Bryan Gil: Si Cruyff Kecil yang Membuka Jalan di Panggung Internasional

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bryan Gil: Si Cruyff Kecil yang Membuka Jalan di Panggung Internasional

Kamis 25 Maret 2021 adalah hari yang tak akan dilupakan Bryan Gil Salvatierra. Ia mendapatkan debut Timnas Spanyol pada hari itu atau Jumat (26/3) dini hari waktu Indonesia. Luis Enrique memberinya pengalaman pertama membela timnas dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022 lawan Yunani. Bryan masuk pada menit ke-65 menggantikan Sergio Canales.

Bryan tampil cukup baik. Meski baru kali pertama tanding di level ini, ia tampil percaya diri. Winger pinjaman Eibar ini vokal meminta bola, lincah mendribel, dan menjadi ancaman konstan di sisi kanan pertahanan Yunani. Sayangnya, Bryan gagal membantu Spanyol memenangkan pertandingan. La Furia Roja harus puas berbagi angka dengan Yunani.

Bryan adalah penggawa baru yang hendak dijajal Luis Enrique. Selain dia, eks pelatih Barcelona itu juga memanggil Pedri (Barcelona), Roberto Sanchez (Brighton), dan Pedro Porro (Sporting CP). Pedri juga memperoleh debut pada dini hari tadi.

Pemanggilan tersebut mungkin lumrah bagi Pedri yang diandalkan Blaugrana sejak awal musim. Namun bagi tiga nama lain, panggilan itu lebih tak disangka-sangka. Bryan sendiri amat emosional ketika menerima kabar dari tim nasional. Setelah tahu bahwa Enrique akhirnya memberinya kesempatan, ia menangis haru di kompleks latihan Eibar.

Mimpinya bermain untuk timnas menjadi kenyataan. Bryan pun harus mempertahankan konsistensi performa agar dia dilibatkan di Euro mendatang. “Saya tidak bisa mengontrol emosi. Ini [masuk timnas] adalah target yang saya usung bersama kakek saya. Saya mendedikasikan ini untuknya,” kata Bryan.

Bryan Gil lahir di Cadiz, Andalusia pada 11 Februari 2001. Saat masih kecil, Bryan berlatih di tim lokal, Barbate CF sebelum direkrut klub terbesar Andalusia, Sevilla. Ia belajar di akademi Los Nervionenses dan memperoleh debut tim senior pada 16 Januari 2019.

Sebelum dipinjamkan ke Eibar, ia telah bermain 21 kali untuk Sevilla. Namun, dari jumlah pertandingan itu, total menit bermain Bryan hanya 458 menit. Ia hanya sekali menjadi starter untuk anak asuh Julen Lopetegui, yakni ketika bertanding lawan APOEL Nicosia di babak grup Europa League, Desember 2019 silam.



Minim kesempatan bermain membuat Bryan harus menjalani masa peminjaman demi mendapatkan jam terbang. Ia sempat dipinjamkan ke Leganes pada paruh kedua musim lalu. Kiprahnya di Leganes pun tak berlangsung memuaskan. Bryan hanya tampil empat kali sebagai starter dan Los Pepineros terdegradasi di akhir musim.

Ceritanya berbeda di Eibar. Bryan berkembang pesat dan mendapat tantangan berarti saat membela klub asal Basque tersebut. Musim ini, ia telah bermain 20 kali di La Liga, 19 sebagai starter.

Pelatih Eibar, Jose Luis Mendilibar berperan penting dalam perkembangan winger bernomor punggung 25 itu. Mendilibar sendiri adalah pelatih yang disebut turut berjasa dalam perkembangan David Silva menjadi playmaker elite Eropa. Ia membina Silva saat dipinjamkan ke Eibar pada 2004/05.

Di Eibar, Bryan menunjukkan kapasitasnya sebagai winger yang lincah. Staf kepelatihan Eibar berkerja keras meningkatkan kemampuan teknisnya. “Bryan adalah seorang winger sejati, dia punya [kemampuan] satu lawan satu,”kata Mendilibar kepada El Pais.

Bryan biasa diturunkan sebagai winger kiri. Permainan agresifnya diandalkan Los Armeros untuk membuat peluang. Dari sayap kiri, Bryan cakap melakukan progresi ke dekat kotak penalti dan membuka peluang via umpan silang atau terobosan. Pemain berusia 20 tahun tersebut adalah penggawa Eibar yang paling kreatif sejauh ini. Ia mencatatkan umpan kunci (37), umpan ke kotak penalti (40), dan xA (3,9) terbanyak di skuad Eibar.

Pergerakannya ulet dan kerap membuat bek lawan was-was. Selain sebagai kreator serangan, Bryan juga kapabel membuka ruang tembak sendiri. Sisi kanan kotak penalti adalah zona tembak favorit pemain berkaki kidal tersebut.

Namun, Bryan bukanlah winger yang prolifik. Ia baru mencetak tiga gol. Bryan pun baru mencetak dua asis dari nilai harapan asis (xA) mencapai 3,9. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari Eibar yang cenderung bermain defensif dan seret gol. Di La Liga 2020/21, Los Armeros adalah tim dengan catatan gol terendah (22).

Di lain sisi, karakter permainan dan perjuangan Eibar di papan bawah berharga bagi perkembangan Bryan. Berbeda dari Sevilla yang cenderung bermain dominan, Bryan harus menyesuaikan diri dengan permainan direct Eibar. Masa tugas di Eibar mengembangkan kemampuan defensif dan teknik retensi bolanya. Membela tim yang lebih lemah membuatnya harus bijak dalam penguasaan bola dan tak boleh menyia-nyiakan momen serangan balik.

Bryan pun berhasil mengembangkan kegesitan olah bolanya di Eibar. Asisten Mendilibar di Eibar, Andoni Azkargorta menyukai body shape, kemampuan dribel, dan agresivitas Bryan dalam merebut bola. “Di tataran fisik, dia sangat tahan. Mau berusaha keras. Ketika pertandingan telah berlangsung 90 menit, dia masih bisa memenangi adu lari,” kata Azkargorta.

Bryan memang memiliki bakat alami seorang winger. Ia seorang pendribel ulung. Di La Liga 2020/21, Bryan menjadi pemain dengan dribel terbanyak keempat (90) dengan tingkat kesuksesan 58,9%. Ia juga doyan mempermalukan lawan dengan mengolong bola melewati mereka.

Selain itu, Bryan juga melatih kaki lemahnya. Hasilnya terlihat saat Eibar menghadapi Granada, 4 Januari lalu. Bryan mencetak brace dalam laga tersebut, gol keduanya dicetak via kaki kanan. Ia menerima umpan di sisi kanan luar kotak penalti. Bek lawan pun sigap menutup ruang tembaknya di sisi luar sehingga Bryan tak bisa menembak dengan kaki kiri. Bryan kemudian menggiring lebih ke tengah dan melepaskan tembakan kaki kanan yang tak disangka bek lawan. Tembakan itu bersarang tepat di sudut gawang.

Di La Liga 2020/21, Bryan Gil adalah salah satu pemain muda yang paling menarik perhatian. Media Spanyol membandingkannya dengan Johan Cruyff muda. Selain mirip secara fisik, keanggunan Bryan di atas lapangan adalah muasal perbandingan ini.

Mereka pun sama-sama menembus timnas senior di usia muda. Cruyff melakukannya pada usia 19, sedangkan Bryan berumur 20 tahun saat melakoni debut kemarin.

Koordinator pengembangan pemain muda Sevilla, Pablo Blanco yakin bahwa Bryan akan menjadi pemain andalan Spanyol di masa depan. Blanco mengikuti perkembangan Bryan dari jarak dekat sejak dulu. Menurutnya, Bryan selalu menampilkan tanda bahwa ia adalah pemain elite.

“Mereka mengenalnya dengan baik di tim nasional, seperti Pedri. Dia telah melalui semua jenjang tim muda dan menunjukkan capaian seorang pesepakbola elite,” ucap legenda hidup Sevilla tersebut.

Jalan Bryan Gil sendiri masih panjang. Sebelum berpikir masuk skuad Euro atau Piala Dunia, ia masih punya dua pertandingan lagi di jeda internasional kali ini. Spanyol akan menghadapi Georgia dan Kosovo di kualifikasi Qatar 2022. Jika kembali diberi kesempatan oleh Luis Enrique, Bryan tentu harus menunjukkan kepantasannya masuk timnas.

Komentar