Bayer Leverkusen: Sekadar Rumah Singgah dan Tempat Memupuk Asa

Cerita

by Hendi Abdurahman

Hendi Abdurahman

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bayer Leverkusen: Sekadar Rumah Singgah dan Tempat Memupuk Asa

Adagium bagi para pemain di kompetisi sepakbola Jerman masa kini mungkin seperti ini: Kamu boleh berkembang di klub mana pun, tetapi jika ingin mengangkat trofi domestik atau gelar Eropa, pindahlah ke Bayern Muenchen. Pepatah tersebut bisa sedikit diperluas menjadi: Kamu boleh berkembang di klub mana pun di Liga Jerman, tetapi jika ingin trofi atau daya tarik atau kenaikan gaji namun enggan ke Muenchen, hengkanglah ke liga-liga top Eropa lain.

Pada tiga dekade terakhir, Bayer Leverkusen, klub Jerman yang berdiri pada 1904 itu, merasakan betul bagaimana Muenchen begitu digdaya serta mendominasi sepakbola Jerman. Tak hanya dari sisi prestasi dan reputasi, tetapi juga dalam hal "membajak" para pemain bintang.

Sejak era Bundesliga pada 1963, Muenchen menjelma sebagai klub terbaik dengan gelar juara sebanyak 30 kali. Sejumlah tim mencoba menggoyang Muenchen dengan menjadi juara pada periode itu hingga masa kini, sebut saja di antaranya Borussia Moenchengladbach, Werder Bremen, VfB Stuttgart, hingga Borussia Dortmund.

Di antara tim-tim pengganggu itu, usaha Leverkusen berani diadu. Sialnya, gelar juara seperti tak berpihak. Ungkapan seperti “usaha tak akan mengkhianati hasil” tidak berlaku bagi Leverkusen. Total, Leverkusen telah lima kali jadi runner-up.

Selain itu, sialnya lagi, Muenchen juga lihai menggoda para pemain bintang Leverkusen untuk pindah, tentu saja dengan iming-iming trofi di akhir musim. Sosok seperti Ze Roberto, Lucio, dan yang paling terkenal, Michael Ballack pindah ke Bavaria. Tiga pemain ini berkembang di Leverkusen. Setelah paceklik trofi di die Werkself, sederet trofi mulai dari juara Liga Jerman dan DFB-Pokal sukses mereka raih bersama Muenchen.

Pun, situasi serupa menghinggapi penyerang asal Bulgaria, Dimitar Berbatov. Enam musim memperkuat Leverkusen dengan catatan 202 penampilan, 91 gol, dan 34 asis, ia justru mendapatkan berbagai trofi ketika memutuskan pindah ke Premier League — membela Tottenham Hotsour dan Manchester United. Pencapaian terbaiknya bersama Leverkusen hanya sebatas runner-up Bundesliga 1, DFB Pokal, dan Liga Champions pada musim yang sama, 2001/02.

Nama-nama lain yang bisa jadi merepresentasikan kesialan Leverkusen terlihat dari sosok asal Korea Selatan, Son Heung-min. Di Jerman, khususnya bagi pendukung Leverkusen, ia mulai memberi harapan bahwa seorang Asia yang satu ini bisa menjadi penerus Cha Bum-kun — peraih Piala UEFA (kini Liga Eropa)— untuk setidaknya bertahan lama dan memberikan dampak positif bagi prestasi klub.

Akan tetapi, Leverkusen tak kuasa menolak ketika Tottenham menyodorkan mahar 30 juta euro. Kemudian kita tahu, lampu sorot lebih tajam menerpa Son. Ia semakin dikenal dunia. Dan kini, di bawah arahan Jose Mourinho, kesempatan untuk meraih gelar semakin besar. Duetnya bersama Harry Kane juga kian padu.

Kai Havertz kemudian menyusul untuk pindah ke Chelsea. Leverkusen mendapatkan uang banyak dari penjualannya lantaran dilepas seharga 80 juta euro. Sama halnya dengan Son, bukan tidak mungkin Havertz akan menjadi pemain kunci di Chelsea dan meraih gelar demi gelar.

Perpindahan para pemain yang telah disebutkan seolah menegaskan bahwa Leverkusen adalah rumah singgah sementara bagi para pemain untuk memperoleh apa yang diinginkan — dalam hal ini, trofi.

Teranyar, gelandang Moussa Diaby secara terang-terangan mengatakan bahwa Leverkusen adalah klub "batu loncatan". Menurut pengakuannya, suatu hari, ia bakal bergabung dengan salah satu klub besar, tak terkecuali jika mesti kembali ke klub asalnya, PSG.

“Di klub besar. Namun, ini akan terjadi secara bertahap, selangkah demi selangkah. Saya akan melakukan segala yang saya mampu lakukan untuk sampai ke titik itu. Tetapi saya tahu itu membutuhkan kerja keras,” katanya kepada L’Equipe ketika ditanyai mengenai masa depannya tiga atau empat tahun mendatang.

“Saya tidak menyesali keputusan saya. Saya ingin pergi untuk mendapatkan lebih banyak waktu bermain, untuk dapat mengekspresikan diri dan menjadi pemain hebat. Kembali sebagai pemain kawakan selalu ada di benak saya. Saya berkata pada diri sendiri, ‘Mengapa tidak?’,” paparnya.

Harapan, Harapan, dan Hanya Harapan

“Anda tidak selalu memperoleh imbalan yang layak didapatkan dalam sepakbola. Namun, yang pasti adalah, bahwa mereka tidak pantas mengalami hal-hal yang berakhir seperti ini. Klub mengalami trauma hingga ke tulang,” kata Klaus Toppmoeller, pelatih Bayer Leverkusen mengomentari kegagalan pada musim 2001/02.

Musim 2001/02 adalah musim yang menyedihkan bagi Leverkusen. Mereka gagal di tiga kompetisi padahal kesempatan untuk meraih treble winners sangat besar. Di dua partai puncak, masing-masing di ajang DFB-Pokal (lawan Schalke) dan Liga Champions (lawan Real Madrid), Leverkusen takluk. Sementara di Bundesliga 1, die Werkself yang hanya membutuhkan hasil seri di partai pemungkas, justru menderita kekalahan sehingga ditikung Borussia Dortmund yang berhak atas gelar juara.

Atas "nyaris" yang ditorehkan Leverkusen, sejumlah pihak pun menyematkan julukan yang tidak mengenakkan untuk didengar para suporter: Bayer Neverkusen. Setelah itu, pemain serta pelatih datang dan pergi. Namun, sejauh ini, tak ada yang benar-benar bisa dibanggakan dari Leverkusen selain trofi Piala UEFA 1987/88 dan DFB-Pokal 1992/93.

Semakin besar harapan yang ditawarkan, Leverkusen justru semakin terjerumus. Apa yang diucapkan Toppmoeller mengenai trauma yang didapat klub lantaran kegagalan tiga final dalam satu musim semakin menegaskan bahwa tingginya harapan bisa membikin jatuh teramat sakit.

Dalam konteks Leverkusen, harapan yang diusung kembali terlihat pada musim ini. Kedatangan Peter Bosz sebagai kepala pelatih menawarkan itu.

“Dia memiliki kemampuan penting untuk mengembangkan tim secara berkelanjutan,” ucap Direktur Olahraga Leverkusen, Rudi Voeller. "Pendekatan permainan Peter Bosz sangat cocok dengan kami karena Leverkusen telah memainkan sepakbola agresif bertempo tinggi dengan rasa gembira selama bertahun-tahun,” lanjutnya.

Pelatih berkebangsaan Belanda itu pun berujar dirinya akan menciptakan kondisi agar terus membuat kemajuan bersama Leverkusen. Apa yang ditawarkan Bosz sebagaimana diungkapkan Rudi Voeller terlihat di Bundesliga 1 2020/21. Hingga Spieltag 8, Leverkusen menjadi satu di antara dua tim (bersama Wolfsburg) yang belum terkalahkan. Harapan untuk bersaing di papan atas pun membuncah.

Lucas Alario menjadi perbincangan, hampir setengah gol yang dilesakkan Leverkusen di Bundesliga musim ini berasal dari penyerang asal Argentina tersebut.

Dengan sejarah panjang yang melekat pada Leverkusen, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Alario pada musim-musim mendatang jika performa impresifnya terus terjaga. Ia bisa saja bertahan, tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjelma menjadi Ballack, Son, atau Harvetz, yang pindah klub untuk meraih trofi.

Apalagi, sejauh ini, Leverkusen juga tidak memiliki keseriusan untuk mempertahankan tiap bintang yang dimilikinya. Dan jika terjadi, Leverkusen memang layak disebut sebagai klub yang ramah bagi para pemain yang ingin singgah, sekaligus tempat yang nyaman untuk memupuk asa.

Bayer Leverkusen berlaga di Bundesliga 1 2020/21. Seluruh pertandingan die Werkself dapat Anda saksikan di Mola TV. Klik di sini untuk menyaksikan seluruh tayangan langsung pertandingan Leverkusen, juga tayangan ulang dan highlights pertandingan-pertandingannya.

Komentar