Martial dan Para Korban Tekanan Media

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Martial dan Para Korban Tekanan Media

Anthony Martial beruntung. Gol pada debutnya berarti banyak bagi pesepakbola kelahiran Perancis, 5 Desember 1995 ini. Sebagai seorang pemain muda yang dihargai mahal, gol tersebut menjawab keraguan sekaligus sebagai bentuk harapan bagi pendukung kesebelasan.

Martial didatangkan ke Manchester United dengan nilai 36 juta pounds. Angka ini terbilang tak masuk akal karena meskipun memiliki potensi, tapi dengan usianya yang masih begitu muda, angka 36 juta pounds masih kemahalan.

Bagi MU, nilai transfer Martial tak berarti apa-apa. Kehadirannya sudah cukup memberi kenyamanan di lini serang The Red Devils. Bagaimana tidak, dari tiga pertandingannya di Premier League, Martial sudah mencetak tiga gol dan satu assist. Di Piala Liga, meski diturunkan sebagai pengganti, Martial turut mencetak satu gol.

Martial hanyalah satu dari sedikit pemain muda yang mampu menetralisir tekanan dan menjawabnya lewat capaian yang mengesankan. Tidak banyak Martial-Martial lain di luar sana, termasuk para pemain muda Arsenal. Mereka adalah orang yang tepat di waktu yang salah.

Baca juga: Ed Woodward dan Strategi Transfer Manchester United

Masuk dalam Rencana Pelatih

Penyebab Martial bisa berkembang, tak lain karena ia mendapat kepercayaan penuh dari pelatih. Louis van Gaal memberinya satu slot di lini serang, yang selama ini kurang maksimal di tangan Wayne Rooney. Tentu hal ini yang menjadi pembeda antara Martial dan James Wilson. Ini memang masalah waktu dan kepercayaan.

Di sisi lain, tidak banyak pemain muda Arsenal yang kita dengar sedang berada dalam tinjauan "pencari bakat", mulai menunjukkan kapasitasnya. Bukan karena mereka tak berbakat, namun karena tak punya waktu lebih banyak di tim utama.

Sebut saja Krystian Bielik, Joel Campbell, Chuba Akpom, hingga Gedion Zelalem. Beberapa dari mereka menjalani karier yang berbeda. Campbell merupakan “spesialis pinjaman” karena sudah berpindah empat kesebelasan sejak 2011 -mulai dari Lorient, Real Betis, Olympiacos, dan musim ini berlabuh di Villareal. Sementara Zelalem, gelandang potensial kelahiran Jerman, saat ini dipinjamkan ke Rangers yang bermain di Liga Skotlandia.

Terdapat cara pandang yang berbeda saat mengembangkan pemain muda ala Arsene Wenger. Pria berkebangsaan Perancis tersebut menginginkan para pemain mudanya mengecap pertandingan kompetitif terlebih dahulu, sebelum nantinya dipanggil pulang ke tim utama.

Salah satu contohnya adalah Hector Bellerin, yang sejatinya mengecap akademi di FC Barcelona. Saat dikontrak Arsenal pada Juli 2013, Bellerin segera dipinjamkan ke Watford empat bulan setelahnya. Namun, karena sejumlah permasalahan di sektor fullback kanan, Wenger pun menarik kembali Bellerin pada Februari 2014. Bellerin kini menghuni skuat utama Arsenal.

Pertanyaan untuk pemain muda potensial yang dipinjamkan.

Apa yang terjadi pada Bellerin sebenarnya tak lepas dari cederanya sejumlah fullback seperti Mathieu Debuchy, Calum Chambers, dan Nacho Monreal. Ketimbang membeli fullback baru yang kemampuannya mungkin tak lebih baik dari pemain akademi, Bellerin adalah sosok yang tepat untuk masuk ke dalam rencana Arsene Wenger.

Sayangnya, tidak semua pemikiran seperti ini diterapkan oleh para pelatih. Ambil contoh kedatangan Calum Chambers yang membutuhkan waktu adaptasi lebih lama di fullback kanan. Ada kemungkinan, Chambers malah diposisikan sebagai bek tengah. Padahal, Bellerin telah memperlihatkan bahwa kualitas pemain akademi pun tidak kalah mentereng.

Tekanan Media

Apa yang paling diingat saat mengucap kata Arsenal? Pemain muda?

Label seperti itu sebenarnya membuat pengembangan pemain muda Arsenal menjadi lebih sulit. Media menyoroti bagaimana Campbell, Sanogo, dan nama-nama yang disebut sebelumnya kesulitan untuk bersaing karena Wenger tak memberi tempat di tim utama. Padahal, hampir setiap musim, Wenger mengorbitkan pemain muda.

Apabila ditelusuri, musim ini saja terdapat sejumlah pemain yang sudah bergabung di Arsenal di bawah usia 20 tahun: Aaron Ramsey, Joel Campbell, Carl Jenkinson, Alex-Oxlade Chamberlain, Calum Chambers, Krystian Bielik, dan Theo Walcott.  Nama-nama di atas tidak berasal dari akademi Arsenal, tapi beberapa di antaranya sudah menjadi fondasi utama Arsenal—Ramsey, Chamberlain, dan Walcott. Tentu tak mudah mempercayai kemampuan para pemain muda, terutama yang bukan berasal dari sistem, dan Wenger melakukan perjudian dengan memberi kesempatan pada mereka.

Di sisi lain, terdapat empat pemain akademi yang kini mengisi skuat utama: Kieran Gibbs, Jack Wilshere, Bellerin, dan Francis Coquelin. Nama terakhir baru menjadi pemain kunci pada awal tahun ini.

Meskipun selalu mengorbitkan pemain muda, tapi media merasa bahwa hal itu tak pernah cukup. Fakta bahwa Coquelin membutuhkan waktu enam tahun untuk menembus tim utama tidak dipandang sebagai sebuah prestasi yang membanggakan. Wenger dan Arsenal terus ditekan untuk menghasilkan pemain muda.

Kehadiran Martial di Manchester United kian memperburuk keadaan. Arsenal dituntut untuk menghadirkan potensi yang sama. Padahal, menurut sejumlah sumber, Wenger sudah memonitor Martial sejak lama, tapi ia tak menemukan waktu (atau harga) yang tepat untuk memboyongnya dari AS Monaco. Secara jelas, Wenger bahkan mengungkapkan ketidaktahuannya kalau Martial dijual. Hal ini seperti menjadi warisan “balas dendam” dari Sir Alex Ferguson saat Arsenal memboyong Ramsey dari Cardiff City. Padahal, Sir Alex sudah amat ingin memboyongnya ke Old Trafford.

Baca juga: Tentang mahalnya para pemain muda Inggris, di sini.

Tak Perlu harapan

Martial memang tengah menemukan performanya saat ini. Hal tersebut didukung oleh sejumlah faktor, terutama karena Van Gaal yang memercayainya di tim utama. Namun, bukan tidak mungkin akan terjadi penurunan performa yang membuatnya jauh lebih tertekan ketimbang sekarang ini.

Ekspektasi yang kelewat besar pada pemain muda bisa menjadikan mereka sebagai Cherno Samba yang lain. Mereka masih beruntung andai disamakan dengan Freddy Adu, karena meskipun gagal, ia masih mendapatkan terpaan media yang besar dan masih berkarier di sepakbola hingga saat ini.

Para pemain muda saat ini hidup pada masa yang kurang tepat di mana media dan fans bisa mengulik hal sekecil apapun dari mereka. Media dan fans menaruh harapan yang berbuah tekanan pada mereka. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang bisa kita harapkan dari seorang anak yang mestinya baru lulus SMA? Mengapa ia harus jauh lebih baik ketimbang pemain yang sudah berlatih dan merasakan ketatnya kompetisi selama lebih dari lima tahun?

Hal ini tentu dirasakan oleh fans Inggris yang menyaksikan betapa hebatnya skuat mereka di Youtube; betapa kokohnya Jack Butland dan Joe Hart mengawal gawang tim U21 Inggris dan tim senior Inggris. Harapan yang berlebih pun memaksa James-Ward Prowse berlatih tendangan bebas ekstra keras, karena ia dijadikan model bagi para pemain muda dan fans untuk melepaskan tendangan bebas.

Pemain muda rentan membuat kesalahan karena minimnya pengalaman. Berdasarkan pemandu bakat Football Manager, pesepakbola baru menemukan kenikmatan bermain saat menginjak usia 28 tahun; bahkan seorang kiper baru berada pada puncak permainannya di atas 30 tahun.

Lantas, mengapa kita terlalu berharap pada Andreas Pereira atau Zelalem untuk bisa satu level dengan Ronaldinho?

Apa mungkin pesepakbola masa kini (dipaksa) tumbuh lebih dewasa ketimbang usianya, macam anak baru masuk SMA tapi punya postur tubuh mirip mahasiswa tingkat dua? Diakui atau tidak, paksaan itu tumbuh dari keinginan kita: fans dan media.

foto: goal.com

Komentar