Permainan Defensif dan Industri Sepakbola

Football Culture

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Permainan Defensif dan Industri Sepakbola

Dalam tulisan sebelumya yang berjudul Tidak Ada yang Salah dengan Permainan Defensif diceritakan bahwa Jose Mourinho mendulang sukses lewat permainan defensif. Dalam sepakbola, permainan menyerang dan bertahan tidaklah penting. Tujuan utama dari sepakbola adalah kemenangan—dan memenangi kompetisi. Hal tersebut berpengaruh banyak pada industri sepakbola saat ini.

Keberhasilan Mou mendapatkan apresiasi positif. Apa yang ia raih membuat banyaknya orang yang mendaftar sebagai anggota baru suporter kesebelan yang Mourinho asuh. Chelsea misalnya. Siapa yang peduli pada kesebelasan asal London tersebut saat masih diarsiteki oleh Claudio Ranieri; saat mereka masih memeragakan sepakbola “khas” Inggris: kick and rush.

Dipengaruhi Gelar Juara


Siapa yang tidak bangga saat kesebelasan yang didukung meraih gelar juara? Siapa pula yang tidak senang kesebelasan yang dipuja tampil begitu superior dan dominan. Jelas, ini yang terjadi pada Chelsea.

Meskipun tidak terdapat data yang secara khusus mengungkap berapa jumlah penggemar baru Chelsea sejak era Roman Abramovich, tapi dipercaya bahwa jumlahnya amatlah besar. Pertambahan jumlah suporter ini tidak lain karena meningkatnya nilai dari brand “Chelsea” itu sendiri. Stadion Stamford Bridge yang sempat dicela karena mirip kandang babi, kini sudah dirawat dengan begitu baik. Anda tidak akan menyaksikan lagi rumput botak di area gawang, atau air yang tergenang saat hujan turun di Stamford Bridge.

Chelsea juga mengubah dirinya sebagai “Galacticos dari London”. Mereka membeli pemain berbanderol mahal tanpa takut kerugian. Roman tidak peduli besaran uang yang harus ia keluarkan, asalkan Chelsea bisa berprestasi.

Apa yang dilakukan Roman tentu sejalan dengan keinginan penggemar sepakbola manapun di seluruh dunia. Mereka ingin kesebelasan yang didukung menjadi yang terbaik dalam segala aspek. Salah satu aspek paling penting dan paling utama adalah gelar juara.

Usai dibeli Roman, Chelsea seperti begitu mudah dan dekat pada tangga juara. Ini berlaku bukan cuma di Inggris, tapi juga di Eropa. Dua kali dalam satu dekade terakhir, mereka melaju hingga babak final Liga Champions, dan satu di antaranya merengkuh gelar juara. Padahal, tidak lama sebelum era Roman Abramovich, saat Gianfranco Zola dan Roberto Di Mateo masih bermain, jangankan main di Liga Champions, untuk masuk ke Piala UEFA saja, sulitnya minta ampun.

Saat Chelsea meraih gelar juara Liga Inggris pertama kali di era Mourinho, banyak orang yang berbondong-bondong menjadi penggemar Chelsea. Hal serupa juga terjadi dengan Manchester City saat menjadi juara, di mana swing fans (plesetan dari swing voters) berkeyakinan untuk mendukung Manchester Biru.

Bukan Cuma Gelar


(SUmber gambar; Adelaidenow.com.au)

Meski gelar juara menjadi faktor utama keberpihakan penggemar, nyatanya, cara bermain hingga perilaku kesebelasan menjadi faktor lain bagi penggemar untuk menentukan kesebelasan mana yang akan ia dukung. Tidakkah Anda penasaran mengapa masih banyak “penggemar baru” Arsenal dan Liverpool, padahal keduanya tidak pernah lagi memenangkan gelar juara Liga Inggris dan Liga Champions sejak 2006?

Bagi sebagian orang, mendukung Arsenal dan Liverpool adalah perilaku para hipster. Di sini, maksud dari hipster adalah orang yang memilih “berbeda” dengan orang lain, padahal pilihannya tersebut tidak bagus-bagus amat.

Pengategorian Arsenal dan Liverpool sebagai hipster jelas menyalahi kodrat keduanya sebagai kesebelasan besar. Mendukung Arsenal dan Liverpool seharusnya bukanlah perilaku sok-sok-an karena teman yang lain mendukung Chelsea dan Manchester City, atau Manchester United. Pasalnya, Arsenal dan Liverpool biasanya stabil di peringkat atas kompetisi Liga Inggris, dan tujuan setiap awal musim kompetisi adalah juara.

Sejatinya ada yang membedakan antara Chelsea atau Manchester City dan Arsenal atau Liverpool. Sejak era Cesc Fabregas direkrut dari La Masia, Arsenal bersama Arsene Wenger-nya, memiliki filosofi untuk mengembangkan pemain muda. Jangan heran jika Arsenal memiliki gelandang macam Aaron Ramsey dan Jack Wilshere yang di awal debutnya belum mencapai usia 20.

Memasuki era 2000-an, Arsenal memiliki gaya bermain yang terbilang berbeda dengan kesebelasan Inggris lainnya. Gaya tersebut tidak lain dipengaruhi oleh para pemain Prancis yang diboyong Wenger ke Highbury.

Meskipun tidak lagi meraih gelar juara setelah era Thierry Henry, toh masih banyak orang yang masih mau mendukung Arsenal. Banyak di antaranya adalah para pendukung baru. Padahal, tidak ada gelar mayor lain selain Piala FA yang diraih Arsenal dalam lima musim terakhir.

Salah satu alasannya karena sosok Wenger yang dianggap jenius mengelola kesebelasan “irit” dengan memaksimalkan pemain muda. Cara bermain yang menghibur pun menjadi alasan lain.

Baca juga: Membandingkan Taktik Bertahan Chelsea dan Arsenal

(Sumber gambar: telegraph.co.uk)

Bagaimana dengan Liverpool? Selain Manchester United, Liverpool memiliki basis massa yang kuat dan terorganisir. Ada ungkapan satir di mana para pendukung Liverpool ini memiliki ingatan yang teramat kuat. Jika Anda bertanya, kapan terakhir kali Liverpool juara Liga Inggris, mereka pasti akan memaparkannya secara fasih tanpa terlewat satu detail kecil pun. Padahal, momen tersebut sudah lewat lebih dari 20 tahun lamanya.

Tentu ungkapan tersebut adalah bagian dari olok-olok kesebelasan lain yang mengejek Liverpool karena kalah bersaing dengan Manchester United, terutama setelah Premier League bergulir.

Baca juga cerita bagaimana Tony Pulis merawat skema kick and rush di tahan Inggris

Beda Target Massa

(Sumber gambar: espn.go)

Dalam cara berjualan paling dasar, seorang pedagang mesti menentukan target massa yang akan mereka gapai. Pun dengan kesebelasan; di mana tiap kesebelasan memiliki pangsa pasar yang berbeda pula. Brand Chelsea tentu akan terus meningkat seiring dengan banyaknya penggemar Chelsea di seluruh dunia. Penjualan merchandise, hingga tiket tur dunia pun menjadi lebih mudah untuk dijual.

Minus gelar juara, apa yang bisa ditawarkan Liverpool kepada penggemar baru selain sejarah dan kenangan? Liverpool beruntung karena selalu ada drama yang mengiringi sejarah yang mereka torehkan. Apa yang mereka alami mirip dengan kejadian di naskah-naskah Film Hollywood, di mana hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Jangan heran jika banyak yang memutuskan untuk menjadi penggemar baru setelah menonton dokumenter perjuangan Liverpool dalam partai final Liga Champions musim 2004/2005. Memang diakui bahwa momen final Liga Champions menghadapi AC Milan tersebut, tersemat kisah-kisah heroik di dalamnya. Pun dengan Arsenal, apa yang bisa mereka tawarkan selain sejarah kebesaran mereka dan kondisi finansial yang selalu fit?

Buat mereka, sebagai suporter hal paling utama adalah rasa setia. Mendukung kesebelasan bukan melulu soal gelar juara. Apalagi diraih dengan cara yang tidak memuaskan, dalam definisi mereka, seperti yang sering dituduhkan kepada Chelsea karena bermain defensif dan cenderung membosankan.

Sumber gambar: theguardian.com

Komentar