Transformasi Sepakbola Jepang Menjadi Panutan Asia

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Transformasi Sepakbola Jepang Menjadi Panutan Asia

Kedatangan Pratama Arhan di Tokyo Verdy menjadi sukacita tersendiri bagi penikmat sepakbola di Indonesia. Walaupun Verdy berstatus klub divisi dua alias, J2, mendapat kesempatan untuk bermain di luar negeri dianggap masih lebih baik ketimbang tertahan di liga domestik Indonesia. Apalagi Liga Jepang merupakan salah satu kompetisi terbaik di Asia. Duduk di peringkat tiga AFC, 23 anak tangga lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Posisi J.League sebagai salah satu liga terbaik Asia yang mampu secara konsisten mendistribusikan pemain-pemain mereka untuk Tim Nasional Jepang atau mengimpor pemain ke berbagai top Eropa bukanlah kebetulan. Hal itu diraih dengan kerja keras sejak era semi-profesional (sebelum 1993).

Sepakbola sudah menjadi olahraga rutin di Jepang sebelum asosiasi sepakbola mereka berdiri (1921). Turnamen antar SMA di sana bahkan sudah dilangsungkan sejak 1917, walaupun olahraga sepakbola sendiri baru mulai masuk kurikulum sekolah pada 1926 di SMP Shida, Shizuoka. Fondasi dasar di level sekolah pun kenyataannya tidak bisa membantu popularitas ataupun prestasi sepakbola Jepang. Bisbol selalu dilihat sebagai olahraga utama di sana.

Bahkan saat Timnas Jepang sudah berhasil meraih medali perunggu di Olimpiade Meksiko 1968, mereka masih kesulitan di level internasional. Gagal menembus Piala Asia dan kalah dari Indonesia ataupun Malaysia di Turnamen Merdeka. Meski demikian, 1968 juga menjadi titik awal sepakbola berhasil melakukan penetrasi ke masyarakat Jepang. Mitsubishi’s Diamond Soccer mulai disiarkan di televisi Jepang, dua tahun kemudian manga Akakichi no Eleven mendapat tempat di Shonen King dan diadaptasi jadi animasi oleh Tokyo TV.

52 episode Akakichi no Eleven disiarkan oleh delapan stasiun televisi berbeda, mengikuti kisah Shingo Tamai, tokoh utama yang dibuat Kajiwara dan Mitsuyoshi Sonoda setelah terkagum dengan kiprah SMA Urawa Minami mendominasi turnamen sekolahan pada 1969. Karakter Shingo Tamai pun dibuat menyerupai penyerang utama Urawa Minami Yoshikazu Nagai.

Nagai melanjutkan kariernya di dunia sepakbola selepas SMA. Mengemas lebih dari 250 penampilan untuk Furukawa Electric (klub sepakbola naungan perusahaan elektronik asal Yokohama) di Japan Soccer League dan menjadi pemain terbaik Jepang pada 1976.

Status Japan Soccer League yang hanya sebatas liga amatir dan diisi oleh klub-klub perusahaan gagal memberi hasil untuk Timnas Jepang. Akan tetapi, sepakbola terus berkembang di Jepang. Didorong banyaknya pemain asal Brasil yang bermain di JSL seperti Daishiro Yoshimura, George Yonashiro, dan Ruy Ramos, beberapa talenta muda Jepang juga mulai merantau ke Negeri Samba. Pertama Mushashi Mizushima (1984), kemudian disusul Kazuyoshi Miura (1986).

Pada periode yang sama juga, Jepang kedatangan pesepakbola asal Amerika Serikat bernama Tom Byer. Byer hanya satu musim bermain untuk Hitachi FC (1986--1987). Waktu yang singkat itu cukup untuk membuatnya jatuh cinta dengan Jepang. Selepas kariernya, ia mulai membuat organisasi yang fokus terhadap perkembangan sepakbola usia muda. “Dulu, apabila bisa melakukan juggling saja, Anda sudah bisa menghibur orang lain. Itu modal utamanya, menarik perhatian orang,” aku Byer.

Selain itu, Jepang mulai melakukan studi banding ke Indonesia, Inggris, Thailand, dan beberapa negara lain untuk meningkatkan kualitas sepakbola mereka. Nama-nama seperti Ricky Yacobi, Alan Irvine, dan Witthaya Laohakul pun didatangkan untuk bermain di JSL dan membantu perkembangan sepakbola di sana.

Masalahnya, klub sepakbola masih sebatas olahraga perusahaan. Sama seperti bisbol, tapi kalah populer. Gary Lineker yang berkarier di Jepang selama dua tahun (1992-1994) pun tidak lepas dari budaya ini. “Gary memiliki citra sebagai olahragawan yang lembut. Dia memiliki perpaduan yang sempurna di dalam ataupun luar. Kami ingin menggunakan sosoknya sebagai citra Toyota,” ungkap Eksekutif Marketing Toyota Takayuki Miyashita saat ditanya tentang kehadiran Lineker ke Nagoya Grampus (klub milik Toyota). Padahal, Lineker datang di periode transisi antara JSL dan J.League.

Gelar juara Piala Asia 1992 yang diraih dengan bantuan Kazuyoshi Miura yang sudah pulang dari Santos dan pemain naturalisasi Brasil, Ruy Ramos, dianggap sebagai puncak era semi-profesional sepakbola Jepang. Asosiasi Sepakbola Jepang (JFA) pun meresmikan J.League sebagai liga profesional dimulai 1993.

1993 disebut penikmat sepakbola Jepang sebagai badai yang sempurna. Pada tahun tersebut, Tom Byer juga mulai mengajarkan metode sepakbolanya ke seluruh Jepang. Entah itu lewat televisi, manga, ataupun program kerjasama dengan JFA. “Fokus terhadap kemampuan teknis, Tom bisa disebut telah mengubah sepakbola akar rumput Jepang. Dia ada di mana-mana dan berhasil mengajarkan generasi muda Jepang untuk menjadi superior secara teknikal,” jelas Chris Leung kepada Copa 90.

Tapi satu konsep yang mengubah wajah sepakbola Jepang adalah dengan melarang klub peserta untuk menggunakan nama perusahaan sebagai identitas. Tidak ada lagi Furukawa Electric, identitas mereka diubah menjadi JEF United Chiba, Hitachi FC kini dikenal sebagai Kashiwa Reysol, Matsushita (klub yang dulu dibela Ricky Yacobi) jadi Gamba Osaka, dan lain-lain.

Walaupun belum berhasil menarik minat warga Jepang secara konsisten, sepakbola mulai mengakar di setiap daerah. Tribun tak lagi diisi pegawai-pegawai perusahaan yang pulang kerja melainkan warga sekitar klub. “Itu menjadi kunci kesuksesan J.League karena sekarang setiap klub punya suporter yang mendukung karena rasa bangga akan daerah mereka,” jelas Dan Orlowitz dari Football Tribe. Perlahan tapi pasti, sepakbola pun mulai berhasil menggeser popularitas bisbol berkat kebijakan ini.

Pada periode awal J.League, setidaknya 15 tahun pertama kehadiran pemain asing masih menjadi kunci kesuksesan sebuah klub di liga. Entah itu Dragan Stojkovic (Nagoya Grampus), Patrick Mboma (Gamba Osaka), Dunga (Jubilo Iwata), ataupun Washington (Tokyo Verdy). Setelah belajar tentang sepakbola berbagai negara, mengadopsi, dan mengembangkannya. Perlahan tren tersebut mulai menurun. Klub-klub Jepang mulai jarang melirik pemain asing dan fokus kepada talenta-talenta yang mereka miliki.

Bermain di luar negeri menjadi bonus tersendiri bagi para pemain. Namun, merantau pun bukan jadi jaminan untuk mendapatkan tempat di Tim Nasional Jepang. Buktinya, ketika Jepang menjuari Piala Asia 2011, mayoritas pemain mereka adalah produk J.League.

Kesuksesan klub juga sudah tak begitu dipengaruhi oleh pemain asing, saat Urawa Red Diamonds juara J1 (2016) mereka hanya mengisi dua dari lima slot pemain asing yang diizinkan. Pada musim sebelumnya, mereka hanya memiliki Zlatan Ljubijankic seorang untuk mengisi kuota pemain asing, dan berhasil menduduki peringkat dua klasemen akhir. Justru waktu Cerezo Osaka berambisi menjadi klub terbaik di Jepang dengan mendatangkan Diego Forlan pada 2014, mereka justru terdegradasi di akhir musim.

Sepakbola Jepang tidak lagi bergantung kepada bantuan negara lain. Mereka berhasil menjadi salah satu negara dan kompetisi yang disegani dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Turnamen antar sekolah yang sudah ada sebelum JFA berdiri bahkan berhasil menarik 10 juta penonton.

Kini, mereka justru fokus untuk menjadi panutan sepakbola di Asia dan membuka ruang untuk talenta-talenta se-benua untuk ikut membuat J.League semakin kompetitif di dalam dan luar lapangan. Indonesia sebagai salah satu dari tujuh negara yang dianggap sahabat oleh Jepang juga mendapat keuntungan karena lebih mudah mengimpor pemain ke Negeri Matahari Terbit.

Ada masanya mereka belajar dari sepakbola Indonesia. Ada masanya juga sepakbola Indonesia memiliki fase seperti Jepang dengan mendatangkan pemain-pemain yang bisa memberikan ilmu seperti Mario Kempes dan Roger Milla. Apa yang dilakukan setelah itu jadi pembedanya.

“Menurut saya membedakan Jepang dengan negara lain adalah bagaimana kalian mengetahui perkembangan dunia, tahu apa yang harus diperbaiki dan terus melatihnya secara konsisten,” kata mantan pemain Tim Nasional Thailand yang pernah membela Yanmar Diesel (Cerezo Osaka), Witthaya Laohakul.

Komentar