Goran Pandev, Pahlawan Makedonia Utara

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Goran Pandev, Pahlawan Makedonia Utara

Mimpi Goran Pandev akhirnya terwujud. Pada 13 Juni lalu, ia memimpin Timnas Makedonia Utara menjalani debut turnamen mayor mereka: Piala Eropa 2020. Debut itu berjalan nyaris sempurna bagi Pandev. Ia mencetak gol pertama tim nasional di kompetisi resmi, ganjaran pantas untuk pengabdian panjangnya bagi negara itu. Sayangnya, di akhir laga, anak asuh Igor Angelovski mesti mengakui keunggulan Austria 3-1.

Debut itu akan lebih manis bila Makedonia Utara meraih kemenangan. Namun, tak mampu meraih tiga poin bukanlah perkara besar. Masih ada dua pertandingan tersisa. Yang lebih penting, bisa mencapai putaran final Piala Eropa adalah trofi tersendiri bagi negara ini.

Keberhasilan Makedonia Utara pun tak bisa dilepaskan dari sosok Goran Pandev. Striker berusia 37 tahun tersebut mencetak gol semata wayang di final play-off lawan Georgia. Dia adalah sosok paling senior di skuad Makedonia Utara sekaligus kapten tim sejak 2016.

Pandev telah mengabdi di tim nasional Makedonia Utara selama 20 tahun. Ia mendapatkan debut resmi pada Juni 2001 silam dalam pertandingan lawan Turki. Pandev muda menghadapi Hakan Sukur hingga Tugay Kerimoglu di laga tersebut.

Gol internasional pertama Pandev dicetak pada Agustus 2002 saat Makedonia Utara menjamu Malta. Sejak itu, sang striker mengemas 38 gol dari 120 penampilan untuk timnas.



Kiprah sepakbola Pandev membanggakan negara dengan populasi sekitar dua juta jiwa ini. Ia tak hanya menjadi legenda di atas lapangan. Di luar lapangan pun, eks striker Lazio tersebut memberi sumbangsih untuk kemajuan sepakbola Makedonia Utara.

Ia dihargai sebagai tokoh sekaligus idola generasi muda. Kesuksesan Pandev turut berjasa mempopulerkan sepakbola di negara ini. Pada 2016, ia diganjar medali kehormatan oleh Presiden Makedonia Utara atas pencapaian di bidang olahraga.

Kekayaan yang didapatkannya dari perantauan pun digunakan demi kemajuan sepakbola. Pada 2010, di Strumica, kota kelahirannya, eks striker Inter Milan ini mendirikan akademi sepakbola bernama Akademija Pandev. Akademi itu kemudian membentuk tim senior yang meraih promosi ke divisi teratas Liga Makedonia pada 2017. Adiknya, Sashko Pandev, turut memperkuat tim senior.

“Apa yang diinvestasikan Makedonia kepada Pandev, sekarang dia kembalikan ke Makedonia. Semua orang tahu apa yang diperbuatnya di sini. Dia adalah seorang ikon,” kata Dragi Knatlarovski, eks pelatih Makedonia Utara yang memberi Pandev debut internasional.

Lahir di Strumica, sebuah kota sekitar 130km di tenggara ibukota Skopje, Pandev memperkuat klub lokal sejak remaja. Ia memulai karier di klub terbesar kota itu, FK Belasica. Pada 2001, hanya setahun usai mendapat debut tim senior, ia direkrut raksasa Italia, Inter Milan.

Akan tetapi, ia tak mendapat kesempatan tampil untuk Nerazzuri pada periode pertama tersebut. Pandev dua kali dipinjamkan ke Spezia dan Ancona. Kemudian, ia pindah ke Lazio sebagai bagian transfer Dejan Stankovic ke Inter.

Karier Pandev pun melesat di Roma. Di bawah asuhan Delio Rossi, striker Makedonia Utara ini membentuk duet maut bersama Tommaso Rocchi. Keduanya menyumbang 116 gol Serie A untuk Lazio pada 2004-2009.

Sayangnya, kontrak Pandev bersama Aquilotti harus berakhir akibat perselisihan dengan presiden klub. Kontraknya di Olimpico diakhiri secara prematur pada Desember 2009.

Inter Milan yang waktu itu dilatih Jose Mourinho tak menyia-nyiakan waktu untuk menggaet Pandev. Ia kembali ke Giuseppe Meazza pada Januari 2010. Ia berperan penting dalam keberhasilan La Beneamata meraih treble di akhir muism.

Hingga musim 2020/21 bersama Genoa, Pandev telah mengemas 473 penampilan dan 101 gol di Serie A. Hanya ada dua pemain asing yang melampauinya dalam hal penampilan, yakni Samir Handanovic dan Javier Zanetti. Ia layak menjadi ikon Serie A modern.

“Saya tidak menduga bisa membuat impak sedemikian besar dan bermain dalam sekian banyak pertandingan di salah satu liga terbaik Eropa. Saya sangat senang dengan apa yang saya capai di Italia, khususnya karena tadinya orang-orang bahkan tak tahu Makedonia itu di mana, dan sekarang mereka membicarakan kita dengan rasa hormat,” kata Pandev dalam wawancara dengan Macedonian Football.

Goran Pandev, niscaya, adalah pesepakbola terbaik yang pernah dilahirkan Makedonia Utara sejauh ini. Membela timnas di turnamen mayor adalah keinginannya sejak dulu, ketika masih muda dan negaranya bukan kekuatan sepakbola berarti.

Sempat “pensiun” karena kecewa dengan FFM (PSSI-nya Makedonia Utara), Pandev mau kembali membela timnas setelah dibujuk Igor Angelovski, pelatihnya sekarang. Angelovski lagi-lagi mengurungkan niat pensiun Pandev pada 2015. Keputusan itu terbukti tepat karena sang pemain nyatanya masih jadi sosok penting di lapangan. Dan Makedonia Utara akhirnya mendapatkan partisipasi turnamen yang dinanti-nanti.

Bicara mengenai pensiun, Pandev sejak jauh hari mengungkapkan bahwa Piala Eropa 2020 bisa jadi laga terakhirnya bersama timnas. Berbagai pihak menginginkannya bertahan hingga 2022, tetapi kesepakatan telah dibuatnya bersama keluarga. Pandev pun mengaku ingin beralih peran: dari mulanya pemain kunci menjadi suporter setia.

“Tim nasional Makedonia yang ini punya perspektif, punya generasi yang akan memberi kesenangan lebih besar kepada fans Makedonia. Dan saya akan menjadi fans terbesar mereka,” pungkas Pandev.

Komentar