Apa Pentingnya Kostum Ketiga?

Football Gear

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Apa Pentingnya Kostum Ketiga?

Wajar saat ini bagi sejumlah kesebelasan untuk memiliki tiga kostum. Bahkan kesebelasan Spanyol, CD Lugo, punya lima kostum! Awalnya, mungkin terdengar wajar kalau kesebelasan punya tiga kostum, tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang apa gunanya?

Pada Piala Dunia 2014, FIFA mengatur kostum kesebelasan negara (sangara) untuk memiliki nada yang berbeda antara kostum pertama dan kedua. Tidak boleh keduanya bernada gelap dan terang.

“Aturan” ini agaknya menjadi kebiasaan bagi kesebelasan untuk melakukan hal serupa. Kostum pertama Chelsea berwarna biru dengan sedikit aksen hitam. Kostum kedua Chelsea berwarna kuning yang memberikan efek terang, dengan nada yang berbeda dengan kostum pertama.

Jika aturan gelap-terang tersebut sudah terpenuhi pada kostum kandang dan tandang, lantas, apa perlunya kostum ketiga?

Bagi sejumlah kesebelasan yang berlaga di kompetisi Eropa, kostum ketiga umumnya digunakan sebagai “away kit” pengganti kostum kedua. Namun, ini pun dengan pengecualian. Misalnya, Arsenal tetap mengenakan kostum kedua mereka yang berwarna kuning saat menghadapi Anderlecht di Stadion Constant Vanden Stock. Pasalnya kostum ketiga Arsenal bernada gelap, sama seperti kostum utama Anderlecht.


Chelsea dengan kostum ketiga pada pertandingan menghadapi Aston Villa. (Sumber: dailymail.co.uk)

Penggunaan kostum ketiga sebagai “away kit” untuk kompetisi di luar liga, sebenarnya tidak mutlak. Chelsea, yang menang 1-2 di Villa Park, nyatanya tidak mengenakan kostum kedua mereka yang berwarna kuning. Chelsea mengenakan kostum ketiga yang berwarna hitam.

Tentu saja, hal ini jarang terjadi kecuali dalam keadaan yang benar-benar genting. Umumnya, jika kostum kedua mirip atau senada dengan kostum pertama tim lawan, maka kesebelasan akan mengenakan kostum pertamanya. Hal ini yang terjadi dalam pertandingan kandang Manchester City menghadapi Chelsea dan Everton. Kesebelasan tamu nyatanya mengenakan kostum pertama mereka yang berwarna biru. Padahal, kostum ketiga Chelsea dan kostum kedua Everton yang berwarna hitam, lebih bernada gelap ketimbang kostum pertama yang berwarna biru.


Biru-nya Lampard yang memudar bertemu dengan biru-nya Lampard yang dulu (Sumber: zimbio.com)

Lalu, apa fungsinya kostum ketiga, jika kostum pertama dan kedua bisa saling menggantikan?

Tudingan negatif keluar dari mulut anggota parlemen Partai Liberal Demokratik Inggris, Tim Farron. Ia menyatakan kalau kostum ketiga “tidak ada artinya” dan sebagai bagian dari “pemerasan” uang penggemar yang berlebihan.

Farron beranggapan kalau kostum ketiga hanya untuk meningkatkan penjualan kostum belaka. Kostum ketiga umumnya “unik” dengan warna yang “aneh” dan tidak berhubungan dengan warna tradisional kesebelasan.

Argumen Farron mungkin agak benarnya. Apalagi, dengan kenyataan kalau kostum ketiga memang terbilang jarang digunakan.

“Anda tidak harus menjadi seorang jenius untuk menyadari warna kostum kedua agar yakin tidak bertabrakan (dengan kesebelasan lain),” kata Farron seperti dikutip BBC.

Harga kostum di Inggris bervariasi mulai dari 35 pounds hingga 55 pounds. Di Inggris sendiri, harga sebesar itu, terbilang mahal. Belum lagi mereka harus menempel patch kompetisi serta nama dan nomor yang berkisar 8 hingga 15 pounds. Rata-rata, penggemar mesti mengeluarkan 60 pounds atau sekitar 1,2 juta rupiah untuk satu kostum.

Sebagai penggemar loyal, tidak lengkap rasanya jika mendukung kesebelasan tanpa membeli kostum. Akan lebih lengkap lagi jika membeli tiga jenis kostum pada musim tersebut.


Beberapa penyedia kostum seperti tidak punya kreatifitas karena desain yang "template". Misalnya kostum ketiga Inter dengan PSG. (Sumber: football-shirts.co.uk)

Soal kostum ketiga, Arsenal berpendapat kalau hal tersebut merupakan praktik standar dalam industri sepakbola. Kostum ketiga juga memberikan pilihan lain bagi penggemar yang tidak menyukai kostum pertama dan kedua.

Sempat tersiar usulan bagi kesebelasan Liga Inggris untuk tidak mengubah kostum mereka selama dua musim kompetisi. Aturan ini sempat ditetapkan pada 2000, tapi tidak berisi sanksi jika kesebelasan merilis kostum baru setiap tahunnya.

Pembatasan dua tahun ini sebenarnya untuk menghindari penggemar loyal untuk mengeluarkan uang lebih karena kostum yang berganti setiap tahunnya. Masih banyak hal yang bisa digunakan dari uang pembelian kostum. Jika biaya makan sehari 20 pounds atau 400 ribu rupiah, maka pembelian kostum bisa menutup biaya makan hingga tiga hari.

Arsenal sendri beranggapan kalau perubahan motif kostum didasari pada permintaan penggemar  itu sendiri. Pergantian kostum akan membuat wajah kesebelasan lebih segar.

Menurut Anda perlukah kehadiran kostum ketiga? Apakah hal tersebut hanya bagian usaha kesebelasan untuk “memeras” penggemar?


Baca juga:

Bagaimana Nasib Kostum Setelah Pertandingan Usai?

Apa jadinya jika kostum basket menjadi kostum sepakbola?

Mengenal Industrialisasi Jersey di Liga Inggris

Silang Sengkarut Jersey, Sponsor, dan Profit


Sumber gambar: soccer.com

Komentar