Juergen Klopp vs Jose Mourinho: Pertempuran Air dan Minyak

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Juergen Klopp vs Jose Mourinho: Pertempuran Air dan Minyak

Jose Mourinho punya tujuh prinsip dasar menyoal sepakbola. Gagasan tersebut diungkapkannya dalam biografi yang ditulis oleh Diego Torres:

  1. Pertandingan dimenangkan oleh tim yang membuat lebih sedikit kesalahan.
  2. Sepakbola mengunggulkan siapa pun yang memancing lawan membuat kesalahan lebih banyak.
  3. Saat tandang, daripada mencoba lebih superior atas lawan, lebih baik mendorong mereka membuat kesalahan.
  4. Siapa pun yang menguasai bola lebih cenderung membuat kesalahan.
  5. Siapa pun yang menghindari penguasaan bola mengurangi kemungkinan membuat kesalahan.
  6. Siapa pun yang menguasai bola dihinggapi ketakutan.
  7. Siapa pun yang tak menguasai bola dengan demikian adalah pihak yang lebih kuat.

Dengan prinsip itu, Mourinho muncul ke panggung utama sepakbola dan dapat dikatakan sebagai salah satu pelatih terbaik di era modern.

Mourinho mampu bawa FC Porto menjuarai Liga Champions. Secara kasual, ia juga membawa Chelsea memutus dominasi Man United-nya Sir Alex Ferguson. Kedigdayaan La Grande Inter versi modern yang meraih treble pada 2009/10 pun tak bisa diragukan. Di Spanyol, Mourinho menorehkan rekor istimewa saat membawa Real Madrid juara La Liga 2011/12: jumlah kemenangan terbanyak (32), poin terbanyak (100), sekaligus gol terbanyak (121). Barcelona hanya mampu menyamai rekor kemenangan dan poin terbanyak semusim kemudian.

Mourinho meraih empat penghargaan pelatih terbaik dunia di tingkat klub versi IFFHS. Ia meraih 25 trofi sepanjang 20 tahun karier sebagai kepala pelatih. Pencapaian tersebut jelas mengagumkan. Namun, tak sedikit yang mencaci Mourinho meski ia pandai memenangkan pertandingan dan meraih trofi.

Hal tersebut karena Mourinho mengusung sepakbola reaktif yang dianggap “membosankan”. Alih-alih tampil atraktif dan menyerang lawan bertubi-tubi, tim asuhan Mourinho cenderung menahan posisi di area dalam untuk kemudian menyakiti lawan dengan serangan balik mematikan.

Pendekatan semacam itu tentu sah dan valid. Pada saat para pelatih yang memeragakan sepakbola “menghibur” seperti Pep Guardiola, Juergen Klopp, atau Gian Piero Gasperini kian populer dan disukai; Mourinho kukuh dengan prinsip dasarnya. Dan hal itu efektif.

Pemecatan di Chelsea dan Manchester United sering disinggung sebagai landasan argumen habisnya Mourinho. Namun, jangan lupa bahwa ia memenangkan satu titel Premier League dan satu Piala Liga pada periode keduanya di Chelsea. Pada 2017/18, Setan Merah-nya Mourinho juga menjadi satu-satunya tim yang mendekati—meski selisih 19 poin tak bisa dikatakan dekat—The Centurion, Manchester City.

Link streaming pertandingan Premier League: Liverpool vs Tottenham Hotspur

Kini, saat menangani Tottenham Hotspur, Mourinho mempertahankan filosofi yang sama. Tak peduli dengan kritik dan pembencinya, Mourinho masih menjadi jagoan sepakbola reaktif. Baginya, tugas seorang kepala pelatih bukanlah menghibur, tetapi memenangkan pertandingan. Dan ia menunaikan tugas dengan baik, membawa Son Heung-Min dan kawan-kawan memuncaki klasemen Premier League 2020/21.

“Ambisi kami adalah memenangkan setiap pertandingan. Target kami adalah memainkan tiap pertandingan dengan pikiran dan perasaan bahwa kami akan menang. Tak penting kompetisi apa, lawan siapa, saya ingin Tottenham memiliki level kepercayaan diri untuk menjalani tiap pertandingan dengan niat untuk menang,” kata pelatih berusia 57 tahun itu kepada Sky Sports.

Hingga pekan 12, Spurs meraih 25 poin, jumlah yang sama dengan Liverpool. Tottenham untuk sementara unggul selisih gol dari peraih 19 titel Liga Inggris tersebut. Tengah pekan ini, anak asuh Mourinho akan menghadapi The Reds untuk menentukan siapa pemuncak klasemen.

Mourinho akan menghadapi Juergen Klopp, lawan familiar yang ditemuinya sejak menangani Real Madrid. Dua pelatih ini telah bertemu 11 kali di semua kompetisi. Klopp dengan Borussia Dortmund dan Liverpool sedangkan Mourinho bersama Real Madrid, Chelsea, Manchester United, serta Tottenham.

Klopp lebih unggul dengan memenangi lima dari 11 pertemuan itu, dua dengan Dortmund dan tiga bersama Liverpool. Mourinho baru menang dua kali atas Klopp saat menukangi Real Madrid dan Man United. Bersama Spurs, Mourinho baru menghadapi Klopp satu kali, pada 2019/20, dan kalah 0-1.

Laga antara dua pelatih ini selalu menarik disimak dan beberapa kali menghadirkan pertandingan mengesankan. Satu yang paling fenomenal adalah kemenangan 4-1 Dortmund di semifinal Liga Champions 2012/13. Lebih dari itu, pertandingan Klopp vs Mourinho menarik karena membenturkan dua “sekolah” yang berbeda.

Tak seperti Mourinho yang defensif, Klopp berasal dari sekolah sepakbola ofensif yang berlandaskan counter-pressing. Filosofi tersebut diterjemahkan Klopp menjadi heavy metal football yang membawa Dortmund memutus dominasi Bayern Muenchen secara agresif.

Sejak dulu, Klopp tak hentinya menegaskan bahwa ia ingin menghadirkan sepakbola sebagaimana sebuah pertunjukkan. Baginya, sepakbola adalah hiburan dan dengan demikian haruslah atraktif.

“Kami tidak menyelamatkan nyawa, kami tidak menciptakan apa pun, kami hanya bagus di sepakbola. Jika kami tidak menghibur orang, mengapa kita memainkannya?” demikian kalimat masyhur Klopp yang mendefinisikan kepelatihannya.

Meski memenangkan hati banyak orang, atraksi Klopp kadang meminta tumbal tersendiri. Sejak 2012, ia tak mampu membendung Bayern Muenchen hingga akhirnya dipecat Dortmund. Pada tiga musim pertama di Liverpool, heavy metal football-nya tak mampu mendekati Leicester City, Chelsea, dan Manchester City yang menjadi juara liga.

Sejak 2018/19, pendekatan Klopp pun berevolusi. Ia tak lagi meminta pemain menekan lawan sepanjang 90 menit. Lebih awas dalam aspek struktur pertahanan dan meminimalisasi risiko kebobolan. Liverpool-nya Klopp mengembangkan permainan yang lebih sabar dan bijaksana dalam penguasaan bola.

Akan tetapi, bukan berarti permainan Liverpool menjadi kurang atraktif. Sepakbola menyerang dengan elemen dasar counter-pressing dan umpan langsung (direct) masih jadi landasan Klopp. “Kami tidak akan mempertahankan titel [Liga Inggris], kami akan menyerangnya,” begitu kata Klopp sebelum musim bergulir.

Untuk “menyerang” gelar liga, mereka juga perlu menyerang Tottenham Hotspur. Dan The Lilywhites akan sabar menahan serangan The Reds sekaligus memancing kesalahan mereka. Sebaliknya, dengan counter-press yang didukung pemosisian tepat, Liverpool juga mendesak Pierre-Emile Hojbjerg untuk membuat kesalahan.

Dua tim ini memiliki trisula lini serang yang kapabel memanfaatkan setiap celah dan menghukum lawan. Spurs punya Son Heung-Min, Harry Kane, dan Steven Bergwijn. Liverpool punya Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah. Mereka punya dua penyerang sayap paling prolifik di liga (Son & Salah) yang saling berhadap-hadapan di Anfield.

Siapakah yang akan menang? Jika kita bertanya ke Klopp dan Mourinho, barangkali jawabnya adalah tim yang paling sedikit membuat kesalahan.

Liverpool akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur pada Kamis (17/12) pukul 03.00 WIB. Tayangan langsung pertandingan tersebut, semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar