jumat ini (19/10) dan Jumat pekan depan (26/10).

“Sesuai sejarahnya, edisi pertama BOLA pada 1984 terbit pada Hari Jumat, dan akan berakhir pada Jumat pula. Terbit 56 halaman dan full color,” cuit Tabloid BOLA di akun Twitternya pada Rabu (17/10) malam.

BOLA pertama kali hadir pada 3 Maret 1984 sebagai sisipan harian Kompas. Saat itu rubrik olahraga di Kompas hanya dimuat dalam satu halaman, padahal minat masyarakat terhadap berita olahraga sangat tinggi.

Sejarah Perkembangan BOLA di Tanah Air

Dalam bukunya yang berjudul Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media Edisi 2, Fajar Junaedi menyampaikan jika topik sepakbola menjadi sajian yang diminati para pembaca koran setelah topik politik.

“Para pembaca umumnya membaca halaman depan lalu kemudian beralih ke halaman olahraga. Beberapa pembeli eceran saat datang langsung membuka halaman olahraga, terutama ketika ada pertandingan sepakbola besar (big match) yang akan berlangsung,” tulisnya.

Hal tersebut membuat Kompas memutuskan untuk menyeriusi topik sepakbola, meski hanya sepekan sekali. Ignatius Sunito dan Sumohardi Marsis, yang saat itu bekerja sebagai wartawan Kompas bagian olahraga, menjadi pelaksana pembuatan Tabloid BOLA atas gagasan Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama.

Pada akhirnya mulai 9 Maret 1984 (Jumat) ditentukan jika BOLA akan disisipkan dalam bentuk tabloid (format surat kabar yang ukurannya lebih kecil dari koran) di dalam Koran Kompas setiap Jumat. Pada edisi pertama tersebut, BOLA memiliki 16 halaman.

Empat tahun setelahnya, pada 2 April 1988, BOLA terbit secara mandiri, juga setiap Jumat, dengan jumlah halaman yang bertambah menjadi 24.

Pada edisi tersebut BOLA menampilkan kaver Diego Maradona dengan tajuk “Maradona ke Galatama?” yang menceritakan gosip kepindahan Maradona ke Galatama (Liga Sepakbola Utama Indonesia).

Tabloid BOLA mulai terbit dua kali dalam satu pekan sejak 1997, yaitu setiap Selasa dan Jumat. Waktu terbit ini dinilai sangat pas, karena kejadian-kejadian tengah pekan serta persiapan pertandingan untuk akhir pekan bisa dibaca pada edisi Jumat (sebagai pratinjau), sementara kejadian menarik pada akhir pekan bisa dibaca pada edisi Selasa (sebagai tinjauan pertandingan).

Lini Masa Bola (Oleh: Mayda Ersa Pratama)

Masih menurut Fajar Junaedi, perkembangan media cetak berjenis tabloid melesat setelah reformasi (1998) dengan oplah 4,6 juta eksemplar pada 2008.

Angka ini memang masih kalah jika dibandingkan dengan jenis media cetak harian (7 juta eksemplar), surat kabar mingguan (1 juta), dan majalah atau buletin (5,9 juta). Hal itu juga yang membuat BOLA menerbitkan format majalah dalam BolaVaganza sejak November 2001.

Bertahan Meski Ada Kompetitor (Terutama SOCCER)

Pada generasi 1990-an, BOLA dianggap sebagai “kitab suci”. Dahulu pembahasan Serie A Italia yang paling dicari. Semakin ke sini, Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, dan Liga Champions yang membuat para pembaca tertarik membeli tabloid ini.

Namun sebenarnya BOLA tidak hanya membahas sepakbola, tapi juga olahraga lain meski porsinya tak lebih banyak daripada sepakbola.

Dua rubrik terkenalnya adalah OLE Nasional yang membahas sepakbola dalam negeri, serta OLE Internasional yang membahas sepakbola mancanegara. Rubrik komik juga menjadi ciri khas mereka, dengan Si Gundul tampil sebagai ikonnya.

Selain pembahasan sepakbola mendalam, BOLA juga sering menampilkan poster para pesepakbola, yang menjadi buah bibir bagi generasi 1990-an. Popularitas poster ini yang kemudian membuat mereka menerbitkan BOLA Poster pada 1999.

Kesuksesan BOLA sebagai tabloid sepakbola dan olahraga selanjutnya diikuti oleh kemunculan tabloid-tabloid lainnya sebagai kompetitor, seperti Hai Soccer (selanjutanya menjadi SOCCER), GO (Gema Olahraga), Total Sport, TopSkor, Skor, TopSoccer, Libero, dll.

Dari semua kompetitor, bisa dibilang SOCCER adalah yang paling mendekati BOLA. Meski begitu sebenarnya BOLA dan SOCCER memiliki pangsa pasarnya masing-masing.

“Yang beli BOLA itu umumnya orang dewasa, orang sudah kerja, atau anak kuliahan. Kalau SOCCER itu yang beli anak-anak SMA dan SMP,” kata Winarto, penjual koran di Kota Sragen, yang menjadi narasumber pada buku karya Fajar Junaedi.

Baca juga: Sepakbola Sebagai Sebuah Kisah

Tidak seperti SOCCER yang pamit terlebih dahulu pada 11 Oktober 2014, BOLA terus bertahan. Pada 2013 BOLA bahkan terbit setiap hari sebagai Harian BOLA, meski mereka kembali ke bentuk tabloid yang terbit dua kali sepekan pada November 2015.

Kepergian BOLA menandakan Perkembangan Teknologi Media

Hal yang membuat BOLA tak melanjutkan terbit harian adalah menjamurnya media daring (online). Keberadaan media daring memudahkan masyarakat mendapatkan informasi terbaru jauh lebih cepat dan murah dibanding media cetak konvensional.

Sebelum Tabloid BOLA, sejumlah media cetak lain pun tumbang seperti harian sore Sinar Harapan, JakartaGlobe, Jurnal Nasional, dan Majalah HAI.

“Jangan pertahankan yang sudah ditinggalkan. Media memang takkan pernah mati, platformnya saja yang berubah, dulu cetak sekarang online nanti ke depan belum tahu apa lagi,” kata Budiono Darsono, pendiri detik.com, pada acara Konvensi Nasional Media Massa 2017, dikutip dari Tirto.

Bukan hanya di Indonesia, tren ini sudah terjadi jauh lebih dahulu di luar negeri. Media cetak yang gulung tikar bukan hanya tabloid atau majalah, tapi juga koran yang merupakan “nyawa utama jurnalisme”. Bill Gates bahkan sudah memprediksinya pada 1990.

Di Inggris misalnya, jumlah media cetak lokal mereka lebih sedikit 200 titel dibandingkan pada 2005. Di Amerika Serikat juga jumlah sirkulasi percetakan koran menurun dari hampir 60 juta setiap hari kerja pada 1994, menjadi 35 juta pada 2018 padahal sudah dikombinasikan dengan edisi digital (e-book).

Menurut The Washington Post, hal ini berdampak kepada keuntungan yang menurun sekitar sepertiganya, yang kemudian juga berdampak pada penurunan jumlah pegawai newsroom sekitar 40% sejak 1994.

Jika dibandingkan dengan koran-koran ternama dunia, Tabloid BOLA memang tak ada apa-apanya. Namun jika membicarakan media cetak Indonesia, BOLA merupakan salah satu “nabi” yang menjadi saksi—bahkan pelaku—sejarah perkembangan olahraga di Indonesia.

Melalui dua edisi terakhirnya ini pada 19 Oktober dan 26 Oktober, kepergian BOLA sangat pantas diiringi air mata. Namun ini bukan menjadi air mata kesedihan, karena kepergian BOLA juga menandakan kemajuan teknologi media. Bagaimana pun BOLA akan selamanya dikenal sebagai ikon sepakbola tanah air. Terima kasih, Tabloid BOLA.

Komentar