The Man Without a Club

Editorial

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

The Man Without a Club

Pada 1863, seorang penulis Amerika, Edward Everett Hale, mempublikasikan sebuah cerita yang berjudul The Man without a country. Cerita ini menceritakan kisah seorang letnan asal Amerika, Philip Nolan, yang tidak mengakui negaranya dan melakukan pengkhianatan.

Kisah dengan latar awal abad ke 19 ini berawal dari pertemuan Philip Nolan dengan pendatang bernama Aaron Burr. Burr memiliki rencana untuk melakukan pengkhianatan kepada negara dan Nolan menyatakan mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Burr. Nolan kemudian mengeluarkan pernyataan yang menunjukan bahwa ia tidak lagi mengakui Amerika sebagai negaranya. Dengan tegas ia mengatakan, “I wish I may never hear of the United States again!”

Akibat tindakannya tersebut, hakim kemudian menjatuhkan hukuman kepada Nolan. Sesuai dengan permintaan Nolan, hakim mengirim Nolan ke luar Amerika dan mencabut hak kewarganegaraannya. Ia pun harus keluar dari Amerika dengan bermodalkan kapal perang milik tentara  Amerika. Ia pun harus hidup dari kapal ke kapal di tengah lautan. Sesuai dengan judul cerita ini, Nolan menjadi manusia yang tidak memiliki negara untuk berlabuh.

Kisah Philip Nolan tersebut sedikit banyak serupa dengan apa yang terjadi dengan Mario Balotelli saat ini. Balotelli yang musim lalu didatangkan Liverpool dari AC Milan hanya mampu menyumbangkan 1 gol di Liga Primer Inggris. Performa yang ditampilkan Balotelli musim lalu, sangat jauh dari harapan Rodgers yang awalnya ingin menjadikan Balotelli sebagai mesin gol pasca kepergian Suarez.

Hal ini membuat Liverpool tidak ingin mempertahankan Balotelli. Mereka pun mencoba menawarkan pemain asal Italia ini kepada beberapa kesebelasan yang mungkin tertarik. Namun sayangnya, tidak ada yang menyambut tawaran Liverpool itu. Beberapa hanya sempat diberitakan tertarik kepada Balotelli namun hingga kini semua masih mentah tanpa kesepakatan. Bahkan beberapa negosiasi yang dikabarkan hampir mencapai kata sepakat harus kandas secara tragis.

Saat di AC Milan, Balotelli ternyata punya situasi yang hampir mirip seperti sekarang. Bahkan Berlusconi sempat memanggilnya sebagai apel busuk:

Tak Ada yang Menginginkan Balotelli di AC Milan



Fiorentina yang dikabarkan sudah setuju dengan penawaran Liverpool hampir memboyong striker berusia 24 tahun ini kembali ke Italia. Dengan hengkangnya Mario Gomez ke klub lain memang membuat Fiorentina membutuhkan penyerang pengganti. Namun kemudian datang protes keras dari para pendukung Fiorentina. Mereka menolak kedatangan Balotelli.

Dengan tegas para pendukung Fiorentina menyatakan ketidaksukaan terhadap Balotelli. Rekam jejak Balotelli yang sering membuat ulah yang merepotkan membuat para pendukung Fiorentina khawatir Balotelli akan melakukan hal yang sama. “You’re a man without honour, Florence does not want you”, spanduk dengan tulisan seperti itu pun terpampang di depan markas Fiorentina.

Selain Fiorentina, beberapa kesebelasan lain pun menolak kehadiran Balotelli seperti Inter Milan, Sampdoria, dan Newcastle United. Bahkan Liverpool sempat menawarkan opsi pinjam dengan 80% gaji Balotelli tetap dibayarkan oleh mereka. Namun tawaran ini pun masih ditolak.

Balotelli justru mendapatkan tawaran dari klub Serie C Italia, Lupa Castelli. Tawaran ini hadir dari mantan rekan Balotelli di AC Milan, Marco Amelia, yang saat ini merupakan presiden kehormatan klub Serie C tersebut. Amelia mengatakan bahwa Balotelli bisa membangkitkan kembali karirnya jika bermain di Lupa Castelli.

Namun tentu saja tawaran tersebut ditolak oleh Balotelli. Ia hanya mengatakan terimakasih atas tawaran itu. Namun dengan berbagai alasan, ia mengatakan tidak bisa menerima tawaran tersebut.

Dari segi kemampuan yang dimiliki, memang tentu saja Balotelli sangat tidak pantas untuk bermain di klub yang berada di level ketiga Italia. Pencetak gol termuda Inter Milan di Italia ini (18 tahun 85 hari) memiliki kemampuan bermain sepakbola yang cukup baik. Balotelli memiliki kemampuan yang sama baiknya antara kaki dan kepala. Kemampuan dalam berduel udara maupun menggiring bola juga seimbang. Tim nasional Jerman pernah menjadi korban ketajamannya saat disingkarkan oleh dua gol Balotelli, masing-masing melalui sundulan kepala dan tendangan keras jarak jauh, di semifinal Piala Eropa 2012.

Ia bisa saja disejajarkan dengan penyerang-penyerang terbaik dunia. Hanya saja, sikapnya yang penuh kontroversial seringkali merugikan, bukan hanya kesebelasan yang mempekerjakannya, namun merugikan dirinya juga. Banyak pelatih dari mulai Mancini, Mourinho, hingga Brendan Rodgers telah mencoba untuk mengubah sikap pemain bengal ini agar menjadi lebih baik. Namun tidak ada satupun yang berhasil hingga kini.

Baca juga:

Memahami “Kegagalan” Balotelli


Siapa Bilang Balotelli Pemalas?


Balotelli: Aku yang Paling Tampan



Mari kita kembali ke cerita The Man without Country. Dalam sebuah perjalanan, Philip Nolan sempat bertemu seorang anak yang berasal dari Amerika. Dan ternyata, kepada anak tersebut, ia mengatakan penyesalan atas sikap arogannya di masa lalu. Dan ingin bisa menginjak tanah Amerika kembali. Namun semua sudah terlambat, hukuman kepada Nolan sudah terlanjur dijatuhkan dan dia harus menjadi seseorang yang tidak memiliki negara selamanya.

Bagaimana dengan Balotelli? Saat ini memang Balotelli masih menjadi bagian dari Liverpool dan masih memiliki kontrak hingga 2017. Namun pada dasarnya, Liverpool sudah tidak mengharapkan keberadaannya. Dengan hadirnya beberapa penyerang baru di Liverpool pun, maka situasi semakin sulit bagi Balotelli. Hampir pasti ia akan kian kesulitan mendapatkan tempat di Liverpool.

Entah apakah Balotelli akan menyesal dengan semua perilakunya di masa lalu, seperti Philip Nolan, atau tidak. Namun pada dasarnya, gambaran tentang dirinya sudah terlanjur buruk.

Yah, mungkin saat ini kaos dalam Balotelli akan bertuliskan, “why not me anymore?”

article-2287320-1867D00C000005DC-222_634x380

Komentar